Industri Kreatif Butuh Keberpihakan Pemerintah - Hari Santosa Sungkari, Commisioner of Mitra Mandiri Informatika

Industri kreatif Indonesia tidak akan mampu berkembang dan bersaing tanpa keberpihakan dari pemerintah. Untuk itu diharapkan pada era pemerintahan baru ini, pemerintah lebih berpihak kepada indutri kreatif.

NERACA

Negara macam China saja turut memproteksi industri kreatif mereka. Alhasil mereka mampu menghadirkan produk unggulan untuk kemudian di ekspor ke luar negeri. Sementara di Indonesia tidaklah demikian, dukungan pemerintah masih sangat minim.

“Yang dibutuhkan industri kreatif itu kan keberpihakan pemerintah, bukan untuk memanjakan yah. Teapi keberpihakan dilakukan agar mereka (industri kretif) mampu memberikan added value dan bersaing dengan produk-produk lainnya,” jelas Hari.

Dengan kata lain, kini saatnya Indonesia mendapatkan keuntungan dari sumber daya intelektual, bukan lagi dari sumber daya alam. Karena kalau mengandalkan sumber daya alam suatu saat sumber daya alam tersebut akan habis. Sementara kalau sumber daya intelektual tidak akan habis selagi masih ada manusia.

“Negara yang maju saja selalu melakukan inovasi, bukan sekedar ambil sumber daya alam. Atau setidaknya mereka member added value terhadap sumber daya alam mereka, kalau Indonesia kan mengekspor barang mentah dan mengimpor barang jadi, ekspor kayu impor furniture, dan masih banyak lagi yang lainnya,” kata dia lugas.

Karenanya, Indonesia dengan 250 juta jiwa diisi oleh kalangan usia produktif. Sangat disayangkan kalau hanya menjadi penonton saja akibat tidak mendapat dukungan dari pemerintah. Terlebih di dunia IT, utamanya pengembangan softwere.

Penduduk Indonesia sebetulnya, dikatakan Hari mempunyai kualiats mumpuni. Tetapi karena tidak mendapat dukungan pemerintah mereka malah lari ke Negara lain yang lebih mengapresiasi mereka. Makanya jangan heran kalau IT asal Indonesia manjadi incaran negara lainnya.

“Ada seoarng kawan IT yang berkarir di luar negeri mengatakan ke saya kalau mereka sebetulnya tidak senang bekerja di luar negeri. Tetapi karena mereka tidak dihargai mereka enggan kembali ke Indonesia,” kata dia mengingatkan.

Hanya saja, kata Hari, dibalik talenta anak bangsa yang mumpuni ini. Ssitem kerja yang dibangun tidaklah bagus. Alhasil para talenta ini tak ubahnya seorang seniman yang menikmati sendiri karya mereka.

“Jeleknya masyarakat kita, kalau sendiri bagus tapi kalau bergabung dengan perusahaan tidak bisa menyesuaikan diri. Karena sistem kerjanya masih tak ubahnya seniman, belum masuk ke sistem industrialiasai,” tegas bapak dua anak ini.

Akibatnya kita pun tertinggal dengan negara tetangga. Padahal, mereka saja dulunya belajar di Indonesia. Satu solusi dari Hari, adalah dengan mengubah kultur masyarakat Indonesia. Meski sulit, bukan tidak mungkin itu dilakukan. Karena semua bisa diubah dengan leadership yang kuat.

“Kalau leader-nya tidak disiplin susah. Apalagi masyarakat kita senang mencontoh. Maka harus dicontohkan para pemimpin,” kata dia.

Sementara itu, perkembangan dunia IT sangat besar. Dulu IT hanya di pakai oleh perusahaan pemerintah, lalu kalangan swasta mulai masuk di era 1980-an utamanya sektor perbankan. Setelah itu tak lagi korporasi, saat ini sektor konsumer juga sudah pakai. Apalagi dengan hadirnya mobile phone di tahun 1990-an, perkembangan IT sangat cepat hingga kini ada teknologi 4G.

“Tahun 70-an paling baru Garuda saja yang menggunakan IT, tapi kini pedagang di Tanahabang dan Cipulir pun sudah menggunakan website. Walaupun secara transaski mereka masih menggunakan sms. Tetapi, intinya itu menunjukan perkembangan IT yang luar biasa,” sebut dia.

Banting Stir Karir

Awalnya Hari adalah penggila seni bangunan. Makanya dia mengambil pendidikan arsitektur di ITB. Tetapi berjalannya waktu, diapun melihat peluang bisnis di sektor IT sangat besar. Makanya meskipun lulusan arsitek, dia lebih memilih mengembangkan karir di bidang IT.

“Sudah lama saya tidak berkecimpung di arsitektur, paling ya untuk mendesain rumah saya sendiri saja atau rumah orangtua. Selebihnya sudah tidak lagi. Kenapa? Karena saya merasa tertantang akan perkembangan IT yang begitu dinamis,” kenang dia.

Karirnya di dunia IT dimulai Hari di perusahaan penyedia softwere dan hardwere IBM di tahun 1984. 10 tahun berkarir di perusahaan itu membuatnya makin cinta dengan dunia IT. Walhasil dia terus menempa diri agar menguasai IT.

“Waktu di IBM saya berkarir sebagai programmer, lalu konsultan, hingga akhirnya saya putuskan untuk keluar setelah 10 tahun lamanya bergabung dengan IBM,” kata dia.

Usut punya usut, kisah keluarnya Hari dari perusahaan besar itu dikarenakan dia ingin membuka usaha baru bersama salah seoarang temannya masih di sektor IT. Waktu awal berdiri, perusahaannya hanaya sebagai reseller saja, tetapi lambat laun mereka mampu memproduksi sebuah produk untuk di jual.

“Awalnya, kita hanya reseller saja, tetapi tahun 2006 kita punya produk sendiri, dan untungnya diterima masyarakat,” tegas dia.

Related posts