Pemerintah Janjikan Optimalisasi Energi Alternatif

Jumat, 28/11/2014

NERACA

Jakarta – Pemerintah berjanji kalau kebijakan energi ke depan akan lebih mengedepankan optimalisasienergi alternatif. Langkah ini untuk menjamin terjaganya secara simultan keberlanjutan (sustainability) energi, lingkungan dan anggaran atau fiskal (APBN).

“Tidak hanya akan berdampak positif terhadap lingkungan karena zero emission,energi alternatifjuga akan mengurangi beban fiskal,” kata Menteri Keuangan Bambang Brojonegoro di Jakarta, Kamis (27/11).

Menurut Bambang, tantangan ke depan antara lain adalah menjaga sustainable fiscal untuk mencapai target pembangunan ekonomi seperti pengentasan kemiskinan. Salah satu caranya adalah mengurangi beban subsidi untuk energi dengan menggunakan sumber alternatif seperti gas alam. “Harga gas alam lebih murah, tidak perlu subsidi seperti premium sehingga tidak memberatkan fiskal,” ujarnya.

Untuk mengurangi angka kemiskinan yang kini masih mencapai sekitar 11 persen, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi tinggi. Untuk mencapai itu, investasi pemerintah di berbagai bidang infrastruktur harus dipacu dan ini membutuhkan dukungan fiskal yang kuat dan berkelanjutan.

Tujuan itu bisa tercapai jika anggaran subsidi energi untuk BBM bisa terus dikurangi antara lain dengan mendorong penggunaan energi alteranatif seperti gas alam. Penggunaan gas alam, lanjut Bambang, tidak hanya menguntungkan dari sisi beban fiskal tapi juga mengguntungkan pihak lain seperti Pertamina. “Pertamina juga akan mendapat keuntungan,” ucapnya.

Di samping gas alam, pemerintah juga akan mendorong sumber energi alternatif lainnya seperti biodiesel. Saat ini, penggunaan bio fuel dari CPO dalam bentuk bio diesel baru 10 persen, dan dimasa datang akan ditingkatkan. “Produsen CPO sebetulnya menginginkan penggunaan bio fuel dalam bio diesel bisa mencapai 20 persen sehingga pasar mereka bisa lebih besar,” tutur Bambang.

Senada dengan Bambang, President of Indonesian Counterpart for Energy and Environmental Studies (ICESS) Herman Darnel Ibrahim mengatakan, Indonesia memang membutuhkan optimalisasi penggunaan energi alternatif dengan mempertimbangkan technical cost yang murah seperti penggunaan gas.

Dalam memilih energi alternatif pilihannya harus berdasarkan technical cost yang lebih rendah dalam mengolah sumber energi menjadi energi. “Gas salah satu pilihan karena Indonesia mempunyai cadangan yang besar,” ucapnya.

Sementara menurut pengamat ekonomi Hendri Saparini mengatakan, seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang meningkat, maka permintaan akan bahan bakar minyak (BBM) juga akan naik.

Menurut Hendri, jika tidak ada perubahan kuota BBM bersubsidi, dan tidak ada pembangunan misalnya di sektor transportasi publik pada 2015, maka pemerintah akan kesulitan memenuhi permintaan.

Konsekuensinya, tambahnya, harus ada sumber energi lain misalnya pengembangan gas dan biodiesel. Namun, jika tidak ada alternatif, kemungkinan akan dialihkan melalui kenaikan harga BBM atau pemakaian BBM nonsubsidi. "Tetapi apakah dengan adanya kenaikan harga BBM masyarakat bisa dijamin beralih ke BBM nonsubsidi, atau cukup dengan pembatasn?, itu yang seharusnya dipikirkan," tuturnya. [agus]