Mau Terus Garap Blok Mahakam, Total Harus Bayar

Industri Hulu Gas

Rabu, 26/11/2014

NERACA

Jakarta – Kepala Unit Pengendalian Kinerja Kementerian ESDM Widhyawan Prawiraatmadja mengatakan, Total E&P Indonesia mesti membayar jika ingin masuk kembali ke Blok Mahakam, Kaltim pascahabis kontrak pada 2017. "Total tentunya harus bayar. Tidak gratis," kata dia di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa (25/11). Menurut dia, Total bisa memakai skema pertukaran (swap) aset yang ada di luar Indonesia dengan PT Pertamina (Persero) untuk masuk kembali ke Mahakam.

Dirut Pertamina M Husen, mengatakan dalam 1-2 hari ini, pihaknya akan menyampaikan surat resmi kesiapan mengelola Mahakam. "Selanjutnya, kami minta waktu maksimal tiga bulan untuk menyusun proposal pengelolaan Mahakam ke depan," ucapnya.

Ia mengatakan, penyusunan proposal membutuhkan waktu karena mesti mempelajari data teknis blok tersebut terlebih dahulu. Husen belum bisa memastikan apakah Mahakam akan dikelola sendiri atau bersama Total. "Tergantung data teknisnya termasuk mesti cek dulu ke lapangan," ujarnya. Dia menambahkan, secara finansial dan teknologi, Pertamina sudah siap mengelola Mahakam.

Sebelumnya, masih dari laman yang sama, anggota Komisi VII DPR Kurtubi meminta, PT Pertamina (Persero) mengelola sendiri Blok Mahakam, Kaltim agar memberikan manfaat maksimal bagi negara. "Dengan 100 persen Blok Mahakam dimiliki Pertamina, maka negara juga mendapat manfaat sebesar 100 persen," ujarnya.

Menurut politisi Nasdem tersebut, keputusan pemerintah memberikan Mahakam yang sebelumnya dikelola Total E&P Indonesie ke Pertamina merupakan langkah tepat. "Kenapa tepat, karena Total sudah mengelola selama 50 tahun. Jadi, sudah cukup," katanya. Ke dua, cadangan migas di Blok Mahakam masih besar. "Terbukti, Total masih berkeinginan melanjutkan pengelolaan Mahakam," ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, kalau Pertamina mengelola 100 persen Mahakam, maka pemanfaatan gas buat domestik bisa lebih mudah dan maksimal. Negara bisa mengatur pemanfaatan gas Mahakam buat konversi bahan bakar kendaraan dari minyak ke gas, lalu untuk rumah tangga, listrik, pupuk, dan industri juga bisa lebih maksimal.

Dengan demikian, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada minyak, sekaligus mengurangi impor dan subsidi BBM. "PLN dan industri juga tidak lagi berteriak kekurangan gas," ujarnya.

Namun demikian, lanjut Kurtubi, Pertamina sebaiknya tetap membuka dulu opsi berkolaborasi dengan Total sepanjang perhitungan secara ekonomi menguntungkan bagi negara. "Lakukan pembicaraan b to b. Tawarkan opsi 'swap' ke Total yang paling menguntungkan bagi negara. Kalau memang tidak ada titik temu, maka kembali ke opsi dikelola 100 persen oleh Pertamina," ujarnya.

Dalam skenario kolaborasi tersebut, lanjutnya, Total yang masuk (farm in) ke Mahakam setelah 2017. Menurut Kurtubi, mekanisme pertukaran (swap) Mahakam dengan aset Total di luar negeri juga memiliki sejumlah keuntungan bagi Pertamina.

Pertama, memberi kesempatan Pertamina berekspansi ke luar negeri, sehingga Indonesia bisa menambah cadangan terutama minyak di luar negeri. "Kepemilikan Pertamina di blok luar negeri ini akan meningkatkan ketahanan energi," ujarnya. Lalu, memberikan jaminan pasokan minyak bagi kilang Pertamina, sehingga mengurangi peran pihak ketiga (trader) dan sekaligus mafia.

Pada kesempatan terpisah, sebelumnya, Geolog Rovicky Dwi Putrohari mengatakan cadangan minyak dan gas bumi di Blok Mahakam, Kalimantan Timur, masih cukup besar. "Sebagai geolog, saya menilai cadangan migas Mahakam masih besar. 'Upside potential' atau lapangan yang belum dikembangkan di sekitar Mahakam masih menyimpan potensi besar," katanya.

Pemerintah berencana menyerahkan pengelolaan Mahakam ke Pertamina pascahabis kontrak dengan Total E&P Indonesie pada 2017. Selanjutnya, Pertamina bisa mengelola 100 persen Mahakam atau mengajak Total dengan kompensasi memperoleh blok milik perusahaan asal Perancis tersebut di luar negeri.

Menurut Rovicky, yang juga mantan Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) itu, saat ini, Mahakam belum dikembangkan secara optimal. Wilayah tersebut, lanjutnya, dalam istilah geologi belum dilakukan "go deeper" atau upaya mencari migas di "reservoir" yang lebih dalam lagi atau di bawah yang ada saat ini.

Teknologi "go deeper" yang biasa dipakai adalah tekanan tinggi temperatur tinggi (high pressure high temperature/HPHT). "Jadi, di Mahakam itu belum dieskplorasi 'reservoir' yang lebih dalam lagi dan menyimpan potensi yang besar. Kalau itu dilakukan, saya yakin akan ditemukan cadangan besar," katanya.