Defisit Minyak Jadi Alasan

Kenaikan Harga BBM Subsidi

Rabu, 26/11/2014

NERACA

Jakarta – Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro menjelaskan alasan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Alasannya adalah Indonesia terus mengalami krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. "Saya akan bicara mengenai keputusan pemerintah mengurangi subsidi BBM, yang membuat banyak masyarakat bicarakan ini. Banyak yang tidak tahu, kita sudah krisis dengan subsidi BBM," kata dia di Jakarta, Selasa (25/11).

Menurut Bambang, dengan kebijakan ini akan banyak keuntungan yang diraih. Salah satunya membantu menjaga anggaran. Lalu, akan memperbaiki ruang fiskal dan current account deficit (CAD). “Spending untuk sektor produktif, pemerintah akan menyimpan untuk membangun infrastuktur khususnya basic infrastruktur. Terutama di pertanian, sektor maritim, sektor energi. Lalu dana perlindungan sosial termasuk kesehatan dan pendidikan. Kita juga akan menyisihkan untuk dana desa," terang dia.

Bambang menjelaskan, dengan kebijakan ini bisa tangkal krisis ekonomi global terutama dari kebijakan Amerika Serikat yang akan menaikan fed fund rate dengan waktu yang tidak dapat ditentukan. "Untuk CAD, ini akan mengurangi impor untuk waktu lama. Dan kenaikan di November akan mengurangi dampak inflasi. Selain itu, harga yang naik Rp2.000 per liter, harganya jadi lebih managabel dan membuat masyarakat beralih ke BBM Non subsidi," jelasnya.

Dia menuturkan, dengan langkah ini pemerintah akan lebih mudah untuk mengurangi impor volume BBM dan mengurangi konsumsi BBM subsidi yang selama ini salah sasaran. "Yang terpenting adalah memperbaiki sisi fiskal, budget dan CAD pada masa depan," tuturnya.

Sedangkan menurut Ketua Umum Apermigas, Effendi Siradjuddin mengapresiasi langkah pemerintah yang membentuk Tim Reformasi Tata Kelola Migas. Mengingat Indonesia diprediksi Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Apermigas), berpotensi krisis energi bila tata kelola kegiatan hulu dan hilir minyak dan gas bumi (Migas) tak diperbaiki.

Saat ini Indonesia mengimpor BBM sebanyak 850 ribu barel per hari (bph) atau kurang lebih Rp.1,7 miliar per hari dari total konsumsi BBM nasional sekitar 1,5 juta barel perhari (bph). Hal itu seseai data Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).

"Jika tidak segera diantisipasi dengan strategi yang tepat, skenario terburuk dalam beberapa dekade ke depan Indonesia akan memasuki era tanpa minyak," kata Effendi.

Effendi menambahkan, satu-satunya cara mengantispasi persolan itu adalah dengan memperkuat sinergi kegiatan hulu dan hilir sektor migas Tanah Air. Tanpa penguatan kegiatan ini, pihaknya pesimistis Indonesia bisa memperbaiki tata kelola energi.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo kembali meyakinkan masyarakat bahwa alasannya menaikkan harga BBM bersubsidi yaitu untuk mengalihkan segi konsumtif ke segi produktif. "Ya kan sudah sering saya sampaikan kita perlu mengalihkan dari konsumtif kita bakar tiap hari menjadi yang produktif," ujarnya.

Jokowi juga meminta kepada masyarakat bahwa proses peralihan di sektor konsumtif ke sektor produktif memerlukan waktu. "Memang tidak langsung kelihatan, baru kelihatan tahun depan, atau tahun depannya lagi," kata Jokowi.

Selain itu, pria yang pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta ini mengatakan kenaikan hargaBBMbersubsidi juga dalam rangka mengoptimalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "Tetapi bahwa kami ingin manfaat APBN itu betul-betul kelihatan dan kita enggak mau boros," kata Jokowi. [agus]