BUMI Manfaatkan Restrukturisasi Utang - Deadline Hingga Enam Bulan

NERACA

Jakarta – Ditengah himpitan kinerja keuangan yang anjlok dan beban utang yang besar, akhirnya PT Bumi Resources Tbk (BUMI) bisa bernafas lega lantaran Pengadilan Singapura mengabulkan restrukturisasi utang tiga anak perusahaan PT Bumi Resources Tbk di Singapura.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava mengatakan, ketiga anak perusahaan perseroan tersebut telah mengajukan permohonan di Singapura untuk mengikuti proses peradilan formal berdasarkan Section 210 (10) Undang-Undang Perusahaan dari Singapura sebagai upaya merestrukturisasi kewajiban utangnya.

Sebagai langkah awal dalam proses pengadilan berdasarkan Section 210 (10), ketiga anak peseroan di Singapura kemarin telah mengajukan permohonan dan berhasil memperoleh penundaan kewajiban pembayaran utang (moratorium) selama enam bulan terhadap upaya hukum dan paksa yang bisa dilakukan kreditor.

Dia menjelaskan, hal itu dilakukan dalam rangka memfasilitasi pembicaraan dengan para pemegang surat utang (noteholders) dan pemegang obligasi (bondholders) dalam rangka melanjutkan upaya restrukturisasi. Perseroan akan menyampaikan perkembangan permasalahan ini setelah mendapat informasi lebih lanjut.

Adapun ketiga anak perusahaan BUMI itu, yakni Bumi Capital Pte Ltd sebagai penerbit surat berharga bergaransi (Guaranted Senior Secured Notes) senilai US$ 300 juta dengan kupon 12%, Bumi Investment Pte Lte yang menerbitkan Guaranted Senior Secured Notes senilai US$ 700 juta berkupon 10,75%.

Sementara Enecoal Resources Pte Ltd yang menerbitkan Obligasi Konversi Bergaransi (Guaranted Convertible Bonds) senilai US$ 375 juta, dengan kupon sebesar 9,25%. Asal tahu saja, PT Bumi Reources Tbk gagal membayar kupon obligasi valas yang seharusnya dilakukan pada 12 Mei 2014. Perseroan memiliki waktu tenggang hingga 11 Juni 2014. Obligasi itu diterbitkan melalui anak usaha perseroan Bumi Capital Pte Ltd dan jatuh tempo pada 2016. Nilai obligasi yang diterbitkan anak usaha BUMI itu sebesar US$ 300 juta.

Citra buruk yang dilakukan manajemen BUMI akhirnya menuai hasil yang merugikan bagi investor pemegang saham. Maka tidak mau mengambil risiko lebih besar, pemegang saham mulai melepas saham BUMI. Tercatat per Oktober 2014, kepemilikan modal asing di saham perseroan turun 398.942.500 lembar atau setara 43,92%. Penurunan tersebut jika dibandingkan dengan data September 2014 yang tercatat sebesar 16.485.281.379 lembar atau setara 31,12%.

Begitu juga dengan kepemilikan pemodal lokal yang turun 15.946.207.073 lembar. Data September 2014, pemodal lokal perseroan tercatat sebanyak 36.486.888.621 lembar, sementara per Oktober 2014 tercatat sebesar 20.540.681.548 atau setara 56,08%. Analis pasar modal dari PT Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe pernah bilang, kepercayaan investor terhadap perusahaan BUMI sudah hilang. Hal tersebut tercermin dari minimnya dukungan pemegang saham atas rencana perseroan yang bakal menerbitan saham baru atau rights issue,”Banyak faktor yang bikin saham BUMI tidak laku. Investor mulai kehilangan kepercayaan sama BUMI, kinerjanya masih belum membaik, laporan keuangannya selalu bermasalah,"ujarnya. (bani)

Related posts