Laju Inflasi & Perlambatan Ekonomi

Selasa, 25/11/2014

Oleh : Tumpal Sihombing

CEO – Bond Research Institute

Di dalam ilmu ekonomi dikenal istilah “ilusi uang”, bermakna jika income bertambah maka pengeluaran pun meningkat. Hal ini disebabkan adanya penambahan besaran nilai konsumsi pribadi/keluarga akibat terjadinya perubahan gaya hidup, baik disadari atau tidak. Yang jadi pertanyaan relevan kini adalah apa konsekuensinya jika harga barang/jasa di pasar/industri secara umum meningkat namun penghasilan/revenue tak bertambah? Jawabannya gamblang, tingkat pengangguran meningkat dan kesejahteraan masyarakat pun merosot. Tak perlu jenius untuk memahami logika perekonomian ini.

Bank Indonesia telah menetapkan suku bunga acuan menjadi 7,75%. BI tentunya telah memiliki skenario akan dampak dari keputusan ini. Secara kontekstual, BondRI menilai bahwa laju inflasi sedang bergerak naik secara bertahap dan signifikan pasca kebijakan harga BBM minggu lalu. Kebijakan ini sangat berpotensi menyebabkan perekonomian mengalami cost-push inflation. Ini terjadi jika perekonomian mengalami kenaikan harga BBM, sehingga ongkos produksi dan harga ragam bahan baku kebutuhan masyarakat pun secara agregat mengalami kenaikan.

Cost-push inflation yang berlangsung cepat dapat menyebabkan ekonomi melambat (pertumbuhan ekonomi menurun), yang jika terus berlanjut akan menurunkan kualitas kesejahteraan rakyat secara masif. Persepsi publik yang awam terhadap cost-push inflation mudah terbawa ke konotasi negatif. Kondisi ini juga dapat terjadi oleh karena beberapa penyebab lain seperti imported inflation (jika rupiah konsisten terdepresiasi, maka harga barang impor akan tetap naik), kenaikan harga barang kebutuhan pokok, serta tuntutan kenaikan upah minimum.

Secara historis para buruh dan pekerja merupakan elemen perekonomian yang paling sensitif dengan adanya kenaikan biaya hidup. Selain itu para pengusaha serta investor juga mengalami nasib yang identik akibat gerusan laju inflasi terhadap nilai return of investment/profit mereka. Masyarakat awam kini dapat merasakan naiknya laju inflasi, naiknya harga-harga kebutuhan serta biaya transportasi. Cepat atau lambat para buruh dan pekerja akan lebih intens dan sering lagi menyampaikan tuntutan mereka terhadap hidup yang semakin sulit.

Jika ekspektasi laju inflasi terkendali, BI mudah mengatasinya dengan kebijakan di ranah moneter. Namun jika laju inflasi bergerak di luar ekspektasi (karena terkait dinamika harga minyak dunia), maka pendekatan moneter semata bakal sulit efektif. Untuk ini Pemerintah sebaiknya menerapkan kombinasi moneter-fiskal. Langkah fiscal deflationary biasanya diterapkan melalui kebijakan penyesuaian besaran pajak, penurunan nilai belanja serta peningkatan tingkat suku bunga acuan. Langkah tersebut menyebabkan borrowing cost meningkat, belanja berkurang dan meningkatnya niat investasi pengusaha. Namun problema klise penerapan langkah fiskal-moneter ini untuk stabilisasi perekonomian adalah justru berpotensi menurunkan nilai PDB riil berjalan, dimana pertumbuhan ekonomi akan menurun dalam jangka pendek.

Impian Jokowi-JK adalah mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 7% dalam periode 2014-2019. Impian ini membutuhkan investasi senilai Rp 5.500 T. Dalam kondisi perekonomian saat ini, impian Jokowi-JK tersebut sangat membutuhkan perhatian,doa, dukungan dari seluruh rakyat Indonesia secara total.