Dongkrak Harga, Mendag Temui Produsen Karet Terbesar

Jumat, 21/11/2014

NERACA

Jakarta - Menteri Perdagangan Rachmat Gobel ingin mendongkrak harga karet alam yang hingga saat ini terus terpuruk. Untuk itu, kemarin, Kamis (20/11), Mendag Rachmat bertemu produsen terbesar karet alam dunia, Malaysia dan Thailand dalam forum International Tripartite Rubber Council (ITRC) di Kuala Lumpur, Malaysia.

Tiga negara produsen karet alam terbesar dunia, yang menguasai 79% pangsa ekspor karet alam dunia, yakni Thailand, Indonesia, dan Malaysia membahas dan melakukan upaya agar negara-negara produsen karet alam dapat mendisiplinkan diri untuk tidak membanjiri pasar. Sebab, dalam tiga tahun terakhir, harga karet mencapai titik terendah.

"Penurunan harga karet alam saat ini harus dapat kita perbaiki dengan cara pengelolaan supply. Indonesia sebagai negara produsen kedua terbesar dengan sekitar 2,4 juta petani karet yang terlibat langsung, sangat berkepentingan dan harus mendapatkan harga yang layak," tegas Mendag seperti dalam keterangan resminya.

Pertemuan tingkat Menteri ITRC ini dihadiri oleh Menteri Pertanian dan Koperasi Thailand, Menteri Perdagangan RI, dan Menteri Perladangan Komoditi Malaysia. Selain itu, juga diundang Menteri Perdagangan dari Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam (CLMV) yang menguasai sekitar 10% produksi dunia.

Keadaan perkaretan dunia saat ini mengalami tekanan yang cukup berat, karena besarnya stok karet di tangan industri yang mencapai lebih dari 2,4 juta sehingga harga karet menjadi tertekan mencapai sekitar USD 1,6 kg. Keadaan ini terus berlanjut di bulan November menjadi sekitar USD 1,54 cent/kg. Harga tersebut sudah jauh di bawah biaya produksi yang mengakibatkan harga beli kepada petani karet juga mengalami tekanan.

Mendag mengatakan bahwa semua negara produsen bersama dengan pelaku usaha harus bersatu melakukan sesuatu untuk mendongkrak harga karet pada tingkat yang menguntungkan baik untuk produsen maupoun konsumen, paling tidak kembali pada tingkat harga pada tahun 2011.

Sementara itu, ekspor karet alam Indonesia pada tahun 2010 mencapai USD 7,3 miliar dan tahun 2011 melompat menjadi USD 11,7 miliar. Namun, pada tahun 2013 turun menjadi USD 6,9 miliar. Turunnya ekspor Indonesia tersebut karena sangat dipengaruhi harga. Tingginya nilai ekspor tahun 2011 karena harga karet alam yang cukup tinggi melebihi USD 4/kg.

Dari data Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) menyebutkan jika harga jual karet di tingkat petani kini hanya Rp4.000 per kilogram (kg), dimana harga sebelumnya di awal tahun kemarin sempat menyentuh level Rp15.000 per kg.

"Harga jual karet yang terbentuk saat ini sudah sangat tidak ideal bagi petani. Saat ini 3 kg karet baru setara 1 kg beras. Semakin rendahnya harga karet ini membuat banyak buruh penyadap karet beralih profesi," kata Ketua Umum Apkarindo, Lukman Zakaria.

Lukman menjelaskan saat ini telah banyak penyadap karet yang meninggalkan mata pencaharian yang lain semisal menjadi buruh bangunan atau bekerja serabutan. Namun bagi buruh sadap yang masih bertahan mereka akan lebih mempersering waktu sadap.

"Bila saat harga normal petani karet melakukan sadap pohon sekali dalam sehari, namun dengan rendahnya harga tersebut mereka akan menyadap hingga dua kali dalam sehari. Harga anjlok, secara kuantitas meningkat mengejar pendapatan," jelasnya.

Melihat kondisi ini, Lukman mengaku tidak dapat berbuat banyak. Pasalnya, selama ini pemerintah tidak memberikan insentif kepada para petani ketika harga karet jatuh. Komoditas karet yang ditanam di dalam negeri mayoritas atau lebih dari 80% dimiliki petani rakyat.

"Sudah sewajarnya, pemerintah berperan aktif menjaga kemakmurannya. Padahal, devisa yang didapat dari ekspor karet ini cukup besar yakni mencapai Rp100 triliun. Jika harga rendah dan produksi turun maka berdampak pada penurunan devisa juga," terangnya.

Petani Merugi

Sementara Direktur Tanaman Tahunan Kementerian Pertanian, Herdrajat Natawijaya menambahkan rendahnya harga karet di pasar dunia dalam setahun terakhir membuat petani kian merugi. Sebagai negera penghasil karet terbesar kedua di dunia, maka pemerintah kini diharapkan dapat membantu pengalihan penjualan ekspor karet ke pasar dalam negeri.

"Walau tak mudah, pengalihan pasar ekspor karet ke dalam negeri bisa sedikit membantu petani. Serapan karet untuk pasar dalam negeri memang masih rendah, namun agar petani tidak terus merugi, maka kami menghimbau Pemda untuk turut tangan mengolah karet," katanya.