Pasar Properti Semakin Terpuruk

Harga BBM dan BI Rate Serempak Naik

Senin, 24/11/2014

NERACA

Jakarta - Kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Ratesebesar 25 basis poin (bps) menjadi 7,75% diperkirakan membuat pasar perumahan Indonesia tumbang."Kenaikan harga BBM bersubsidi dan BI Rate.Kedua komponen inimembuat pasar properti semakin terpuruk," ujar Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (22/11) pekan lalu.

Menurut dia, kondisi tersebut bakal membuat situasi perlambatan properti semakin turun tajam, yang terindikasi dari telah terjadinya penurunan lebih dari 69% pada kuartal III 2014 dibandingkan kuartal III 2013.Indonesia Property Watch juga memperkirakan bahwa dengan perkiraan setiap kenaikan satu persen suku bunga akan menurunkan daya beli sebesar 4%-5%."Saya memperkirakanpenurunan daya beli properti minimal 30%," tambah Ali.

Selain itu, imbuhnya, para pengembang akan berhati-hati untuk menaikkan harga properti mereka menyusul akan segera naiknya biaya konstruksi dan biaya pendanaan.Dengan begitu, Ali memprediksi pada 2015 akan menjadi titik terendah penjualan pasar properti.

"Para pengembang diharapkan dapat lebih waspada melakukan ekspansi. Baik itu untuk segmen menengah maupun ke atas. Namun demikian, arus dana asing yang akan masuk ke Indonesia terkait MEA 2015 akan dapat memberikan pertumbuhan yang baik, khususnya sektor industri," ujarnya.

Sementara menurut Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia, Eddy Hussy, mencemaskan turunnya daya beli masyarakat di sektor perumahan terkait dengan kebijakan Bank Indonesia yang memutuskan untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan."Kami sangat khawatir kalau bunga terus naik akan menghambat masyarakat untuk membeli properti," terang dia.

Terlebih, jumlah tingkat kebutuhan perumahan di tengah masyarakat masih sangat besar apalagi mengingat jumlahbacklog(kebutuhan rumah) yang diperkirakan mencapai lebih dari 15 juta unit di Tanah Air.

Kebijakan suku bunga tinggi ini terpaksa dilakukan untuk merespon ekspektasi inflasi, menjaga kondisi defisit neraca berjalan, menjaga likuiditas perbankan, dan meningkatkan pertumbuhan kredit. Hal-hal ini berkaitan erat dengan kenaikan harga BBM.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa saat ini masalah yang dihadapi kompleks. "Untuk itu, kami menaikkan suku bunga acuan untuk mengantisipasi inflasi dan tekanan inflasi yang meningkat. Pertumbuhan kredit yang kini hanya 13%, pertumbuhankredit tahun depan harus 15%-17%," tuturnya.

Adapun bank sentral sudah memperhatikan ekspektasi industri. Langkah Bank Indonesia meningkatkan suku bunga acuan bisa meyakinkan industri bahwa ekspektasi yang ada cukup terjangkar. "Respon dari Bank Indonesia tentu memperhatikan ekspektasi industri," pungkas Perry. [agus]