Rendah, Investasi Indonesia Keluar

Selasa, 25/11/2014

NERACA

Jakarta - Head of International Trade Research Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyrakat UI, Kiki Verico mengutarakan Indonesia harus mulai menyeimbangkan antara pemasukan dariforeign Direct Investment(FDI) aliasinvestasiasing langsung, dengan FDI Outflow.

Pasalnya, masuknyaInvestasiLangsung ke dalam negeri dapat menumbuhkan perekonomian negara. Sedangkan Investasi Langsung Ke luar negeri yang dilakukan Indonesia masih relatif rendah, dibandingkan dengan investasi langsung luar negeri yang masuk ke Indonesia. "FDI Indonesia yang keluar negeri cuma USD16,1 miliar pada 2014. Sedangkan, FDI yang ke dalam Indonesia USD230,3 miliar pada 2013," kata dia di Jakarta, Senin (24/11).

Investasi langsung ke luar negeri tersebut, lanjut dia, bisa digunakan pemerintah untuk meningkatkan sumber daya manusia. Pasalnya, untuk mendapatkan investor yang ingin berinvestasi langsung ke Indonesia, pemerintah butuh meningkatkan tenaga kerja yang memadai.

"Karena sekarang tenaga kerja kita masih berada di tingkat bawah, dibandingkan negara lain. Selain itu, untuk mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas kita membutuhkan adanya pendidikan bagi ke tenagakerja Indonesia,"ungkapnya.

Sebelumnya, Mahendra Siregar, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, mengakui saat ini jumlah perusahaan asal Indonesia yang investasi di luar negeri sangat sedikit. Investasi ke luar negeri perlu ditingkatkan jika Indonesia ingin diperhitungkan sebagai satu negara yang akan menuju negara maju.

Menurutnya, saat ini perusahaan Indonesia masih melihat pasar dalam negeri dan lebih mementingkan peningkatan keuntungan semata. Padahal untuk menjadi perusahaan yang diperhitungkan perlu lebih dikenal. Oleh karena itu kualitas produksi harus ditingkatkan.

" Kalau mau jadi negara yang ekonominya diperhitungkan keberadaan kita dalam bentuk investasi di luar sangat mutlak, untuk itu ke depan akan kita mulai dari ASEAN terlebih dahulu dan kita akan dorong terus untuk mengokohkan keberadaan kita," tegasnya.

Sementara itu menurut Josua Pardede, Ekonom PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII), memperkirakan tahun ini realisasi investasi Indonesia ke luar negeri berpotensi menurun. Hal tersebut disebabkan karena perusahaan mengalami penurunan kinerja akibat dampak depresiasi rupiah 2013 lalu.

Di samping itu, dampak kenaikan suku bunga tahun lalu juga akan memperlambat pertumbuhan konsumsi rumah tangga, sehingga dari sisi demand diperkirakan juga menurun. Hal itu sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang melambat menjadi 5,6% tahun ini.

"Penurunan investasi langsung Indonesia ke luar negeri dari 2011 ke 2013 lebih disebabkan meningkatnya pembayaran utang dari anak perusahaan di Indonesia kepada induk perusahaan di luar negeri. Penurunan investasi (di dalam negeri) akibat dari tingginya inflasi, tingkat suku bunga yang naik dan naiknya upah minimum provinsi," jelasnya.

Sedangkan menurut Azhar Lubis, Deputi Bidang Pengendali Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal, mengatakan besarnya investasi Indonesia ke luar negeri didorong oleh minat pengusaha memperluas pasar.

Menurutnya, pemerintah terus mengupayakan agar investor domestik mencari pasar di luar negeri. Selain memperluas networking pasar global, investasi di luar diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan teknologi industri, dan juga perluasan mitra usaha.

"Sampai saat ini memang tidak ada kewajiban perusahaan atau warga negara Indonesia yang investasi ke luar negeri melapor ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), tapi berdasarkan minat BKPM ikut mendorong pengusaha domestik memperluas pasar dan mencari teknologi," jelasnya kepada IFT.

Azhar mengungkapkan, negara-negara yang saat ini menjadi sasaran investasi langsung Indonesia di luar negeri antara lain kawasan ASEAN seperti Malaysia, Vietnam, Laos, Kamboja, Filipina, Singapura dan Thailand. Sedangkan, di luar ASEAN yaitu China, Australia, Inggris, Jerman, Amerika, beberapa negara Afrika dan Timur Tengah. [agus]