Industri Alumunium Butuh Listrik Murah

NERACA

Jakarta – Industri alumunium yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Alumunium Indonesia (Aplindo) berharap agar pemerintah bisa menyediakan sambungan listrik yang berdaya besar dan murah. Menurut Ketua Umum Aplindo Achmad Safiun, saat ini kebutuhan alumunium cukup besar, akan tetapi produksi dalam negeri masih rendah sehingga kebutuhan tersebut masih dipasok oleh impor alumunium. “Saat ini produksi aluminium di Indonesia masih rendah yakni sekitar 250 ribu ton per tahun. Padahal, kebutuhan aluminium dalam negeri mencapai 800 ribu ton, sehingga sampai saat ini impor masih belum terbendung,” ungkap Safiun di Jakarta, Rabu (26/11).

Ia mengatakan bahwa kedepannya permintaan akan alumunium akan meningkat. Bahkan, pihaknya memperkirakan pada 2025 kebutuhan aluminium di Tanah Air bisa mencapai 2,2 juta ton per tahun. Dia mengatakan, produktivitas aluminium dalam negeri bisa melimpah apabila didukung oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang memadai dan memiliki harga murah. “Sekitar 48 persen harga aluminium adalah energi, sehingga energinya harus murah, apabila menggunakan energi batu bara atau gas alam, industri aluminium kita gak bisa compete,” ujar Safiun.

Oleh sebab itu, menurut Saifuni, industri aluminium sangat bergantung pada proyek dari PLN sebagai penyedia infrastruktur energi. Apabila pemerintah dan PLN mampu menyediakan sumber energi yang murah, Saifuni yakin pertumbuhan industri aluminium akan mampu mengurangi defisit produksi. Idealnya satu ton produksi aluminium membutuhkan energi sebesar 14 MW per jam.

Menurut Safiun, Indonesia sebetulnya memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar terutama PLTA. Akan tetapi infrastruktur dan aliran energi listrik belum dibangun dengan baik sehingga menghambat produktivitas industri aluminium. “Sekarang, hal yang perlu dipikirkan adalah melakukan investasi untuk membangun infrastruktur yang memadai,” ujar Safiun.

Safiun menambahkan, apabila Indonesia memiliki sumber energi yang murah maka akan mudah untuk menarik investor. Sejauh ini PLTA merupakan salah satu sumber energi yang cukup murah untuk industri. Pembangunan satu megawatt energi listrik membutuhkan biaya sekitar US$15 juta. Potensi sumber energi air paling banyak terdapat di wilayah Indonesia timur. Safiun mengatakan, dia telah mempromosikan kepada sejumlah investor untuk berinvestasi di sekitar Indonesia timur, namun mereka tidak tertarik karena belum ada infrastruktur dan sumber energi yang memadai.

Hadapi MEA

Memasang target pertumbuhan produksi 15% di tahun depan, Saifuni yakin industri aluminium Indonesia akan mendominasi pasar bebas Asean (MEA) di 2015. Pasalnya menurut Saifuni, negara Asean yang baru memiliki pabrik logam dasar terbesar hanyalah Indonesia. “Jadi keuntungannya buat Indonesia, jadi bisa menetapkan harga sesuai keinginan kita, atau dengan bahasa lainnya monopoli,” ujarnya.

MEA juga dinilai akan menguntungkan bagi industri aluminium terlebih lagi, lanjut Saifuni, pemerintah Indonesia mulai menerapkan aturan pembangunan smelter di dalam negeri guna meningkatkan nilai tambah bagi dalam negeri. Namun, memurnikan dan mengolah bahan mineral melalui smelter membutuhkan modal yang besar, sumber daya manusia yang berkompetensi oleh sebab itu dibutuhkan nilai investasi yang besar guna meningkatkan daya saing Indonesia di Pasar bebas Asean itu.

“Untuk itu dibutuhkan seperangkat regulasi Pemerintah yang jelas dan diterbitkan segera agar ada kepastian berusaha dan investor mau menanamkan modalnya dibidang pemurnian dan pengolahan bahan mineral,” ujarnya.

Sebelumnya Asosiasi Metalurgi dan Mineral Indonesia (AMMI) meminta pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk segera menerapkan kebijakan yang mewajibkan pengolahan dan pemurnian bijih mineral di dalam negeri. Hal itu dinilai mampu menekan eksploitasi dan ekspor hasil tambang mentah secara berlebihan.

Ketua Umum AMMI Ryad Chairil mencontohkan sumberdaya bijih aluminium yang dimiliki Indonesia seperti di Pulau Bintan, Kota Pinang, dan Bangka-Belitung yang langsung diekspor mentah-mentah tanpa mampu memberi nilai tambah bagi nilai produksi dalam negeri. “Selama ini bijih aluminium di tambang dan bijihnya langsung diekspor tanpa diolah terlebih dahulu,” ujar Ryad beberapa waktu lalu.

Padahal menurutnya, aluminium digunakan untuk menyambung komponen listrik dalam semua produk elektronik. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan total kebutuhan aluminium nasional sebesar 857.599 ton per tahun namun ironisnya sekitar 80-100 persen kebutuhan bahan baku aluminium ingot untuk industri nasional dipenuhi dari impor.

Ryad mengaskan, andaikan bauksit yang selama ini di ekspor Indonesia bisa dimanfaatkan untuk diolah dan dimurnikan di dalam negeri menjadi aluminium ingot. "Kalau itu diterapkan maka dipastikan industri aluminium nasional termasuk industri logam dan manufaktur akan berkembang pesat," ujarnya.

BERITA TERKAIT

YLKI: Penyederhanaan Listrik Bebani Konsumen

NERACA Jakarta - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai rencana kebijakan Kementerian ESDM yang akan menyederhanakan sistem tarif listrik dengan…

Penggolongan Tarif Listrik Perlu Hati-hati

NERACA Jakarta – Kementerian ESDM menjelaskan rencana penyederhanaan golongan pelanggan listrik rumah tangga nonsubsidi, yang sampai saat ini masih dalam…

Meningkatkan Daya Saing SDM Industri Dengan Program Vokasi

NERACA Kediri - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan lemahnya daya saing industri dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah Sumber Daya…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Meningkatkan Daya Saing SDM Industri Dengan Program Vokasi

NERACA Kediri - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan lemahnya daya saing industri dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah Sumber Daya…

Wilayah Jawa Tengah - KKP Beri Bantuan Alat Tangkap Ramah Lingkungan

NERACA Pekalongan - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) kembali menyalurkan bantuan alat penangkapan ikan…

Korea Nilai Indonesia Mitra Penting di Sektor Industri

NERACA Jakarta – Pemerintah Korea Selatan menyatakan bahwa penguatan kerja sama dengan Indonesia pada saat ini menjadi penting. Salah satu…