Sinyal Ekonomi RI Kian Melemah

KEPERCAYAAN BISNIS GLOBAL TURUN TAJAM

Rabu, 26/11/2014

Jakarta – Sungguh mengejutkan hasil survei prospek bisnis global Markit, London, yang mengungkapkan bahwa kepercayaan bisnis global jatuh ke tingkat terendah dalam lima tahun terakhir pada Oktober 2014. Hal ini sekaligus menandai penurunan tajam dalam optimisme pengusaha. Kondisi ini setidaknya berdampak terhadap perekonomian Indonesia yang sedang memprihatinkan saat ini.

NERACA

Menurut laporan survei tersebut, penurunan optimisme di kalangan perusahaan-perusahaan karena meningkatnya sejumlah faktor ancaman. Antara lain kekhawatiran iklim ekonomi global yang memburuk, penurunan baru di zona euro, prospek kenaikan suku bunga di Inggris dan Amerika Serikat pada tahun depan dan risiko geopolitik yang berasal dari krisis di Ukraina dan Timur Tengah.

Menurut Markit, pelemahan kepercayaan bisnis yang paling parah terjadi di Amerika Serikat (AS) dan China. Pelemahan yang lebih dangkal tercatat di zona euro dan Jepang.

Pelemahan ini diperkirakan semakin membebani pemulihan ekonomi global pasca terpuruk akibat krisis keuangan yang bersumber dari Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) pekan lalu memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 3,1% dari 3,3%. Pemangkasan itu mengisyaratkan perlambatan di sejumlah negara berkembang utama, juga masalah berkepanjangan zona euro guna menyelamatkan diri dari kontraksi terlama di Eropa sejak zaman Perang Dunia II.

Menanggapi kondisi global tersebut, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anton Supit mengatakan dengan melemahkan ekonomi Tiongkok dan AS maka akan membuat ekspor ikut menurun. mengingat kedua negara tersebut ikut menyumbang cukup besar ekspor nasional. “Ekspor non migas ke Tiongkok cukup besar, terlebih untuk produk furnitur dan buah-buahan yang nilainya cukup besar,” ujar Anton kepada Neraca, Selasa (25/11).

Untuk mengatasi hal itu, Anton menyarankan agar pemerintah lebih aktif melakukan penjajakan dengan negara lain guna mencari pasar baru. “Pemerintah harusnya membantu dunia usaha dalam membuka pasar baru. Karena hanya pemerintah yang dapat melakukan perjanjian bilateral. Karena potensi pasar non tradisional itu cukup besar,” ujarnya.

Menurut dia, pelemahan ekspor juga akan dibarengi dengan kinerja impor. “Selain pasar ekspor terhempas karena demand yang turun, kinerja impor tentunya juga akan turun itu karena melemahnya sektor manufaktur di Tiongkok. Apalagi, harga komoditas dunia masih akan mengalami pelemahan,” kata Anton.

Dia juga mengharapkan agar pemerintah bisa membenahi struktur industri, agar produk ekspor tidak hanya mengandalkan hasil sumber daya alam. Terlebih lagi nilai impor Indonesia sangat tinggi, seiring dengan besarnya jumlah penduduk yang pada akhirnya mendorong kenaikan tingkat konsumsi domestik.

Dengan demikian, menurut dia, lemahnya struktur industri yang tidak sejalan dengan kegiatan ekspor dan impor telah menimbulkan defisit neraca perdagangan yang pada akhirnya menciptakan defisit neraca transaksi berjalan. “Secara sektoral, tantangan kita ada pada sektor pertanian, industri dan migas. Selama ini ada ketimpangan dalam perekonomian kita,” ujarnya.

Reformasi Struktural

Ekonom FEUI Lana Soelistianingsih mengatakan memang Tiongkok merupakan negara tujuan utama ekspor komoditas Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor non migas Indonesia ke negeri Panda itu dari Januari-September 2014 tercatat US$12,58 miliar, diikuti oleh Amerika Serikat dan Jepang yang masing-masing sebesar US$11,87 miliar dan US$10,71 miliar.

