Konservasi Sidat, DJPT Gandeng JICA

Rabu, 26/11/2014

NERACA

Jakarta – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjalin kerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia dalam upaya pengelolaan dan konservasi sidat dari jenis Anguilla bicolor.

“Sidat merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai tinggi yang rentan terhadap pemanfaatan berlebih dan perubahan lingkungan. Di Eropa dan Jepang, ikan sidat merupakan komoditi kuliner yang mempunyai nilai harga yang tinggi. Di Jepang harga rata-rata ikan sidat mencapai 4.000 – 6.000 yen per kilogram atau Rp 350.000–450.000,” papar Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Gellwynn Jusuf dalam sambutannya pada pembukaan Simposium Internasional Pengelolaan, Konservasi dan Pemasaran Sidat Anguilla bicolor di Indonesia, bertempat di Jakarta, Senin (24/11).

Potensi sumber daya ikan sidat di Indonesia sangat tinggi. Sebagian spesies sidat dunia ada di Indonesia, yakni 10 (sepuluh) dari 19 (sembilan belas) jenis sidat ada di Indonesia. Diantaranya adalah Anguilla celebensis dan Anguilla borneensis (Kalimantan dan Sulawesi), Anguilla interioris dan Anguilla obscura (Pantai Utara Papua), Anguilla bicolor pasifica (sepanjang pantai Samudera Pasifik di Indonesia) dan Anguilla marmorata (di seluruh Indonesia). Hal tersebut membuat beberapa ahli menyatakan bahwa Indonesia merupakan daerah “nenek moyang” ikan sidat.

Benih sidat tangkapan alam merupakan unsur utama perdagangan komoditas dunia. Hal ini disebabkan seluruh kegiatan pembudidayaan sidat merupakan kegiatan pembesaran benih hingga ukuran konsumsi. Oleh sebab itu melimpahnya benih sidat alam menjadi berkah tersendiri bagi aktivitas pembudidaya benih sidat di Indonesia. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya menyatakan bahwa estimasi potensi produksi budidaya sidat di Indonesia mencapai 12.000 ton/tahun.

Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa selama Januari-Agustus 2011, volume ekspor ikan sidat mencapai 1.400 ton. Jumlah ini menurun 39,1% dari periode sama tahun 2010 yang mencapai 2.300 ton. Nilai ekspor juga anjlok 60,4%, hanya US$ 5,3 juta, dari US$ 13,4 juta. Sementara itu produksi sidat di Indonesia (yang tercatat) belum mencapai 10.000 ton pada periode yang sama. Produksi ikan sidat tersebut baru mencapai 1.67% dari total kebutuhan ikan sidat di dunia yang mencapai 600.000 ton pada tahun 2013.

Indikasi penurunan sumber daya sidat dikarenakan pola penangkapan ikan sidat yang intensif dan tidak ramah lingkungan, pembangunan bendungan tanpa ada sarana fish way yang menghambat ruaya ikan sidat saat akan memijah serta banyaknya benih ikan sidat di Indonesia yang dijual secara illegal ke luar negeri.

“Oleh karena itu, DJPT mengadakan Simposium Internasional Pengelolaan, Konservasi dan Pemasaran Sidat Anguilla bicolor di Indonesia untuk mendapatkan pembelajaran dari pengelolaan perikanan Sidat Anguilla japonica di Jepang, sehingga akan dapat dibangun keberlanjutan sumber daya sidat, pengembangan sistem budidaya sidat dan terciptanya iklim perdagangan sidat yang harmonis di Indonesia,” jelas Gellwynn.

Dalam pengelolaan dan konservasi sidat, pemerintah telah melakukan upaya-upaya konkrit, diantaranya adalah dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor: 18/MEN/2009 tentang Larangan Pengeluaran Benih Sidat (Anguilla spp) dari Wilayah Negara Republik Indonesia ke Luar Wilayah Negara Republik Indonesia. Selain itu, Direktorat Sumber Daya Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap saat ini sedang menyusun Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) Sidat, karena dari RPP ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengelolaan sidat di Indonesia.

Simposium ini melibatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Pemerintah Daerah (Provinsi, Kabupaten/Kota), Lembaga Riset, Penelitian dan Perguruan Tinggi, Masyarakat Nelayan dan Pembudidaya, serta swasta atau LSM perairan umum daratan. “Dengan melibatkan beberapa Kementerian/Lembaga ini, diharapkan dapat disepakati strategi pengelolaan dan konservasi Sidat Anguilla bicolor, strategi pengembangan budidaya dan harmonisasi perdagangan serta identifikasi skala dan teknologi budidaya yang dapat diterapkan”, pungkas Gellwynn.

Simposium dihadiri oleh 120 orang peserta, terdiri dari 5 (lima) orang pembicara utama (Keynote speakers) baik dari dalam maupun luar negeri antara lain : Dr. Mari Kuroki (Tokyo University), Dr. Somboon Siriaksophon (Southeast Fishery Development Center/SEAFDEC), Mr. Maki Takato (Assistant Director of Ecosystem Conservation Office, Fisheries Agency of Japan), Dr. Hagi Yulia Sugeha (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan Prof. Dr. Martani Husaini (SIBUSIDO). 16 (enam belas) narasumber ahli/pakar, dan 60 (enam puluh) orang perwakilan instansi pemerintah (pusat-daerah) yang membidangi kelautan dan perikanan, kementerian/lembaga lintas sektor terkait, perguruan tinggi dan kelompok masyarakat.

“Dengan melibatkan beberapa Kementerian/Lembaga ini, diharapkan dapat dikembangkan suatu strategi pengelolaan dan konservasi Sidat Anguilla bicolor, strategi pengembangan budidaya dan harmonisasi perdagangan serta identifikasi skala dan teknologi budidaya yang dapat diterapkan,” pungkas Gellwynn.