XL Axiata Segera Pangkas Beban Utang

Raup Dana Segar Rp 5.6 Triliun

Senin, 24/11/2014

NERACA

Jakarta – Sukses menjual 3.500 menara BTS kepada pemenang tender PT Solusi Tunas Pratama Tbk, rencananya akhir Desember perseroan akan menerima transaksi penjualan tersebut senilai Rp 5.6 triliun, "Untuk transaksi pelepasan tower akan dibayar pada akhir Desember 2014 dan dana tersebut akan digunakan untuk membayar utang," kata Presiden Direktur PT XL Axiata Tbk, Hasnul Suhaimi di Jakarta, kemarin.

Disebutkan, perseroan telah melakukan penandatangan perjanjian pembelian aset atau Asset Purchase Agreement (APA) dengan Solusi Tunas Pratama pada awal Oktober 2014 lalu. Sebagai catatan, XL pada awal Maret 2014 telah menandatangani perjanjian pembelian saham PT Axis Telekom Indonesia (Axis) sebesar US$ 869 juta atau setara Rp10,428 triliun (kurs Rp12.000).

Sebelumnya, perseroan telah menandatangani perjanjian pinjaman dengan induk usaha, Axiata Group Berhad sebesar US$ 500 juta,”Dengan pembayaran tower sebesar Rp5,6 triliun, saya rasa sudah cukup untuk membayar utang dan ke depannya kami belum ada lagi rencana untuk menjual tower," paparnya.

Bersamaan dengan penandatanganan perjanjian pembelian aset, XL dan SUPR juga menandatangani perjanjian induk sewa menara, dengan XL telah setuju untuk menyewa kembali menara yang telah dijual kepada SUPR untuk jangka waktu 10 tahun.

Selain itu, XL juga mendapatkan persyaratan sewa yang kompetitif sebagai penyewa utama yang memberikan manfaat bagi XL berupa penghematan atas belanja modal dan biaya operasional perusahaan.

Perseroan menilai, aksi korporasi menjual menara BTS adalah langkah tepat karea akan meningkatkan nilai portofolio menara XL. Selain itu, total nilai aset EXCL juga akan bertambah 9,36% dari Rp 58,42 triliun menjadi Rp 63,89 triliun.

Selain itu, aset lancar XL juga meningkat 69,84% dari Rp 8,82 triliun menjadi Rp 14,98 triliun. Sedangkan, aset tak lancar turun tipis dari Rp 49,59 triliun menjadi Rp 48,91 triliun. Selain itu, ekuitas akan naik 37,01% Rp 13,05 triliun menjadi Rp 17,88 triliun.

Bila mengasumsikan laporan keuangan EXCL semester I 2014, beban pajak yang awalnya ditanggung Rp 12,49 miliar akan akan berbalik menguntungkan Rp 267,51 miliar. Kemudian, EXCL yang merugi Rp 482,52 miliar ini bisa meraih laba Rp 3,73 triliun. Maklum sampai semester I-2014, XL menderita rugi bersih Rp 482,52 miliar dari sebelumnya laba Rp 670,42 miliar secara year-on-year. Padahal pendapatan XL kala itu naik 12,14% menjadi Rp 11,54 triliun.

Analis Batavia Prosperindo Sekuritas, Arandi Nugraha pernah bilang, aksi ini akan membuat EXCL mengalami penurunan rasio utang. Dirinya memperhitungkan, debt to equity ratio (DER) EXCL akan berkurang dari 2,32 kali menjadi 1,89 kali. Kemudian, debt to asset ratio (DAR) turun dari 0,51 kali menjadi 0,42 kali.

Menurut Arandi, pengurangan utang ini bisa mempengaruhi kinerja EXCL secara signifikan. Pasalnya, pembayaran beban bunga EXCL akan berkurang. Hanya saja, dampaknya baru akan terasa di tahun depan. Untuk tahun ini, eksposure utang pembelian Axis masih akan menghantui kinerja perseroan. Arandi bilang, laba EXCL masih akan merosot 64,4% menjadi Rp 367,38 miliar. Namun pendapatan EXCL tumbuh 17,12% menjadi Rp 24,9 triliun.(bani)