BPSDM KP Harap Indonesia Jadi Eksportir Ikan Hias Nomor 1 Dunia

NERACA

Jakarta - Perkembangan ikan hias sangat pesat dan kian diminati masyarakat, termasuk di wilayah perkotaan. Namun, selain untuk memenuhi pasar domestik, ikan hias asal Indonesia juga menjadi komoditi andalan ekspor yang menghasilkan omzet miliaran rupiah. Oleh karenanya, diharapkan Indonesia menjadi negara pengekspor ikan hias nomor satu di dunia.

"Indonesia sekarang menjadi negara pengekspor ikan hias nomor tiga di dunia dan diharapkan akan bisa menjadi nomor satu di dunia yang bisa menyalip negara Singapura yang berada di nomor dua di dunia," kata Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP), Suseno Sukoyono, seusai acara pemecahan Rekor MURI "Jumlah Pemelihara Cupang Hias terbanyak di Kampus", di Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta, Kamis (20/11).

Suseno menjelaskan Singapura menjadi tujuan ekspor ikan hias Indonesia terbesar dengan nilai ekspor US$20 juta dengan sepuluh jenis spesies ikan hias. Sedangkan nilai keseluruhan ekpor ikan hias Indonesia mencapai US$60 juta dan diharapkan akan meningkat menjadi US$100 juta. "Ekspor ikan hias sendiri didominasi oleh ikan hias air tawar yang mencapai 70% sedangkan sisanya 30% berasal dari ikan hias air laut," ujar dia.

Dia pun menjelaskan Indonesia mempunyai komoditas ikan hias yang melimpah sehingga memerlukan penanganan yang serius dan berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat. Ikan hias itu sendiri banyak sekali berasal dari luar negeri kemudian dibudidayakan lagi di Indonesia, lalu dikirim kembali sebagai komoditi ekspor. "Namun, kita harapkan ikan hias itu berasal dari lokal atau dalam negeri Indonesia sehingga bisa membanggakan kita di dunia internasional," tambah Suseno.

Hasil Sensus Pertanian 2013, kata Suseno, dari 16 bidang pada sektor pertanian yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), bidang kelautan dan perikanan menempati rata-rata pendapatan rumah tangga tertinggi dibandingkan dengan kategori-kategori lainnya. Kisarannya antara Rp18-50 juta per tahun. Sementara bidang lainnya (non kelautan dan perikanan) hanya berkisar antara Rp8-20 juta.

"Dari seluruh kategori tersebut, ikan hias menempati peringkat tertinggi rata-rata pendapatan rumah tangga per tahun jauh di atas bidang-bidang lainnya, yaitu sebesar Rp50 juta. Hasil ini sangat pantantastik. Sangat menarik untuk terus dikembangkan, begitu hebatnya potensi ikan hias kita," ungkap dia.

Dia juga mengatakan ikan hias ini sendiri untuk pasar tidak terbatas pada pasar domestik, tetapi telah merambah ke manca negara. BPSDM KP telah menyusun langkah-langkah strategis melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan kelautan dan perikanan. Selain itu ada upaya-upaya memasyarakatkan atau mensosialisasikan bahwa ikan hias ke depan agar menjadi komoditas andalan baru bagi sektor kelautan dan perikanan.

"Sehingga akan meningkatkan besarnya animo masyarakat dalam menggeluti bisnis ikan hias," kata Suseno yang juga Ketua Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI) ini.

Suseno kembali menjelaskan sebagai bentuk kegiatan menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya bisnis ikan hias ini maka Kementerian Kelautan dan perikanan melalui BPSDM KP melakukan pemecahan rekor MURI "Jumlah Pemelihara Cupang Hias terbanyak di Kampus", di Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh taruna/i dan civitas akademika STP di empat kampus, yaitu STP Kampus Jakarta sebanyak 1.235 orang, STP Kampus Serang 271 orang, STP Kampus Bogor 308 orang, dan STP Kampus Karawang 91 orang. Sehingga jumlah pemelihara ikan cupang ikan hias di STP berjumlah 1.967 orang.

"Pemecahan Rekor MURI ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan untuk meningkatkan kualitas SDM guna meneruskan dan mengembangkan sektor kelautan dan perikanan di Indonesia," kata dia.

Dia menyambut baik atas kegiatan pemeliharaan ikan hias oleh STP ini sebagai media pengembangan karakter, di mana tidak hanyab kedisiplinan yang diutamakan dalam pengembangan karakter, tetapi kecintaan akan dunia perikanan dan bahari juga perlu ditanamkan kepada kader-kader bangsa Indonesia.

"Ketika saya melakukan kunjungan kerja ke luar negeri, saya pernah melihat salah satu Universitas di sana, yang mana banyak mahasiswanya yang memelihara ikan hias di ruang kerjanya. Ternyata apa yang saya katakan sebagai kegiatan postif yersebut ditindak lanjuti oleh ketua STP di kampusnya dan lebih jauh dijadikan salah satu media pembelajaran bagi tarunanya," jelas Suseno.

"Pada hari ini STP mencatatkan kegiatan ini kepada MURI, pencatatan ini menunjukkan bahwa konsistensi dan kecintaan civitas akademika STP kepada sektor perikanan demikian besar. Dalam wujud kegiatan ini akan dipertahankan sebagai media pembelajaran bagi taruna STP," lanjut dia.

Masih dalam rangka Hari Ikan Nasional (Harkanas) yang ditetapkan setiap tanggal 21 November ini, usai pemecahan Rekor MURI, acara dilanjutkan dengan Seminar Nasional Perikanan 2014 dengan tema "Pengembangan Teknologi Terapan untuk Meningkatkan Produksi Perikanan" dengan narasumber dari Missisippi State University Amerika Serikat dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan KKP. Acara juga dimeriahkan dengan Lomba Mewarnai Ikan Cupang Hias Tingkat Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar se-Kecamatan Pasar Minggu yang berjumlah 50 orang.

Related posts