Salim Invomas Raih Pinjaman Rp 800 Miliar

Kamis, 27/11/2014

NERACA

Jakarta – PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) bakal mendapatkan pinjaman sebesar Rp 800 miliar dari perusahaan terafiliasinya, Indofood Agri Resources Ltd (IndoAgri). Perusahaan terintegrasi di sektor agribisnis itu menandatangani perjanjian pinjaman pada 24 November 2014.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, manajemen Salim Ivomas mengungkapkan, jangka waktu pinaman teresbut adalah selama 36 bulan sejak tanggal penarikan pertama dilakukan. Disebutkan, pinjaman diberikan tanpa ada jaminan aset maupun jaminan perusahaan dari pihak manapun.

Rencananya, dana pinjaman digunakan untuk melunasi obligasi Salim Ivomas Pratama I yang diterbitkan pada 2009 sebesar Rp 452 miliar dan utang pokok obligasi sukuk Salim Ivomas Pratama I 2009 dengan pokok obligasi sebesar Rp 278 miliar. Sisanya, akan digunakan untuk modal kerja.

Dengan menggunakan pinjaman sebagai modal kerja, maka dana internal perusahaan yang masih terafiliasi dengan Indofood group untuk membiayai belanja modal (capital expenditure/capex) tahun depan tidak akan terganggu. Manajemen Salim Ivomas mengungkapkan alasan transaksi pinjaman dengan IndoAgri karena biaya pinjaman dari lembaga keuangan perbankan maupun pembiayaan melalui penerbitan obligasi relatif lebih tinggi.

Sebelumnya, perseroan memperpanjang utang jatuh temponya sebesar Rp 1,65 triliun dari PT Bank DBS Indonesia. Utang tersebut telah jatuh tempo pada 1 September lalu. Namun, SIMP memperoleh perpanjangan tenor uncommitted credit facility tersebut hingga 9 November.

Pinjaman ini diberikan ke SIMP dan anak usahanya PT Lajuperdana. Sekedar informasi, Lajuperdana merupakan perusahaan perkebunan tebu dan pabrik gula terpadu. Adapun, SIMP memegang porsi kepemilikan 60% di situ.

Nah, utang SIMP ke DBS ini terdiri dari 3 macam pinjaman. Pertama, yakni utang senilai Rp 250 miliar yang diberikan kepada SIMP. Kedua, pinjaman Rp 700 miliar dikucurkan ke Lajuperdana. Dari jumlah tersebut, Lajuperdana telah menggunakan Rp 520,38 miliar. Ketiga, Lajuperdana juga meraih Rp 700 miliar yang sudah dipakai Rp 159,71 miliar.

Pada semester pertama, SIMP memiliki pinjaman jangka pendek sejumlah Rp 4,54 triliun. Selain dari DBS, SIMP juga mencatat utang Rp 1,25 triliun dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), Rp 300 miliar dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan US$ 20 juta dari PT Bank Rabobank International Indonesia.

Kemudian untuk entitas anak, SIMP mencatat utang Rp 700 miliar dari BBCA, US$ 16 juta dari Rabobank, serta Rp 100 miliar dari Hongkong Shanghai Banking Corporation Limited Jakarta. Lebih lanjut, ada pula US$ 100 juta dari Sumitomo Mitsui Banking Corporation Singapura dan US$ 35 juta dari Citibank Jakarta.

Pinjaman tersebut memiliki kisaran suku bunga 8% sampai 10,95% untuk mata uang Rupiah. Sedangkan untuk mata uang Dollar, suku bunganya antara 1,69% hingga 5%. Pada paruh pertama tahun ini, PT Salim Ivomas Pratama Tbk berhasil untuk meningkatkan laba sebesar 361,47% atau menjadi sebesar Rp 497,62 miliar. Disamping itu, perseroan juga mencatatkan pertumbuhan penjualan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 6.45 triliun menjadi sebesar Rp 7,17 triliun.(bani)