Sierad Produce Tunda Reverse Stock

Lantaran Tidak Kuorum

Selasa, 25/11/2014

NERACA

Jakarta -Rencana perusahaan pakan ternak (poultry) PT Sierad Produce Tbk (SIPD) untuk melakukan reverse stock atau penggabungan nilai nominal saham tertunda. Pasalnya, rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) tidak kuorum karena hanya dihadiri 50,8% dari target 67%,”RUPSLB kali ini tidak kuorum," kata Wakil Direktur PT Sierad Produce, Eko Putro Sandjojo di Jakarta, Senin (24/11).

Sierad Produce berencana melakukan reverse stock atau mengurangi jumlah saham beredarnya, dengan rasio 1 banding 10. Reverse stock akan mengangkat harga saham SIPD yang saat ini berkuatat di level Rp 50 per saham. Dengan melakukan reverse stock 10:1 maka saham SIPD bisa mencapai level Rp 500 per saham. Meski demikian, aksi korporasi ini akan menurunkan volume perdagangan."Pergerakan saham kami membutuhkan kenaikan 2% agar bergerak, jadi dengan penggabungan saham 10:1 maka saham kami bisa bergerak lebih," kata Eko.

Sebelum reverse stock, perusahaan juga berencana melakukan rights issue tanpa hak memesan efek terlebih dahulu, hanya sekedar untuk membulatkan jumlah saham yang beredar, sehingga tidak ada investor yang memiliki pecaham saham yang tidak mencapai satu saham setelah reverse stock nanti.

Di sisi lain, Eko mengatakan pertumbuhan tahun depan diperkirakan stagnan lantaran perusahaan kekurangan modal. Perusahaan akan mencari investor baru demi menambah permodalan dan menjaga perusahaan tetap tumbuh

Seperti diketahui, Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan perdagangan sementara (suspensi) saham PT Sierad Produce Tbk (SIPD) sejak perdagangan sesi pertama Kamis (30/11). Suspensi tersebut terkait penjelasan lebih lanjut mengenai pelaksanaan penawaran umum terbatas (PUT), khususnya terkait rasio dan harga pelaksanaan.

Perseroan mengungkapkan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memberikan pengaruh kepada penjualan day old chicken (DOC) atau anak ayam umur sehari,”Saat ini rupiah di angka Rp 12.000-an lagi. Harga komoditas harganya turun. Akibatnya, income petani jadi kurang akibat income petani kurang. Daya beli juga berkurang," katanya.

Selain itu, Eko menjelaskan bahwa selain karena pelemahan nilai tukar rupiah, perseroan juga mengalami kelebihan suplai di mana secara industri setiap minggunya produksi mencapai 55 sampai 60 juta DOC. Padahal, permintaan DOC setiap minggunya hanya mencapai 40 juta sampai 43 juta DOC,”Harganya itu kemarin sempat menyentuh Rp 500 per DOC. Padahal, cost-nya itu kan sekitar Rp 4.000-an. Harga ayam sampai Rp 9.000-an," ucapnya.

Tercatat, pada kuartal III-2014 penjualan bersih perseroan hanya mencapai sebesar Rp 1,9 triliun atau turun dari periode yang sama tahun sebelumnya mencapai Rp 3,07 triliun. (bani)