Ancaman Anggaran Malnutrisi

Jumat, 21/11/2014

Oleh: Kencana Sari

Peneliti Balitbangkes

Malnutrisi atau gizi yang salah dalam bentuk apapun adalah ancaman. Saat ini definisi malnutrisi mencakup tidak hanya kekurangan gizi namun juga kelebihan gizi. Menurut organisasi kesehatan dunia WHO, malnutrisi adalah kekurangan, kelebihan atau ketidakseimbangan dari asupan energi, protein dan atau zat gizi yang lain. Kurang gizi (undernutrition) adalah hasil dari tejadinya kurangnya asupan makanan yang terus menerus untuk dapat memenuhi kebutuhan energi, rendahnya penyerapan dan atau penggunaan zat gizi dalam tubuh yang biasanya ditandai dengan penurunan berat badan. Sedangkan kelebihan gizi (over-nutrition) adalah kondisi kronis dimana asupan makanan yang berlebih dari kebutuhan energi yang dianjurkan yang menyebabkan kegemukan atau obesitas.

Beban ganda malnutrisi adalah terjadinya masalah kurang dan kelebihan gizi baik makro maupun mikro di berbagai siklus kehidupan yang terjadi pada populasi, komunitas, keluarga dan bahkan individu. Pada level populasi misalya di satu daerah tertentu prevalensi kurang gizi masih besar sedangkan masalah kelebihan gizi terus meningkat. Pada tingkat rumah tangga yang terjadi adalah orang tua, misalnya ibu gemuk tetapi anak menderita kurang gizi. Pada level individu, seorang wanita yang gemuk tetapi menderita anemia.

Status gizi dewasa dapat dinilai beradasarkan indeks massa tubuh (IMT) penduduk berumur >18 tahun yang dinilai dengan rumus perhitungan berat badan (kg) dibagi tinggi badan kuadrat (m). Sesuai dengan Riskedas 20134seseorang dikategorikan kurus jika IMT<18,5 dan gemuk jika mempunyai IMT antara 25sampai<27dan dikatakn obese jika IMT ≥27. Risiko timbulnya kematian dan kesakitan meningkat jika IMT diatas 25. Bahkan untuk orang Asia risiko kematian dan kesakitan akan meningkta jika seseorang mempunyai IMT lebih dari 21.

Akibat dari terjadinya beban ganda masalah gizi sangatlah besar. Kekurangan gizi pada awal masa kehidupan berhubungan dengan kematian anak. Awal kehidupan yang sehat sangatlah penting bagi setiap bayi baru lahir. Namun sayangnya, angka bayi lahir dengan berat rendah (BBLR) masih sangatlah tinggi. Di dunia, setiap tahunnya 30 juta bayi dengan lahir dengan berat yang rendah (<2500gr), atau sekitar 23,5 dari seluruh kelahiran. Tidak terkecuali di Indonesia, prevalensi BBLR masih sekitar 10,2 persen dan bayi lahir pendek (<48cm) sebesar 20,2 persen.

Padahal anak yang pendek pada dua tahun awal kehidupannya akan terganggu ketahanan diri dalam menghadapi berbagai penyakit, mengerjakan pekerjaan fisik, belajar. Setelah dewasa, bayi yang BBLR akan berisiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit kronis, jantung koroner, hipertensi, stroke, diabetes tipe dua. Karenanya menjamin gizi yang cukup untuk perempuan sebelum dan pada saat hamil, menjamin kesehatan optimal agar bayi dapat tumbuh dan berkembang, dan mencegah peningkatan kegemukan setelah anak berusia dua tahun terutama pada anak yang kurus saat berusia sekitar dua tahun, dapat mencegah ternjadinya penyakit kronis.

Pemerintah telah menyadari dan berkomitmen dalam mencegah dampak kurang gizi pada awal kehidupan melalui gerakan Scalling up Nutrition 1000 hari pertama kehidupan, dari mulai hamil hingga anak usia dua tahun. Besar harapan kegiatan yang akan dilakukan dapat mencegah terjadinya penyakit kronis di lebih dari 25 tahun kedepan.

Jika tak ditangani persoalan malnutrisi akan berdampak luas. Obesitas umpamanya dipastikan daya, beberapa tahun mendatang, bebannya pada sistem Jaminan Kesehatan Nasional akan semakin besar. Penelitian menunjukkan bahwa di Thailand, beban biaya kesehatan yang timbul akibat obesitas dihitung sekitar 5584 juta bath atau sekitar Rp 2 triliun setara 1,5 persen dari pengeluaran nasional sektor kesehatan di negara gajah tersebut.

Jadi haruslah intervensi yang dilakukan berjalan beriringan, tidak hanya memfokuskan pada satu sisi malnutrisi dan mengecilkan sisi yang lain. Dampak jangka pendek dan jangka panjang penting untuk di antisipasi.