BW Plantation Serap Capex Rp 400 Miliar

Selasa, 25/11/2014

NERACA

Jakarta – Perusahaan perkebunan, PT BW Plantation Tbk (BWPT) menyatakan bahwa sampai saat ini, perseroan telah menggunakan dana belanja modal ataucapital expenditure(capex) sebesar Rp 400 miliar. Ini artinya, perseroan telah merealisasikan dana capex mencapai sekitar 57,14% dari total capex perseroan tahun ini yang sebesar Rp 700 miliar.

Kata Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT BW Plantation Tbk, Kelik Irwantono, penyerapan belanja modal hampir Rp 400 miliar digunakan untuk melakukan penanaman serta pembangunan pabrik miliknya yang terletak di Kalimantan Tengah."Dananya itu kita gunakan untuk penanaman dan untuk pabrik," ujarnya di Jakarta,Senin (24/11).

Sekedar informasi, perseroan berencana untuk membangun pabrik di Kalimantan Tengah dengan kapasitas produksi sebesar 45 ton per jam, namun dapat ditingkatkan menjadi 60 hingga 80 ton per jam. Rencananya perseroan akan membangun pabrik pada tahun 2015 mendatang.

Sebelumnya, Direktur Utama BW Plantation Halim Ashari mengatakan perseroan siap menyuntikkan investasi sekitar US$ 10 juta hingga US$ 12 juta mendukung ekspansinya."Akhir kuartal IV tahun depan baru akan dimulai proses pembangunan pabrik kelapa sawit yang kelima," katanya.

Dengan bertambahnya pabrik baru perseroan maka total kapasitas produksinya akan bertambah menjadi 270 ton per jam, sementara hingga saat ini produksicrude palm oil(CPO) perseroan hanya sekitar 210 ton per jam dari empat pabrik kelapa sawit miliknya.

Dalam aksi korporasinya berupa penerbitan saham baru atau rights issue, perseroan menetapkan harga rights issue mencapai Rp400 per lembar saham sehingga diharapkan dapat meraih dana segar Rp10,8 triliun. Tambahan dana segar itu akan membuat aliran kas bertambah kuat dan perusahaan mampu membeli Grup Green Eagle.

Recapital Securities memaparkan dalam riset hariannya, BWPT menawarkan 27,02 milliar lembar saham atau 85,71% melalui mekanisme Penawaran Umum Terbatas (PUT). PUT I tersebut dilakukan melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Rencananya, perusahaan akan menggunakan dana itu untuk mengakusisi Grup Green Eagle seharga Rp10,53 triliun.

Aliran kas akan bertambah kuat dan perusahaan mampu untuk membeli Grup Green Eagle. Nantinya, dengan mengakuisisi Green Eagle, land bank yang dimiliki oleh perusahaan akan menjadi 400.000 hektar, lahan tertanam 147.000 hektar serta volume produksi Crude Palm Oil (CPO) dengan penggabungan bisnis ini pun akan meningkat dua kali lipat.

Peningkatan volume produksi (CPO) ini diharapkan juga akan mendongkrak pertumbuhan total pendapatan dan laba usaha perusahaan di masa depan. Terkait right issue ini, investor yang memegang 1 saham lama yang telah terdaftar pada 4 Desember 2014 berhak atas 6 HMETD, dengan 1 HMETD berhak untuk membeli 1 saham baru menggunakan harga pelaksanaan yang telah ditetapkan di atas.

Sementara itu, beberapa perusahaan telah siap menjadi pembeli siaga (stand buyer) apabila saham baru yang diterbitkan perusahaan tidak seluruhnya diserap oleh pemegang HMETD. Beberapa perusahaan yang telah siap menjadi pembeli siaga dalam right issues ini di antara nya PT Rajawali Capital International, PT BNI Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas dan PT Valbury Asia sekuritas. (bani)