Pokhpand Raih Pinjaman US$ 400 Juta

Jumat, 21/11/2014

NERACA

Jakarta – Guna mendanai ekspansi bisnisnya, PT Charoen Pokhpand Indonesia Tbk (CPIN) melakukan penandatangan fasilitas kredit sindikasi dari 15 lembaga keuangan sebesar US$ 400 juta,”Fasilitas pinjaman ini terdiri dari US$ 200 juta dan Rp 2,4 triliun," kata Direktur PT Charoen Pokhpand Indonesia Tbk,Ong Mei Sian di Jakarta, Kamis (20/11).

Menurutnya, dalam memperoleh fasilitas pinjaman yang sebesar US$ 400 juta ini perusahaan tidak menjaminkan aset. Dia menyebutkan, pinjaman ini terbagi menjadi dua jenis pinjaman yakni, fasilitas pinjaman berjangka 5 tahun (modal kerja) sebesar US$ 75 juta dan Rp 900 miliar. Dan fasilitas kredit bergulir 5 tahun (term loan) sebesar US$ 125 juta dan Rp 1,5 triliun.

Dia mengungkapkan, pinjaman terdiri dari dua currency US$ 200 juta, US$ 200 juta lagi dalam bentuk rupiah sebesar Rp 2,4 triliun. Ada pinjaman term loan ini ada kewajiban mencicil setiap kuartal dan pijaman modal kerja kalau butuh kita bisa tarik. Jadi pinjaman tidak akan langsung naik US$ 400 juta.

Menurutnya, denominasi fasilitas dalam mata uang dollar dan rupian dilakukan untuk menjaga komposisi portofolio (50:50) yang seimbang dalam keseluruhan portofolio utang perusahaan. "Optimasi campuran mata uang akan membantu mengurangi baiaya bunga yang dibebankan serta untuk memberikan perlindungan fluktuasi rupiah," jelasnya.

Ong menjelaskan, pinjaman sindikasi baru ini akan digunakan untuk mengamankan sebagian besar kebutuhan pendanaan perusahaan untuk ekspansi bisnis secara keseluruhan dalam beberapa tahun ke depan."Pinjaman ini juga diguinakan untuk mendukung kebutuhan modal kerja sehingga kedepannya akan semakin mampu meningkatkan fleksibilitas operasional dan keuangn perusahaan," ujarnya.

Perseroan memperoleh fasilitas pinjaman ini dari 15 belas diantaranya, Citi, PT Bank ANZ Indonesia, PT Bank Central Asia, PT Bank CIMB Niaga, PT Bank DBS Indonesia, PT Bank Mandiri (Persero), Sumitomo Mitsui Banking Corporation cabang Singapura, PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, Rabobank Hongkong, PT Bank Mizuho Indonesia, PT Bank CTBC Indonesia, Aosora Asia Pasific Finance Limited, Chang Hwa Commercial Bank Ltd cabang singapura, First Commercial Bank Ltd cabang Singapura, Land Bank of Taiwan cabang Singapura, dan Hua Nan Commercial Bank."Dalam pinjaman ini, Citi bertindak sebagai kordinator tunggal. Citi bersama dengan ANZ, BCA, CIMB Niaga, DBS, Mandiri dan SMBC merupakan Mandated Lead Arranger dan Bookrunners dalam transaksi ini. Bank peserta lainnya terdiri dari kombinasi institusi keuangan lokal asing,”tuturnya.

Kemudian soal dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, Ong Mei Sian menilai, kebijakan tersebut tidak akan mempengaruhi biaya produksi suatu perusahaan. Justru yang mempengaruhi kenaikan biaya produksi adalah pelemahan nilai tukar rupiah.

Dirinya menambahkan, dengan tidak dinaikkannya harga BBM pun biaya produksi sudah naik sebagai akibat dari pelemahan rupiah."Dengan BBM enggak naik itu kan cost sudah naik semua, naiknya dari mana? Itu karena pelemahan exchange rate," ungkapnya. (bani)