Kadin Bantu Singapura Jajaki Sektor Maritim Indonesia

Penanaman Modal Asing

Selasa, 25/11/2014

NERACA

Jakarta – Singapura menjajaki peluang bisnis di Indonesia, terutama sektor maritim, dengan bantuan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Teo Ser Luck dalam pertemuannya dengan jajaran pengusaha Kadin mengatakan meski masih penjajakan, sektor maritim adalah yang paling menarik karena negaranya sudah berpengalaman di bidang itu.

"Saya rasa pemerintah dan Kadin menyoroti sejumlah sektor yang begitu menarik, seperti misalnya maritim. Singapura juga punya pengalaman di sektor tersebut. Perusahaan kami sudah membangun banyak pelabuhan dan kami punya perusahaan terbesar yang berinvestasi di infrastrukturnya," jelasnya, dikutip dari Antara di Jakarta, Senin (24/11).

Luck menuturkan, sebagai mitra bisnis Singapura, Indonesia memegang peranan penting dalam ekonomi Asia. Oleh karena itu ia mengaku akan terus mencari peluang kerja sama, terutama mendekati Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

Kendati demikian, Luck mengatakan pihaknya belum memastikan akan berinvestasi di bidang mana saja. Pasalnya, ia mengaku memberi kebebasan pada sektor swasta untuk melakukan penilaian dan memutuskan akan berinvestasi di sektor apapun. Terlebih, dalam kunjungannya itu, ia membawa serta sekitar 30 pengusaha dari berbagai sektor bisnis. "Sebagai pemerintah dan pemimpin negara, kami hanya mendukung saja," ujarnya.

Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto, dalam kesempatan yang sama, mengatakan negara tetangga itu begitu tertarik dengan beberapa sektor yang diberikan prioritas oleh pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla.

"Misalnya maritim, itu karena mereka memiliki kemampuan dan teknologinya. Jadi mereka menyampaikan niat mereka untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan maritim Indonesia," ujarnya.

Suryo juga menuturkan, delegasi Singapura yang datang mewakili berbagai sektor bisnis itu juga mengaku tertarik pada bidang infrastruktur, pembangkit listrik hingga konektivitas. Hal itu menunjukkan bahwa Indonesia kini dilihat sebagai negara yang memiliki potensi besar sehingga amatlah penting bagi pemerintah untuk menciptakan iklim usaha yang mendukung.

"Mereka adalah delegasi pertama sejak pemerintah kita yang baru ini. Mereka datang dengan begitu banyak pengusaha yang berminat untuk investasi di Indonesia. Jadi ini sangat menggembirakan," katanya.

Berdasarkan data statistik komoditas perdagangan PBB (UN Comtrade) pada 2013, total perdagangan antara Indonesia dan Singapura mencapai 59,79 miliar dolar AS, meningkat dari 63,5 miliar dolar AS dari tahun sebelumnya.

Masih terkait pembangunan maritim, pekan sebelumnya, Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas, Dedy S Priatna mengatakan dalam draft RPJMN teknokratik, pihaknya sudah mengestimasi kebutuhan anggaran yang harus dikeluarkan oleh pemerintah jika ingin merealisasikan tol laut, dimana untuk investasi 24 pelabuhan sekira Rp 424 triliun.

Namun angka ini sangat jauh berbeda yang diproyeksikan Jokowi yang mencapai Rp700 triliun lebih. "Saya tidak tahu estimasi perhitungan dari Pak Presiden (Jokowi). Tapi memang angka Rp 424 triliun itu belum termasuk pengadaan kapal. Jadi jika ditotal pelabuhan dan kapal mungkin Rp700 triliun," kata Dedy.

Dedy mengungkapkan, pengadaan kapal untuk tol laut tersebut sekira Rp100 triliun sampai Rp150 triliun. Sedangkan biaya investasi untuk membangun pelabuhan terintegrasi lengkap dengan pembangkit listrik dan sebagainya mencapai sekira Rp70 triliun."Ya segitu investasinya. Tapi balik lagi konsep ini disetujui atau tidak oleh pak Jokowi," jelasnya.

Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional PPN/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago menuturkan konsep poros maritim yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan dimatangkan dalam dua bulan terakhir ini sebelum dimasukkan kedalam APBN-Perubahan 2015 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

"Perumusan konsep maritim sudah ada, dalam dua bulan terakhir ini, sebelum masukin kedalam APBN-P. Berpacu dalam waktu, saya minta para deputi untuk merumuskan sekalian jabarkan poros maritim," katanya.

Di tempat terpisah, dalam kesempatan lain, Sekertaris Dewan Kelautan Indonesia (Dekin), Dedy H Sutisna, mengungkapkan pihaknya mendukung penuh program tol laut dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk bisa menekan biaya transportasi maupun logistik nasional yang dianggal paling mahal se-Asia Tenggara.

“Logistik Indonesia paling mahal se-ASEAN. Jadi kami dari Dekin sangat mendukung program Presiden untuk merealisasikan tol laut agar cost logistic nasional bisa ditekan,” ujarnya.

Oleh karena itu, Dekin akan terus memonitor dan ikut serta memberikan masukan kepada presiden agar program tol laut ini bisa berjalan efektif. “Saat ini kami (Dekin) sedang mengkaji teknis maupun besaran anggaran yang harus dibutuhkan untuk dapat merealisasikan program itu, yang nantinya akan disampaikan langsung kepada Pak Jokowi,” imbuhnya.