Indonesia Dihantui Krisis Pangan

Minat Menjadi Petani Turun

Jumat, 28/11/2014

NERACA

Jakarta - Indonesia akan mengalami puncak bonus demografi pada 2030 mendatang, dengan usia produktif jauh lebih banyak dibandingkan yang tidak produktif. Harusnya kondisi ini memberikan keuntungan untuk negara. Tapi bila tidak dipersiapkan dengan matang, maka justru bisa menjadi masalah baru. Karena apa, selama ini minat generasi muda untuk menjadi petani menurun, ini akan mengakibatkan Indonesia bakal mengalami krisis pangan.

Bustanul Arifin, Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung, menyebutkan masalah ini akan muncul dari sektor pertanian. Seiring dengan tren penurunan jumlah petani sejak 10 tahun terakhir.

"Kalau jumlah petani terus berkurang dan mereka terus ke kota, yang akan memproduksi pangan siapa? Bagaimana kita makan, ini bisa berpotensi kita masuk krisis pangan," katanya di, Jakarta, Kamis (27/11).

Manusia usia produktif, lanjut Bustanul, membutuhkan banyak asupan pangan. Tidak hanya sebagai kebutuhan pokok, tapi juga gaya hidup. Sehingga harus ada kepastian ketersediaan pasokan pangan dengan cukup. "Masa semuanya mau dipenuhi dari impor? Kan tidak mungkin," tegas Bustanul.

Masalah diperkirakan semakin pelik pada 2050, saat manusia usia produktif di Indonesia menginjak masa tua. Menurut Bustanul, pangan yang dibutuhkan bisa dua kali lipat dari sebelumnya.

"Orang lansia hidupnya harus ditanggung. Kebutuhan pangannya akan jauh lebih besar dari saat produktif. Tidak cuma kuantitas tapi kualitas pangannya juga. Sehingga harus dipersiapkan," paparnya.

Masalahnya sekarang, kata Bustanul, banyak yang tidak tertarik menjadi petani karena pendapatannya rendah. BPS mencatat rata-rata penghasilannya Rp 1 juta/bulan. "Ini yang harus segera diubah. Bagaimana membuat sektor pertanian kembali menarik," sebutnya.’

Sementara itu, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan terjadi penurunan jumlah petani sebanyak 5 juta orang dalam sepuluh tahun terakhir. “Banyak petani yang beralih pekerjaan ke sektor informal dan formal seperti bekerja di industri dan transportasi,” kata Kepala BPS Suryamin.

Menurut dia, penurunan itu sebagian besar berasal dari para “petani gurem” yang memiliki luas lahan kurang dari setengah hektare sehingga panen yang dihasilkan tidak cukup memadai untuk dipakai dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari dan modal penanaman berikutnya. “Kebanyakan dari mereka adalah petani yang nombok (merugi). Setelah nombok mereka berpikir untuk beralih pekerjaan,” katanya.

Kepala BPS mengatakan kebanyakan petani yang pindah itu adalah para buruh yang biasa menyiram, menyiangi dan memberi pupuk pada tanaman. Dengan kata lain bukan para pemilik atau pengolah lahan.

Terdapat harapan dari para petani itu untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik dengan meninggalkan ladang. “Banyak yang pindah dan beralih profesi di sektor informal dan formal, seperti bekerja di industri dan transportasi. Kalaupun pindah baiknya mereka ke sektor formal agar taraf hidupnya naik,” ujarnya.

Selain itu, terdapat juga para petani yang beralih ke sektor pariwisata, jasa serta penambangan.

Sementara itu, BPS merilis data sekitar 28,28 juta orang miskin Indonesia yang didominasi oleh para pekerja di sektor pertanian sebanyak 80-90 persen. [agus]