Fundamental Ekonomi Harus Kuat

Rabu, 26/11/2014

NERACA

Jakarta - Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai sudah bukan waktunya lagi bagi Indonesia mempriotaskan diri untuk menumbuhkan perekonomian yang tinggi di masa mendatang. Perlu ada pemikiran untuk pertumbuhan tersebut memang benar-benar menyentuh fundamental perekonomian.

Soalnya, situasi dan kondisi perekonomian Indonesia tengah tidak menentu. Apalagi, hal ini diperparah dengan belum optimalnya penyelesaian persoalan ekonomi dunia. Negara seperti Tiongkok pun tidak lupu diterpa perlambatan perekonomian. Hal ini akan ada dampak kepada negara diemerging market. “Sekarang ini sudah tidak jaman lagi pertumbuhan ekonomi harus tinggi. Apalagi situasi dan kondisi ekonomi dunia sedang tidak menentu”, ungkap Chatib, di Jakarta, Selasa, ( 25/11).

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi dunia sedang mengalami perlambatan, bahkan cenderung tumbuh lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan di tahun-tahun sebelumnya. Belum optimalnya penyelesaian krisis dunia pada akhirnya membuat dampak kepadaemerging market. “Kalau perekonomian di dunia mengalami pelemahan, maka bukan tidak mungkin akan ada dampaknya kepada perekonomian kita juga”, jelasnya.

Sementara itu, menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Mohammad Reza Hafiz mengungkapkan, konsekuensi dari bergesernya peran sektortradablesekarang ini ialah upaya pemerintah untuk menurunkan jumlah penduduk miskin semakin sulit dilakukan. “Pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas kian tercermin dari indeks ketimpangan pendapatan yang semakin melebar, dimana posisi terahkir di 2013 berada di angka 0,41″, jelasnya.

Reza memandang, anggaran kemiskinan yang bersifat “membangun” masih sangat kecil. Seperti tampak pada penyertaan modal negara dalam rangka mendukung KUR yang dialokasikan sebesar Rp2 triliun selama 2011-2014.

Tidak dipungkiri anggaran kemiskinan dalam APBN pada kurun waktu 5 tahun terakhir selalu bertambah dan apabila di total sampai akhir 2013 tercatat sebesar Rp503,2 triliun. Namun, selama kurun waktu itu pula laju penduduk miskin hanya berkurang rata-rata -3,19%. “Hal ini menandakan belum efektifnya program pengentasan kemiskinan oleh pemerintah”, tandas Reza.

Menurut Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo, sekarang ini sedang terjadi keseimbangan baru dalam portofolio dana global.Sentimen negatif banyak beredar dari luar negeri, mulai dari berhentinya stimulus The Federal Reserve sampai pertumbuhan ekonomi negara Asia yang melambat. Bank Indonesia (BI) memprediksi fundamental Indonesia kurang kuat menahan dana asing supaya tidak kabur.

"Tapi dana global itu tidak akan meninggalkan negara yang fundamental ekonominya kuat. Salah satu cerminan ekonomi yang kuat adalah inflasi rendah dan stabil dan transaksi berjalannya ada dalam kondisi yang sehat," katanya.

Jadi Indonesia menghadapi tantangan di 2015 baik dunia maupun domestik, kita perlu menguatkan fundamental ekonomi kita, yang tercermin dari inflasi yang lebih terkendali dan transaksi berjalan yang lebih sehat.

"Kalau Indonesia, inflasi kita sudah bisa kita kendalikan, transaksi berjalan kuartal II-2014 masih di kisaran 4%, kuartal II-2013 masih di kisaran 4%, dan nanti di kuartal II-2015 masih 4%, itu kondisi yang kurang kuat secara fundamental," katanya.

Maka dari itu Agus menyatakan Indonesia masih harus berupaya untuk memperbaiki transaksi berjalan. Apalagi Indonesia sudah 3 tahun ini transaksi berjalannya defisit.

"Namun kuartal III-2014 terlihat bahwa perkembangannya membaik, dan kita juga melihat surplus dari kegiatan ekspor nonmigas membaik," tukasnya. [agus]