Saatnya Menjadi Tuan di Negeri Sendiri

Dukungan Untuk Developer Lokal

Jumat, 21/11/2014

NERACA

Jakarta – Indonesia memiliki potensi bisnis industri kreatif yang cukup besar, apalagi dengan di dukung bonus demografi yang di barengi dengan peningkatan jumlah penduduk berusia produktif antara usia 15 tahun sampai 65 tahun, tentunya memacu pertumbuhan ekonomi menjadi lebih pesat lagi. Oleh karena itu, industri ekonomi kreatif kini menjadi backbone kuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Saat ini, salah satu tren industri kreatif yang tengah digalakkan adalah pengembangan aplikasi teknologi informasi atau industri game. Hal ini ditunjang seiring dengan pesatnya pengguna smartphone di Indonesia hingga menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Menurut lembaga riset GfK Asia menyebutkan, Indonesia telah membeli sebanyak 14,8 juta smartphone dengan harga pengeluaran US$ 3,33 miliar (Rp 39,1 triliun). Hal ini sekaligus membuat Indonesia berada di peringkat pertama sebagai negara paling konsumtif dalam hal pembelian smartphone di Asia Tenggara.

Namun sayangnya, besarnya pengguna smartphone di Indonesia belum sejalan dengan pengembangan konten lokal yang digarap para developer lokal. Alhasil, saat ini ide kreatif digital para developer lokal belum menjadi tuan di rumah sendiri dan termasuk untuk industri game. Padahal, sejatinya ide kreatif para developer muda Indonesia tidak kalah bersaing dengan negara tetangga.

Maka menjawab kebutuhan pasar dan memfasilitas pengembangan ide kreatif developer lokal dan juga misi pengembang industri kreatif, Telkomsel membangun ekosistem Device, Network and Aplication (DNA) secara berkesinambungan, salah satu caranya dengan menggelar Digital Creative Indonesia (DCI).

Direktur Utama Telkomsel Alex J Sinaga mengatakan, setidaknya ada 3 program mahakarya Telkomsel antara lain Mobile Grapari Indonesia, Mobile Broadband Indonesia dan Digital Creative Indonesia,”Kami mengharapkan dengan DCI ini akan mampu menciptakan hubungan harmonis antara Telkomsel, pengembang aplikasi dan produsen telpon seluler di Indonesia. Melalui DCI ini, kami juga berharap kedepannya industri digital kreatif di Indonesia akan lebih dinamis dan menghasilkan lebih banyak lagi inovasi dan karya anak negeri,”ujarnya.

Sebagai langkah awal DCI, lanjut dia, Telkomsel malalui Telkomsel Applications Developer (Teman Dev) menggandeng developer muda di Indonesia untuk bersama-sama memperkenalkan 68 aplikasi lokal karya anak negeri. "Dengan jumlah lebih dari 125 juta pelanggan, jalur distribusi, media channel dan infrastruktur yang dimiliki, kami merasa optimis bahwa bersama-sama dengan developer lokal akan mampu menggairahkan industri digital kreatif Indonesia," imbuhnya.

Bahkan untuk membangun industri kreatif Indonesia, Telkomsel meluncurkan Digital Creative Indonesia Competition (DCIC). Alex menuturkan kegiatan ini untuk menjaring potensi-potensi muda di Indonesia. Kompetisi dengan tiga katagori lomba ini yaitu aplikasi mobile paling Indonesia, video paling Indonesia dan kontributor paling Indonesia,”Komeptisi ini kami harapkan dapat menjaring sosok insan muda yang memiliki jiwa inspiratif dalam mendukung terbentukanya masyarakat digital Indonesia. Dan juga siap dan mampu bersaing secara global namun tetap mempertahankan nilai-nilai bangsa Indonesia," tuturnya.

Digital Service

Selain itu, di era digital dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang ingin lebih praktis, efisien dan mudah, makin memacu Telkomsel mengembangkan layanan digital service yang saat ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Telkomsel memproyeksikan dengan memaksimalkan layanan digital atau digital service akan mampu memberikan kontribusi pendapatan hingga 30% pada 2015. Pasalnya, digital services memiliki prospek menjanjikan dimasa depan melalui penyediaan konten dan aplikasi digital yang memberikan nilai tambah bagi pelanggan. “Telkomsel terus berusaha mengembangkan potensi pendapatan di luar tradisi saat ini, seperti layanan suara (voice) dan pengiriman pesan singkat (SMS). Bisnis digital services mengalami pertumbuhan cukup pesat,” kata Vice President Digital Lifestyle Telkomsel, Marina Kacariba.

Menurut Marina, pesatnya bisnis digital juga tidak lepas dari tingginya pertumbuhan penjualan telepon seluler pintar (smartphone) di Indonesia. "Saat ini, penjualan smartphone di Indonesia masih berkisar 20-30% dari total penjualan telepon seluler, tetapi dua tahun kedepan atau tahun 2015, smartphone akan merajai pasar dalam negeri sehingga mulai sekarang kami sudah harus bersiap,”ungkapnya

Dalam layanan digitalnya, lanjut Marina, Telkomsel tidak hanya mengandalkan aplikasi-aplikasi populer yang sudah ada di pasar, tetapi juga menjual produk-produk dari mitra pengembang seperti buku digital, musik digital, layanan uang digital, hiburan, dan sosial media. "Total ada sekitar 100-an pengembang aplikasi yang sudah kami gandeng, termasuk 68 pengembang lokal yang menjalin kerja sama dengan Telkomsel," tambah Marina.

Pada kuartal tiga tahun ini, pelanggan Telkomsel mencapai 139,3 juta pelanggan atau tumbuh 8,9% YoY (Year on Year) dan pertumbuhan di segala lini bisnis baik digital (mobile broadband dan digital services) maupun bisnis suara dan SMS. Hal ini menjadikan Telkomsel selama 3 tahun berturut-turut memiliki kinerja keuangan yang solid dan mampu menjaga pertumbuhan pendapatan sebesar 10% ditengah-tengah industri telekomunikasi yang telah mature. Tingkat profitabilitas mampu dijaga dengan baik, dengan EBITDA margin konsisten di atas 55% dan net income margin di atas 28%. (bani)