"Meski ekspor komoditas berpotensi membaik tahun depan, saya melihat ekonomi Indonesia tahun depan ada di kisaran 5,3%-5,6%. Motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diharapkan membaik dan dapat dikontrol pemerintah adalah konsumsi rumah tangga, pemerintah dan investasi. Ekspor hanya bonus saja," kata dia.

Menurut dia, nasib perekonomian global pada periode mendatang semakin suram bagi Indonesia. Oleh karenanya, ekspor manufaktur Indonesia perlu diperkuat. "Ke depannya perlu dilakukan reformasi struktural di dalam sektor riil Indonesia. Secara umum reformasi struktural untuk sektor riil harus dilakukan, yaitu bagaimana mengurangi ketergantungan ekspor Indonesia dari komoditas ke ekspor manufaktur," ujar Lana.

Dia menambahkan Indonesia sudah tidak dapat lagi mengandalkan ekspor komoditasnya. Dengan hanya mengandalkan ekspor komoditas maka perekonomian Indonesia sangat rentan terhadap gejolak ekonomi dunia.

"Seperti contohnya apabila Tiongkok dan Jepang mengalami perlambatan ekonomi maka akan berpengaruh terhadap nilai ekspor Indonesia," ungkap dia.

Dia pun memperkirakan Lana untuk tahun depan perekonomian diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,3%, dan paling tinggi berada pada kisaran 5,6%. Menurut Lana, ada lima komponen pembentuk PDB yaitu, konsumsi masyarakat, konsumsi pemerintah, investasi, ekspor dan impor. Konsumsi masyarakat diperkirakan akan melambat tahun depan jika pemerintah menaikkan lagi harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Sementara konsumsi pemerintah diperkirakan hanya memberikan kontribusi 0,3% terhadap PDB.

Lana mengatakan, kenaikan harga BBM bersubsidi juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi tahun depan. Pasalnya, dana yang semula untuk subsidi BBM dapat digunakan pemerintah untuk mengembangkan pembangunan dalam negeri.

"Kenaikan harga BBM berdampak baik pada pertumbuhan ekonomi asal dananya harus digunakan untuk pengeluaran yang produktif. Dana dari alokasi subsidi BBM dapat digunakan pemerintah untuk menunjang pembangunan infrastruktur dalam negeri. Pembangunan infrastruktur dirasa produktif sebab dapat menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan perekonomian.," kata dia.

Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice (IGJ) M.Riza Damanik mengatakan, menurunnya pertumbuhan ekonomi negara maju seperti AS dan Tiongkok tentu akan berdampak pada ekspor nasional, mengingat kedua negara tersebut merupakan market ekspor nasional sehingga secara demaind pasti ada penurunan yang mengakibatkan pendapatan ekpor bakal menurun drastis. “AS dan Tiongkok merupakan kedua negara tujuan ekspor nasional, jika ada pengurangan permintaan pasti dampaknya sangat besar terhadap ekspor nasional,” katanya.

Inilah salah satu yang sangat ditakutkan oleh ekonomi nasional, dimana arus modal asing yang masuk di dalam negeri sangat mudah keluar dan masuk jika ekspor dan pendapatan negara menurun, maka ekonomi dalam negeri mengalami guncangan besar. “Masalah utama yang terus membelenggu negeri ini adalah rapuhnya fundamental ekonomi nasional sehingga jika terjadi masalah eksternal, maka kondisi internal langsung terguncang,” ujarnya.

Lebih jauh Riza menjelaskan maka dari itu, fokus aktifitas liberalisasi dan investasi perdagangan saat ini sesungguhnya ditujukan pada penyerapan tenaga kerja yang memiliki keahlian (skill labour) dan bukan tenaga kerja tak terlatih. Artinya, jika investasi asing merajai dalam kegiatan perekonomian Indonesia, fundamental ekonomi Indonesia justru dituding akan semakin rentan dan rapuh."Selama investor asing itu nyaman berinvestasi disini kita merasa aman, tetapi pada saat mereka terganggu dan mereka keluar, maka kita akan hancur," ujarnya. agus/bari/mohar