Meruntuhkan Sifat Individualis Anak dengan Berbagi

Sabtu, 29/11/2014

Rasa empati kepada sesama yang dimiliki anak bisa menjadi cara untuk meningkatkan kebahagiaan dimasa depannya

NERACA

Tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara lainnya. Hal ini tercermin di dalam World Happiness Report 2013 yang dirilis oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Hasil penelitian ini hanya menempatkan Indonesia pada peringkat ke-76 sebagai negara paling bahagia sedunia, masih jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Thailand (36) dan Malaysia (56).

Berdasarkan penelitian terpisah yang dilakukan oleh University of California, Riverside, diungkapkan bahwa salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan kebahagiaan seseorang dapat diraih dengan melakukan kebaikan, membantu orang lain, dan saling berbagi dengan sesama. Berbagai kegiatan serupa diyakini dapat meningkatkan emosi, pikiran dan perilaku positif yang kemudian menciptakan perasaan bahagia.

Pada era modern saat ini, peran orang tua sangat penting untuk membentuk karakter anak dan remaja kedepannya. Sayangnya kesibukan orangtua menyebabkan mereka dengan mudah menyediakan segala fasilitas yang diinginkan oleh anak tanpa memikirkan lebih jauh dampak dari hal tersebut.

Realita yang terjadi, orang tua saat ini lebih memilih memberikan gadget pada anak tanpa melihat umur yang seharusnya, hal tersebut tanpa disadari ternyata turut berkontribusi dalam menciptakan sikap individualisme dan ketidakmampuan berempati pada anak yang berpotensi melemahkan semangat berbagi

Melihat hal tersebut, Save a Teen berinisiatif untuk mengajak keluarga dan remaja Indonesia untuk berpartisipasi menjadi “Generasi Berbagi” atau generasi yang memiliki rasa empati dan kepedulian kepada sesamanya. Ajakan ini disuarakan melalui sebuah talkshow interaktif bertajuk“Aksi 5 Menit Biasa Berbagi” yang diadakan di Jakarta pada 20 November 2014 lalu

“Save a Teen mengajak keluarga Indonesia untuk melakukan ‘Aksi 5 Menit Biasa Berbagi’ sebagai langkah awal orang tua untuk menanamkan kebiasaan berbagi pada anak dan remaja sejak dini,” ujar Imran Razy, Fundraising Manager Putera Sampoerna Foundation yang menjadi perwakilan dari Save a Teen.

Di dalam bukunya, Psycho Cybernetics, Dr. Maxwell Maltz menyimpulkan bahwa dibutuhkan waktu minimal 21 hari untuk menciptakan sebuah kebiasaan baru yang akan terus melekat jika dilakukan secara berkesinambungan dan konsisten.

Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi, psikolog anak dan remaja Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia yang hadir sebagai salah satu pembicara dalam talkshow ini mengungkapkan hal serupa.

“Apabila anak secara rutin diajarkan untuk melakukan suatu perbuatan, maka anak akan menjadi terbiasa untuk melakukan kegiatan tersebut hingga dewasa,” jelas Vera.

Profesor Adam Grant dari Wharton Business School dalam bukunya Give and Take memaparkan konsep “Membantu orang dalam 100 jam”. Dengan meluangkan 100 jam selama setahun atau rata-rata 5 menit dalam sehari untuk membantu sesama manusia, dapat menimbulkan rasa kebahagiaan dan mengurangi perasaan depresi dan stress

“Dengan meluangkan waktu 5 menit selama 21 hari berturut-turut, orang tua dapat menanamkan kebiasaan berbagi yang kemudian bisa menjadi bekal penting bagi anak untuk dapat terus berbagi kepada orang-orang disekitarnya sekaligus menjalani kehidupan yang lebih bahagia,” ujar Vera menambahkan

Hadir sebagai Brand Ambassador Save a Teen, Sigi Wimala mengungkapkan, sebagai seorang ibu, dirinya melihat dan merasakan adanya korelasi yang kuat antara tingkat kebahagiaan dan semangat berbagi.

“Hal ini mendorong saya untuk mengobarkan semangat berbagi dalam rangka mewujudkan Generasi Berbagi di Indonesia,” ujar dia.

“Kami berharap keluarga dan remaja Indonesia akan turut ambil bagian secara aktif dalam ‘Aksi 5 Menit Biasa Berbagi’ untuk mendekatkan kita kepada tujuan kita untuk menciptakan generasi baru yang lebih peka, peduli terhadap sesama, dan pastinya lebih bahagia,” tutup Imran.

Save a Teen merupakan gerakan salah satu program penggalangan dana yang diinisiasi oleh Putera Sampoerna Foundation untuk membantu anak-anak Indonesia dari keluarga prasejahtera untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Dana yang terkumpul melalui program ini akan digunakan sepenuhnya untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak yang kurang beruntung secara finansial, sehingga mereka kelak bisa menjadi penerus bangsa yang berkaliber tinggi.