Pemerintah "Pede" Ekonomi Tumbuh 5,8%

Rabu, 26/11/2014

NERACA

Jakarta - Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro memaparkan ekonomi outlook Indonesia untuk 2015. Bambang menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi yang dipatok 5,8 persen dalam APBN 2015 akan tercapai.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomiini dapat dicapai atas kebijakan menaikkan harga BBM subsidi yang dilakukan pada tahun ini. Pasalnya, dengan naiknya harga BBM subsidi akan menghemat anggaran mencapai Rp100-Rp140 triliun yang akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur.

"Kenaikan fuel subsidi akan bisa digunakan untuk infrastruktur dan sektor produktif lainnya, sehingga angka pertumbuhan ekonomi di tahun depan bisa 5,8 persen dengan melihat formulasi dari kasus ini. Kita akan lihatanggaranyang baru," kata Bambang di, Jakarta, Selasa (25/11).

Bambang menegaskan, pada prinsipnya pemerintah akan gunakan anggaran untuk penuhi visi dan misi yang sudah dicanangkan dan mulai dilakukan pada tahun depan. "Kita juga selalu berpikir positif dengan makin banyaknyaforeign direct investment.Kita tetap optimistis pertumbuhan ekonomi tumbuh secara sustainble," sebutnya.

Menurut Bambang, tantangan ke depan memang tidak akan mudah namun Indonesia saat ini sudah solid dan mampu melewati beberapa krisis yang terjadi belakangan ini. "Kebijakan memprioritaskan untuk ekonomi yang lebih tahan. Komitmen kami, atas paham presiden di tahun depan," tuturnya.

Pengamat Ekonomi Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat, Ina Primiana, melihat bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,8 persen dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015 merupakan angka yang cukup realistis.

Namun begitu, target pertumbuhan ekonomi yang disepakati oleh pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tersebut cukup bisa tercapai asalkan didukung oleh menteri-menteri yang profesional saat menjalankan program-programnya.

"Artinya menteri semuanya berjalan cepat mengerti masalah yang dihadapi, itu tidak ada masalah," katanya.

Ina menerangkan, salah satu program yang perlu dengan cepat direalisasikan oleh pemeirntah mendatang adalah mendorong sektor riil yang selama ini dianggap mandek karena terkendala permasalahan bahan bakar minyak (BBM) dan distribusi listrik.

Anggaran subsidi BBM dipindahkan atau dialokasikan ke sektor yang lebih produktif. Adapun alternatif menekan alokasi subsidi BBM dengan cara penyediaan transportasi massal, sehingga orang beralih dari transportasi pribadi ke umum. "Harus ada penyediaan transportasi massal terintegrasi dan menggunakan kendaraan bukan pribadi. Lalu dia tidak menggunakan kendaraan lebih dari satu," lanjut dia.

Meskipun cukup optimis, Ina melihat akan ada ancaman besar di tahun depan yaitu mengenai berencana menaikan suku bunga yang akan dilakukan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserved (The Fed) pada akhir tahun 2015.

Dia menuturkan, selama ini banyak investor dalam menjalankan usahanya dari pinjaman luar negeri. Untuk itu perlu ada kebijakan dengan memberikan suku bunga rendah sehingga dana tidak keluar dari Tanah Air.

"Harus sinergi kebijakan BI dan Kementerian Keuangan dan Kementeria Perindustrian. Sektor mana yang didukung suku bunga rendah," tandas dia. [agus]