Benang Merah Kenaikan Harga Cabai

Rabu, 26/11/2014

Oleh: Nailul Huda

Peneliti Indef

Satu bulan terakhir, masyarakat diributkan dengan masalah mahalnya harga cabai di pasaran. Harga cabai saat ini menembus hingga di atas Rp100 ribu dari Rp25 ribu per kg. Kenaikkan harga tersebut tentu dikeluhkan oleh pedagang cabai maupun pedagang makanan. Masyarakat saat ini mulai mempertanyakan kinerja pemerintah yang tidak mampu menjaga harga cabai.

Pemerintah beranggapan kenaikkan harga cabai disebabkan oleh anomali cuaca. Padahal ini bukan satu-satunya penyebab naiknya harga cabai. Sebab, kenaikkan harga cabai juga terjadi pada saat musim hujan. Pada Maret 2013 harga cabai saat itu juga meroket mencapai 100%. Fakta ini menunjukkan bahwa cuaca bukan penyebab utama harga cabai meroket.

Pengawalan harga cabai oleh pemerintah dinilai tidak berhasil oleh sebagian kalangan. Pengawasan hanya di sekitar persediaan stoknya bukan di akar masalahnya. Padahal akar masalah ini yang harus dilihat dan diawasi oleh pemerintah. Akar masalah tersebut ialah terlalu panjangnya alur distribusi cabai mulai dari petani sampai ke konsumen. Mungkin masalah bukan hanya terjadi di komoditas cabai tetapi hampir di seluruh komoditas pertanian.

Panjangnya alur distribusi ini menyebabkan tidak efisiennya alur distribusi. Ketidakefisien ini terlihat dari gap yang besar antara harga yang dijual di konsumen dengan harga di petani. Pada setiap tingkatan akan selalu ada kenaikkan harga. Inilah yang membuat harga naik terlalu tinggi.

Pelaku usaha yang membuat tidak efisiennya alur distribusi adalah pedagang pengepul atau yang lazim disebut tengkulak. Tengkulak ini yang menjadi penghubung antara petani dan pedagang besar/eceran. Tengkulak inilah yang diuntungkan dalam penurunan maupun peningkatan harga cabai. Tengkulak ini sadar dengan posisi penting ini sehingga tengkulak tersebut dapat memainkan perannya sebagai penentu harga awal di petani dan harga ke pedagang besar/eceran di pasaran. Jika tidak ada pedagang pengepul, rantai distribusi akan lebih singkat dan efisien.

Masalah adanya tengkulak ini erat kaitannya dengan sistem permodalan di petani. Tengkulak, selain bermain di pemasaran, ternyata juga bermain di permodalan. Tengkulak biasanya merangkap sebagai rentenir untuk modal produksi petani. Petani terjebak dengan ketergantungan pada modal tengkulak. Ketergantungan ini dimanfaatkan tengkulak untuk menekan harga di petani.

Jauh lebih dalam, ketergantungan modal petani kepada tengkulak ini didasarkan pada kesulitan petani dalam mengakses modal ke perbankan. Padahal bunga di tengkulak bisa mencapai 20% per bulan. Bunga yang tinggi tidak dipersolakan oleh petani dan lebih memilih pinjam di tengkulak daripada di perbankan karena proses peminjaman yang lebih mudah.

Dampak jangka panjangnya adalah akan semakin turunnya produksi nasional. Petani cabai akan kehilangan nilai tambahnya dan akan semakin banyak petani cabai yang gulung tikar. Lahan cabai akan semakin sedikit karena petani sudah tidak tertarik dengan prospek bisnis cabai.

Solusi yang dapat ditawarkan oleh pemerintah adalah skim pembayaran kredit. Skim ini harus mengandung dua unsur perbaikan dalam hal penyaluran modal ke patani. Pertama, kemudahan dalam proses peminjaman, seperti alternatif agunan. Kedua, proses pembayaran utang kredit disesuaikan dengan sistem masa panen petani. Contohnya, petani cabai yang masa panennya tiga bulan, pembayaran utang dapat dilakukan setelah masa panen.