Normal, Ekonomi Global Alami Perlambatan

NERACA

Jakarta -Perlambatan pertumbuhan ekonomi negara-negara maju yang sangat mempengaruhi perekonomian global menjadi fase keadaan ekonomi baru yang dianggap sebagai keadaan normal."Pertumbuhan ekonomi global sudah melemah dalam waktu begitu lama. Prospeknya ke depan tidak kelihatan membaik dalam waktu dekat. Orang banyak bertanya apakah ini temporer atau 'new normal', saya percaya ini 'new normal',"kata Mahendra Siregar, mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal,dalam Seminar "FDI for the Future : Human Capital, Innovation and Competitiveness" oleh LPEM UI di Jakarta, Senin (24/11).

Di hadapan para akademisi ekonomi mancanegara dan juga para pemangku kepentingan, Mahendra mengatakan ketika pelambatan ekonomi global mulai terjadi karena dipicu krisis pada 2008, berbagai kalangan hanya menganggap fenomena tersebut bersifat sementara.Namun setelah enam tahun berjalan, ujar dia, pelambatan pertumbuhan yang di antaranya ditandai dengan melambatnya pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) beberapa negara maju, kinerja ekspor yang terus tergerus oleh turunnya harga komoditi telah menimbulkan aura pesimistis bahwa pemulihan akan cepat terjadi.

"Bahkan Lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) telah secara 'konsisten' merevisi perkiraan pertumbuhan beberapa negara," ujarnya.Berhentinya penggelontoran stimulus global dari Amerika Serikat juga ternyata menjadi tantangan besar yang harus dihadapi semua negara berkembang, dengan sentimen negatif terhadap likuiditas yang semakin mengetat, kata Mahendra.

"Pertumbuhan sangat melambat dihadapi Eropa, tantangan besar juga menghadapi perekonomian Jepang, sementara memang pemulihan ekonomi di AS terlihat, namun saya kira kita perlu melihat 'outlook' untuk masa depan perekonomian," ucapnya.Ketika pemulihan ekonomi negara-negara global masih melambat, Mahendra menegaskan negara-negara berkembang, terutama Indonesia, serta "emerging economies" akan mengambil posisi penting dalam rantai perdagangan dunia.

Indonesia, dan negara-negara berkembang lainnya telah bertransformasi dari negara basis produksi menjadi negara yang menawarkan pasar yang kuat. Hal itu akan membuat negara-negara maju tergiur untuk lebih menanamkan banyak modalnya di negara berkembang."Ini sangat penting untuk berperan dalam sisi permintaan (demand) perekonomian dunia, bukan hanya di sisi pasokan (supply)," ujar dia.

Strategi yang harus diterapkan Indonesia dan negara berkembang lainnya adalah memprioritaskan pengembangan industri bernilai tambah, dan di sisi lain mengoptimalkan juga pasar domestik, ketika perdagangan dunia masih lesu."Indonesia tidak akan puas di jumlah yang kecil dalam nilai tambah, tapi ingin selalu lebih tinggi dalam mengembangkan industri nilai tambah," ujar dia. [ardi]

BERITA TERKAIT

Banten November Alami Inflasi 0,35 Persen

Banten November Alami Inflasi 0,35 Persen NERACA Serang - Provinsi Banten pada bulan November 2017 mengalami inflasi 0,35 persen dibandingkan…

Integrasi Ekonomi Jadi Penantian Lama ASEAN

Oleh: Roy Rosa Bachtiar Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang telah diluncurkan pada 31 Desember 2015 sebagai tipe baru integrasi ekonomi…

Ekonomi Jangan Terganggu Politik

NERACA Jakarta - Presiden Joko Widodo wanti-wanti dengan dimulainya tahun politik yaitu Pilkada di 2018 dan Pilpres di 2019. Jokowi…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Menkeu Harap Swasta Makin Banyak Terlibat di Infrastruktur

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap makin banyak pihak swasta yang terlibat dalam pembangunan…

Menggenjot Skema KPBU di Sektor Pariwisata

    NERACA   Jakarta - Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang tumbuh secara masif di tahun ini. Bahkan,…

BPJS Ketenagakerjaan Siapkan Layanan Digital

      NERACA   Jakarta - Era digital menuntut semua pihak untuk dapat memenuhi tuntutan pelanggan dengan mudah dan…