Puluhan Pabrik Tekstil di Indonesia Berencana Relokasi - Pasca Kenaikan BBM dan UMP

NERACA

Jakarta – Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat menyatakan bahwa setidaknya ada puluhan perusahaan tekstil nasional yang berniat untuk merelokasi pabriknya ke Vietnam dan Myanmar. Hal itu, kata Ade, lantaran permintaan buruh untuk kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) pasca kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sehingga menjadi beban biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan.

Saat ini, lanjut Ade, buruh meminta kenaikan upah minimum provinsi, sehingga beban biaya yang harus ditanggung perusahaan bertambah. “Akibat kenaikan harga BBM bersubsidi, rata-rata buruh meminta kenaikan upah 15% hingga 20%. Padahal, batas kewajaran yang sudah dibuat perusahaan hanya 11% dan hitungannya, inflasi 7% dan 4% buat kenaikan, termasuk upah,” paparnya di Jakarta, Selasa (25/11).

Akibat tuntutan kenaikan upah, lanjut Ade, beberapa perusahaan tekstil di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi tengah menyusun rencana relokasi ke luar Jakarta, termasuk meninggalkan Indonesia. “Beberapa daerah yang akan kembali mendapatkan limpahan industri tekstil Jabodetabek adalah Jawa Tengah serta beberapa daerah di Jawa Timur. Tahun lalu, yang pindah ke Jawa Tengah mencapai 60 pabrik, sekarang mungkin di atas 100 pabrik,” ujarnya.

Pihaknya berharap, pemerintah daerah bisa menjadi penengah yang bisa memberikan solusi bagi kedua belah pihak baik itu pihak buruh maupun pihak pengusaha, sehingga nantinya keberlangsungan investasi akan tetap terjaga. “Pemerintah seharusnya bisa menjadi mediator, bukan menjadi koordinator salah satu pihak,” tuturnya.

Lebih jauh lagi, Ade mengatakan pemilihan kedua negara yaitu Myanmar danVietnam karena kedua neraga tersebut cukup mudah dalam mengurus birokrasi dan rendahnya upah buruh., “Kemudahan birokrasi serta rendahnya upah buruh menjadi salah satu daya tarik kedua negara. Yang jelas, sudah tiga pabrik yang pindah ke Vietnam,” cetusnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengendalian Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Azhar Lubis meminta pelaku usaha tekstil dan produk tekstil (TPT) tidak buru-buru merelokasi pabrik ke Vietnam dan Myanmar. “Pelaku usaha TPT diharapkan bernegosiasi dulu soal tuntutan kenaikan upah dan tidak perlu menutup atau merelokasi. Tuntutan kenaikan upah juga pasti akan terjadi di Vietnam dan negara lainnya,” katanya.

Pelaku usaha tekstil, menurut Azhar, seharusnya sudah bisa mengantisipasi kenaikan upah buruh akibat dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Rencana kenaikan harga BBM bersubsidi sudah jauh hari dibahas.

“Asosiasi Pengusaha Indonesia dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia justru mendorong kenaikan harga BBM bersubsidi. Wajar jika ada tuntutan kenaikan upah, terutama saat perekonomian sedang bertumbuh dengan syarat, besaran upah masih bisa terjangkau oleh perusahaan dan kehidupan buruh juga membaik,” paparnya.

Azhar meminta para pengusaha tekstil tenang menghadapi tuntutan kenaikan upah buruh. Dewan Pengupahan di daerah masing-masing bisa mengambil jalan tengah antara tuntutan dan kemampuan pengusaha. “Kalau upah hanya naik 10% hingga 15% tidak terlalu memberatkan, kalau sudah 30% hingga 100% sangat merugikan pelaku usaha,” tuturnya.

Relokasi ke Indonesia

Disaat beberapa perusahaan ingin merelokasi pabriknya ke luar negeri, namun Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Nus Nuzulia menyatakan bahwa negara-negara Uni Eropa sedang memikirkan untuk merelokasi industri tekstilnya ke Jawa Tengah. “Setidaknya negara-negara seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, RRT, Korea Selatan, dan Vietnam sedang melihat kemungkinan untuk merelokasi produksinya ke Jawa Tengah,” ujarnya.

Menurutnya, berdasarkan Sourcing Journal Online, daerah Jawa Tengah sangat menarik sebagai tujuan investasi di sektor tekstil dan garmen. Alasannya karena wilayah ini memiliki iklim investasi yang kondusif dan infrastrukturnya sudah terbangun baik sehingga dapat diakses dengan mudah oleh sarana angkutan darat, udara, dan laut. “Selain itu, tenaga kerja di sektor ini juga terkonsentrasi di Jawa Tengah,” ujarnya.

Nus melihat dunia fesyen kini merupakan salah satu komoditas penting dunia. Tekstil dan garmen menjadi perhatian Kemendag dan mendorong investasi serius di sektor ini. “Sourcing at Magic adalah salah satu sumber fesyen paling komprehensif di dunia dan terbesar di Amerika Utara. Pameran ini dapat dimanfaatkan untuk mengakses sumber daya dari seluruh dunia yang mencakup keseluruhan rantai pasok industri fesyen,” ujar Nus.

BERITA TERKAIT

CISFED: Demokrasi Aksesoris Ancaman Bagi Indonesia

CISFED: Demokrasi Aksesoris Ancaman Bagi Indonesia NERACA Jakarta - Secara umum praktik demokrasi yang berjalan saat ini sekadar demokrasi aksesoris…

Indonesia Dinilai Tak Alami Bubble Sektor Properti

      NERACA   Jakarta - CEO dan pendiri perusahaan pengembang Crown Group, Iwan Sunito, mengatakan, Indonesia tidak mengalami…

KPK Lelang Tanah dan Bangunan Budi Susanto

KPK Lelang Tanah dan Bangunan Budi Susanto NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan melelang tanah dan bangunan mantan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Jelang 60 Tahun RI-Jepang - Menperin Pacu Kolaborasi Pengembangan Sektor Industri

NERACA Jakarta – Hampir enam dekade, Indonesia dan Jepang menjadi mitra strategis dalam upaya pembangunan ekonomi kedua negara. Oleh karena…

Produksi Lele Bioflok Sokong Suplai Pangan Berbasis Ikan

NERACA Sleman- Menteri Kelautan dan Perikanan yang diwakili Sekjen KKP, Rifky E Hardijanto melakukan panen perdana budidaya lele sisitem bioflok…

Industri Transportasi - Revolusi Media Digital Untuk Layanan Kereta Api

NERACA Jakarta - Saat ini DKI Jakarta dan sekitarnya sedang menggalakkan pembangunan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan transportasi umum di dalam…