Semen Baturaja Lirik Bisnis Beton Pracetak

Manfaatkan Sinergi BUMN

Kamis, 27/11/2014

NERACA

Jakarta – Mengikuti kesuksesan bisnis beton yang sudah digarap BUMN konstruksi seperti Waskita Karya dan WIKA Beton, rupanya memacu PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) untuk ekspansi bisnis precast atau beton pra cetak, disamping bisnis semen.

Kata Direktur Keuangan PT Semen Baturaja Tbk, Ageng Purboyo Angrenggono, rencana diversifikasi usaha ke sektor beton pra cetak akan dilakukan perseroan dalam rangka meningkatkan kinerja SMBR pada tahun 2015,”Saat ini perseroan sudah melakukan pembicaraan dengan beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lain untuk melakukan sinergi dalam pengembangan bisnis barunya,”ujarnya di Jakarta, Rabu (26/11).

Untuk bisnis semen tahun depan, perseroan menargetkan volume penjualan semen mencapai 1,7 juta ton atau meningkat 30,76% dibandingkan target hingga akhir tahun ini 1,3 juta ton. Direktur Utama PT Semen Baturaja Tbk, Pamudji Raharjo menuturkan, target volume penjualan semen di tahun 2015 akan didukung dengan meningkatnya pembangunan di wilayah Sumatra. Terutama wilayah Sumatera Selatan yang menjadi pangsa pasar perseroan,”Tahun depan sekitar 1,7 juta ton, operasi kita berada di tiga tempat, jadi biaya produksi tidak terlalu besar karena jaraknya berdekatan dengan pabrik,”ungkapnya.

Sementara hingga akhir tahun ini, perseroan optimis dapat mencapai volume penjualan semen mencapai 1,3 juta ton. Pasalnya, selama sembilang bulan pertama tahun ini, SMBR telah memperoleh volume produksi semen diangka 853,05 ribu ton,"Volume penjualan tersebut dengan harga jual rata-rata sebesar Rp957.425 per ton atau meningkat 3% dari tahun lalu,”ujarnya.

Sebagai catatan, target volume penjualan semen perseroan hingga akhir 2014 yang mencapai 1,3 juta ton meningkat 4% dibandingkan akhir tahun lalu yang sebesar 1,26 juta ton. Volume penjualan yang dihasilkan Semen Baturaja dikarenakan ada peningkatan kapasitas pabrik.

Belanja Modal

Kemudian untuk belanja modal tahun 2015, perseroan mengalokasikan dana sebesar Rp900 miliar dan termasuk di dalamnya belanja modal rutin sebesar Rp 100 miliar hingga Rp 200 miliar. Nantinya, alokasi belanja modal untuk tahun depan akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi semen perseroan.

Disebutkan, sumber pendanaan untuk capex tahun 2015 seluruhnya berasal dari kas internal. Untuk memenuhi rencana ekspansi kedepan, SMBR masih belum berniat menggunakan dana eksternal. Pasalnya, perseroan mengklaim masih memiliki kas dan setara kas yang cukup atau sebesar Rp1,87 triliun.

Sebagai catatan, posisi ekuitas SMBR hingga akhir tahun ini meningkat menjadi Rp2,71 triliun dari posisi sebelumnya Rp2,46 triliun. Sedangkan total aset juga terdongkrak dari Rp2,71 triliun menjadi Rp2,91 triliun. Sebagai informasi, imbas melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS membuat nilai investasi pembangunan pabrik Semen Baturaja II di Sumatera Selatan membengkak.

Menurut Pamudji Raharjo, dalam hitungan awal untuk membangun pabrik tersebut diperkirakan perseroan harus menyiapkan dana investasi sebesar Rp2,9 triliun dengan mangacu kurs Rp11.500 per dolar AS. Namun jika rupiah berada di level Rp12.000 per dolar AS, maka bisa dipastikan biaya investasi pembangunan pabrik SMBR II itu meningkat hingga Rp3 triliun lebih. Dijelaskan, membengkaknya investasi tersebut dikarenakan mayoritas komponen untuk pembangunan pabrik berasal dari luar negeri. (bani)