Penjualan Mobil Bisa Capai 2 Juta Unit di 2018

Jumat, 21/11/2014

NERACA

Surabaya - Agenda pemerintah untuk fokus pada pengembangan infrastruktur menjadi salah satu pendorong peningkatan kinerja industri otomotif dalam negeri dalam mencapai target penjualan dua juta unit mobil yang diproyeksikan pada 2018. Direktur Jenderal Kerja Sama Industri Internasional Kementerian Perindustrian Ir Agus Tjahjana kepada wartawan di Surabaya, Rabu, mengemukakan industri otomotif dalam negeri telah mengalami kemajuan cukup pesat, tidak sekadar sebagai "perakit" tetapi sudah mampu memproduksi komponen besar.

"Beberapa produk otomotif dari dalam negeri sudah menggunakan kandungan lokal hingga 80 persen dan produknya tidak hanya dijual di Indonesia, tetapi juga diekspor," katanya, seperti dikutip Antara, Kamis (20/11).

Menurut Agus, kemampuan mengeskpor produk mobil ke berbagai negara menjadi bukti bahwa industri otomotif Indonesia telah sejajar dengan negara lain dan dipercaya pasar mancanegara. "Tinggal sekarang bagaimana memperkuat vendor dan subkontraktor untuk jangka panjangnya, karena saat ini kita masih kalah dengan Thailand," tambahnya.

Faktor lain yang tidak kalah penting untuk meningkatkan kinerja industri otomotif adalah pengembangan rekayasa dan desain, karena selama ini kandungannya masih sangat kecil. "Sekarang ini kita sudah harus masuk pada desain dan engineering (keahlian teknik rekayasa), karena dari situlah banyak uang masuk. Pengembangan SDM (sumber daya manusia) khususnya engineering harus terus kita dorong," tambah Agus Tjahjana.

Ditemui pada kesempatan yang sama, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Mohammad Nuh menambahkan pemerintah harus memperkuat bidang ilmu pengetahuan dan teknologi atau sains jika ingin fokus menggerakkan sektor industri, termasuk otomotif.

Saat ini, lanjut Nuh, minat pelajar untuk menekuni bidang sains sebenarnya cukup besar, tetapi daya tampung yang ada di perguruan tinggi masih sangat terbatas. "Paling tidak pada 2025 mendatang, ada sekitar 20-25 persen lulusan sains dari total lulusan perguruan tinggi yang siap ditampung sektor industri. Tentu harus ada ekspansi untuk meningkatkan daya tampung dan kerja sama dengan sektor industri sebagai pendukungnya," katanya.

Menurut Nuh, jumlah institut teknologi yang ada di Indonesia memang masih sedikit dan idealnya di sebuah pulau besar terdapat sedikitnya 10 institut, sehingga semakin banyak lulusan yang bisa dihasilkan. "Saya tidak mengukur jumlah institusi, tetapi bagaimana daya tampung itu bisa lebih diperbesar," tambah mantan Rektor ITS Surabaya itu.

Sementara itu, Direktur Korporat dan Hubungan Industrial PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) I Made Dana Tangkas menambahkan Indonesia membutuhkan SDM yang handal, khususnya di bidang engineering, untuk mendukung tercapainya penjualan dua juta mobil pada 2018. "Tahun ini total penjualan mobil diperkirakan sekitar 1,2 juta unit, termasuk ekspor dan saya cukup optimistis target penjualan pada 2018 bisa tercapai," katanya.

Pada dunia industri saat ini tidak terkecuali sektor otomotif, tambah Made, masih terjadi kesenjangan yang cukup besar antara jumlah dan kualitas lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan tenaga terampil dan kompeten, terutama di bidang engineering.

Kenaikan BBM

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memperkirakan penjualan kendaraan roda empat akan tersendat jika pemerintah jadi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tahun ini. Kebijakan tersebut akan meredam daya beli dan keinginan masyarakat untuk memiliki mobil baru, sehingga GAIKINDO memperkirakan penjualan mobil tahun depan tidak akan bertambah.

Sudirman Maman Rusdi, Ketua Umum Gaikindo memperkirakan tahun depan perusahaan produsen mobil yang menjadi anggotanya hanya akan mampu menjual sebanyak 1,2 juta unit mobil. Angka tersebut tidak berbeda jauh dengan target penjualan tahun ini sebanyak 1,25 juta unit. "Dalam tiga bulan ini saja sudah kelihatan ada perlambatan, meski sudah diberikan diskon tetap saja daya beli masih rendah. Makanya tahun depan kami perkirakan penjualan stagnan," kata Sudirman.

Bahkan Sudirman khawatir target penjualan mobil tahun ini tidak akan mencapai target, tetapi lebih 500 ribu unit lebih rendah dari target awal. "Selain karena pengaruh rencana kenaikan BBM, faktor lain yang menyebabkan target kemungkinan tidak tercapai adalah suku bunga bank yang juga naik dan pelemahan nilai tukar," ujarnya.

Data Gaikindo menyebutkan, hingga September 2014 penjualan mobil tercatat sebesar 932.943 unit, hanya naik 2,7 persen dibandingkan realisasi penjualan sampai September 2013 sebanyak 908.330 unit. "Saya perkirakan, penjualan tiga bulan terakhir akan melambat," ujar Sudirman.