Pemulihan vs Fundamental Ekonomi

Sejumlah indikator ekonomi nasional hingga minggu pertama kuartal II-2014 menunjukkan perkembangan yang positif di tengah tertekannya ekonomi sejumlah negara berkembang setelah terjadi penguatan terjadi di negara maju seperti AS. Neraca perdagangan Indonesia pada September 2014 mencatatkan surplus cukup besar.

Surplus ini memberi kekuatan perbaikan neraca transaksi berjalan dan neraca modal. Surplus neraca perdagangan tersebut juga telah mendorong peningkatan cadangan devisa dan penguatan nilai tukar rupiah. Cadangan devisa hingga akhir Oktober 2014 sebesar US$112 miliar atau setara dengan 5-6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Tekanan nilai tukar rupiah juga terlihat agak menurun, meski masih di kisaran Rp 12.000 per US$.

Terkait dengan kinerja ekonomi tersebut, pemerintah terus melakukan respon cepat untuk mengatasi potensi risiko pasca kenaikan harga BBM bersubsidi melalui sejumlah kebijakan khususnya untuk menjaga daya beli masyarakat, pengendalian inflasi dan memastikan fundamental ekonomi tetap kokoh.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini ke level 3,1% dari proyeksi sebelumnya dan 3,3%. Pemangkasan ini mengisyaratkan perlambatan di sejumlah negara berkembang termasuk Indonesia, juga masalah berkepanjangan zona Euro untuk menyelamatkan diri dari konraksi terlama di Eropa sejak zaman Perang Dunia II. Pertumbuhan ekonomi negara-negara maju diperkirakan hanya mencapai level 2,2% pada 2014.

Penguatan ekonomi di negara maju diperkirakan awal 2015 tentunya berdampak pada sebagian besar negara berkembang diselimuti tekanan eksternal yang menggerus nilai tukar mata uang dan risiko inflasi. Pelemahan nilai tukar mata uang negara berkembang dipicu oleh capital outflow dan menguatnya mata uang sejumlah negara maju. Capital outflows yang disertai dengan volatilitas harga komoditas dunia menstimuli inflasi yang tinggi dan menghadirkan cost of fund yang tinggi pula pada industri keuangan. Kondisi ini diperburuk oleh perubahan cuaca ekstrem yang menganggu produksi dan menyebakan kelangkaan komoditas di pasar dunia.

Bagi Indonesia, meski sinyal pemulihan negara-negara maju yang dipandang dapat menjadi katalisator pertumbuhan global tahun ini, beberapa catatan masih perlu untuk terus diperhatikan. Pertama, diskursus terkait kenaikan pagu utang AS. Kedua, perbaikan output manufaktur belum mampu memperbaiki kinerja ekspor AS di akir 2014. Defisit neraca perdagangan AS bulan Desember 2014 diperkirakan mencapai US$48,7 miliar.

Situasi di atas tentunya menghadirkan paradoks pemulihan global. Di satu sisi, ekonomi global menunjukkan sinyal pemulihan yang ditopang oleh negara-negara maju. Di sisi lain penguatan ekonomi negara maju memberi tekanan bagi ekonomi negara berkembang khsusunya dengan struktur ekonomi yang rentan.

Sementara itu pasar negara-maju terbesar saat ini adalah kawasan Asia yang sebagian besar adalah kumpulan negara-negara berkembang. Sehingga penguatan ekonomi negara maju hanya akan berdampak posisitf terhadap perekonomian dunia jika ekonomi negara-negara berkembang juga menunjukkan arah yang sama.

Karena itu, pemerintahan Jokowi-JK perlu terus memperkokoh fundamental ekonomi nasional dengan mengedepankan strategi pertumbuhan yang berkualitas melalui keep buying policy, dan mendorong sektor investasi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional di samping melakukan reformasi birokrasi pelayanan perizinan sehingga membuat kondusif iklim investasi di negeri ini. Semoga!

Related posts