DJPT KKP Gelar Bali Tuna Conference 2014

Jaga Keseimbangan Populasi dan Permintaan Pasar

Jumat, 21/11/2014

NERACA

Denpasar – Dalam rangka menjawab menurunnya populasi ikan tuna dan menjawab meningkatnya permintaan pasar global akan ikan tuna, maka Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar Bali Tuna Conference 2014.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, KKP, Gellwynn Jusuf mengatakan, salah satu tantangan yang dihadapi saat ini baik nasional maupun internasional adalah menurunnya populasi ikan tuna, padahal permintaan pasar internasional semakin meningkat.

“Untuk mengatasi hal ini, maka kami mengajak seluruh stakeholder dari berbagai negara untuk mensinkronisasikan kebijakan agar dapat menemukan solusi akan pemanfaatan sumber daya ikan tuna, dan menjawab kebutuhan ikan tuna global. Bali Tuna Conference ini sebagai wujud untuk melahirkan arah kebijakan menghadapi tantangan kebutuhan ikan tuna ke depan,” kata Gellwynn saat menghadiri acara Bali Tuna Conference 2014, yang mengangkat tema “Mainstreaming Sustainable Tuna Management In The Asia Pasific”, di Hotel Sheraton, Denpasar, Bali, Kamis (20/11/2014).

Mengingat, lanjut Gellwynn, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil tuna terbesar di dunia. Oleh karenanya Indonesia termotivasi untuk mengambil tindakan lebih lanjut dengan mengadakan konferensi untuk menjembatani kesenjangan antara kebutuhan pasar dan langkah-langkah manajemen yang diperlukan di tingkat hulu. “Harapannya konferensi ini dapat membahas platform yang mampu mempromosikan upaya pengelolaan ikan di tingkat nasional dan regional,” ujarnya.

Dalam catatan DJPT, data produksi ikan tuna lima tahun terakhir menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil tuna terbesar di dunia. Tercatat, rata-rata produksi tuna, cakalang dan tongkol yang dihasilkan mencapai lebih dari 1,1 juta ton per tahun dengan nilai perdagangan yang disumbangkan sekitar Rp 40 triliun. “Sumbang sih ikan tuna lumayan besar, oleh karenanya dengan manajemen yang lebih baik ke depannya diharapkan mampu menghasilkan jauh lebih besar lagi,” ucapnya.

Sedangkan, berdasarkan data dari FAO melalui State of World Fisheries and Aquaculture (SOFIA) 2014, sekitar 6,8 juta metrik ton berbagai jenis tuna ditangkap di seluruh dunia. Dari jumlah itu, sekitar 4,5 juta ton berasal dari produksi utama tuna, seperti albacore, bigeye, bluefin, skipjack dan yellowfin. Pada tahun yang sama, secara global Indonesia berhasil memasok lebih dari 16% total produksi tuna dan sejenisnya secara global. “Permintaan pasar dan harga yang tinggi membuat produksi tuna kian menjadi primadona di tingkat global,” terangnya.

Namun begitu, pasar ikan tuna terutama di pasar global telah memberlakukan standar kualitas tinggi. Untuk itu, perlu dirancang agar mampu menjamin kebutuhan yang berkelanjutan. Maka disinilah pentingnya dari konferensi ini. “Hasil dari konferensi ini bukan hanya kita menggunakannya sebagai arah kebijakan guna peningkatan produksi ikan tuna nasional di tingkat hulu secara berkelanjutan, tapi kita kita juga merujuk pada ketentuan dan aturan perdagangan secara internasional. Sehingga apa yang kita hasilkan dapat diterima negara manapun, dan tentu saja akan memberikan keuntungan bagi Indonesia,” tuturnya.

Adapun tujuan Konferensi Tuna Bali bergerak lebih jauh melampaui Konferensi Tuna Dunia yang digelar Mei 2014 lalu di Bangkok oleh InfoFish. “Secara khusus kami ingin lebih menekankan pada penguatan manajemen operasional perikanan tuna yang berkelanjutan. Sehubungan dengan ini, dalam konferensi ini Rencana Pengelolaan Perikanan Indonesia will launch Indonesian Tuna, diikuti oleh deklarasi Pernyataan Bali untuk pelaksanaan Rencana untuk menunjukkan komitmen kami untuk mematuhi tindakan konservasi dan pengelolaan perikanan tuna internasional,” beber Gellwynn.

Konferensi ini dihadiri oleh sekitar 400 peserta yang berasal dari RFMOs (IOTC, WCPFC, CCSBT), CTI dan FFA negara anggota; perwakilan organisasi internasional, termasuk FAO, SEAFDEC, ISSF, IPNFL, WWF, USAID, SFP, TNC, CI, PERDAMAIAN GREEN, The Asia Group, FFA dan sebagainya; dan perwakilan dari kementerian/lembaga, organisasi, pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, peneliti, asosiasi perikanan dan pengusaha perikanan tuna di Indonesia.

“Harapannya konferensi ini akan memberikan manfaat dan kontribusi untuk pengelolaan perikanan tuna nasional yang lebih baik di masa-masa mendatang dan tentunya akan memberikan banyak keuntungan bagi Indonesia,” tukasnya.