Obligasi Tidak Kalah Likuid Dengan Saham

Rilis Indonesia Bond Index

Senin, 24/11/2014

NERACA

Jakarta – Sama halnya dengan pendalaman pasar modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali mengajak masyarakat untuk memanfaatkan instrument surat utang atau obligasi sebagai pendanaan jangka panjang. Pasalnya, selama ini belum banyak masyarakat atau investor memanfaatkan obligasi sebagai investasi jangka panjang.

Padahal ditengah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, investasi surat utang atau obligasi dinilai memberikan keuntungan besar. Tengok saja, kenaikan inflasi sebagai imbas kenaikan BBM banyak mendorong masyarakat pasar modal meminati obligasi, “Ini menunjukan kebijakan pemerintah dalam jangka pendek itu positif,"kata Direktur Utama Indonesia Bind Pricing Agency (IBPA), Ignatius Girendroheru di Jakarta, kemarin.

Dia mengungkapkan, ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan bahwa kenaikan harga BBM bersubsidi dan pengalihan subsidi tersebut pada 18 November 2014 lalu mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pasar obligasi mengalami kenaikan. Kondisi ini mempertegas, bila pasar masih positif hingga Bank Indonesia mengumumkan BI rate.

Sementara meski IHSG kemarin mengalami penurunan, namun obligasi tetap menunjukan kenaikan dan diyakini pertumbuhan pasar obligasi Indonesia ke depan akan semakin stabil. Sementara Direktur IBPA, Wahyu Trenggono memproyeksikan, trend imbal hasil (yield) obligasi bertenor 10 tahun akan naik 1,5 % menjadi 9,5%.

Namun kedepan, menurutnya, pasca kenaikan BBM adalah tekanan inflasi dan suku bunga bank sentral AS the Fed. Selain itu, IBPA memperkirakan, pasar surat utang 2015 diperkirakan tumbuh di level 11% hingga 12% per tahun, berbanding IHSG yang tumbuh 18,95%. Hal ini akan diikuti penerbitan surat utang baru oleh korporat mencapai Rp 60 triliun dari proyeksi jumlah tahun ini sebesar Rp 35 triliun. "Obligasi korporasi akan tumbuh positif mengingat tahun 2015 kondisi inflasi sudah normal," tambahnya.

Wahyu menambahkan minat investor asing sendiri terutama terhadap obligasi negara masih akan tinggi tahun pada depan. Indeks obligasi negara naik 11,93% sejak awal tahun (year to date/ytd)."Tapi memang yang butuh dicermati adalah mengenai pergerakan nilai tukar rupiah karena investor asing melihat itu," katanya.

Ketua Komisioner OJK, Muliaman D Hadad mengungkapkan, saat ini sumber informasi untuk pasar obligasi sebagai instrumen investasi di Indonesia masih sangat minim. Informasi berkaitan obligasi penting mengingat, obligasi bisa menjadi salah satu sumber alternatif pembiayaan. "Instrumen obligasi secara perlahan pasti ke ekonomi kita. Untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, membutuhkan sumber pendanaan," jelasnya.

Perlakuan pasar obligasi berbeda dengan pasar uang atau valuta asing (valas) yang bisa memanfaatkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) sebagai sumber informasi. Apalagi jika dibandingkan dengan pasar modal untuk instrumen saham. Selama ini PT Bursa Efek Indonesia (BEI) secara masif memberikan berbagai infomasi indeks saham untuk pelaku pasar.

Muliaman pun menekankan, dengan adanya Indobex ini diharapkan dapat memberikan informasi dan referensi terhadap perkembangan pasar obligasi Tanah Air. Indobex, diharapkan juga untuk mengantisipasi risiko di sektor keuangan. (bani)