MSKY Bukukan Pendapatan Rp 2,44 Triliun

Jumat, 21/11/2014

NERACA

Jakarta – Ditengah perlambatan ekonomi tahun ini, PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) masih mencatatkan kinerja keuangan yang positif. Dimana perseroan berhasil membukukan pendapatan pada sembilan bulan pertama sebesar Rp2,44 triliun atau meningkat 9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya diangka Rp2,23 triliun.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin. Presiden Direktur MNC Sky, Rudy Tanoesoedibjo mengatakan, ditengah persaingan bisnis tv berbayar, MSKY dapat meningkatkan pangsa pasarnya menjadi 74,6%. Hal ini merupakan suatu prestasi yang membanggakan dan menunjukkan dominasi merek perseroan sebagai yang terbaik di Indonesia,”Hingga kuartal III/2014 kami berhasil mencatat pendapatan Rp2,436 triliun, peningkatan pendapatan sebesar 9% ini terutama berasal dari penerimaan atas jasa penyiaran sejalan dengan pertumbuhan jumlah pelanggan yang mencapai 2,53 juta hingga akhir September atau naik 18% dari tahun lalu,”ujarnya.

Sebagai catatan, untuk tiga bulan di kuartal III saja perseroan mencatat pendapatan sebesar Rp859 miliar atau meningkat 10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp779 miliar. Sedangkan EBITDA dalam sembilan bulan pertama tahun ini berada diangka Rp919 miliar sama seperti periode tahun lalu dan EBITDA margin sebesar 38%.

Stabilnya pertumbuhan EBITDA dari tahun lalu dikarenakan oleh meningkatnya beban biaya penyiaran perseroan seiring pertumbuhan pelanggan dan juga akibat terdepresiasinya nilai rupiah terdap dolar Amerika Serikat sepanjang 2014. Namun secara kuartal per kuartal, EBITDA MSKY mengalami peningkatan sebesar 5% dari Rp318 miliar menjadi Rp333 miliar.

Hingga akhir September 2014, perseroan juga mencatat kerugian bersih sebesar Rp28 miliar atau menurun dibandingkan kerugian bersih sembilan bulan tahun 2013 yang berada diangka Rp223 miliar. Hal ini disebabkan oleh menurunnya beban selisih kurs mata uang asing dan beban biaya bunga.

Penurunan beban selirih kurs ini terutama dikarenakan beban bunga pinjaman sindikasi perseroan sebesar 4,25% + LIBOR yang lebih rendah dibandingkan bunga obligasi perseroan sebesar 12,75% yang telah dilunasi pada akhir 2013 lalu. Meskipun nilai kurs rupiah terhadap dollar AS per September 2014 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, namun laju depresiasi pada tahun ini melambat dibandingkan tahun sebelumnya sehingga menurunkan tingkat fluktuasi beban selisih kurs mata uang asing perseroan.

Tercatat hingga akhir kuartal III, jumlah pelanggan perseroan mencapai 2,53 juta atau naik 18% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya diangka 2,15 juta. Disebutkan, rata-rata penambahan pelanggan bersih per bulan mencapai 10.000 pelanggan. Sedangkan untuk sembilan bulan pertama tahun 2014, tingkat rata-rata churn rate dan ARPU adalah 1,26% dan Rp 101.314.

Dijelaskan, melambatnya laju pertambahan pelanggan dikarenakan oleh meningkatnya kompetisi dari pesaing-pesaing yang menawarkan promosi-promosi berlangganan yang sangat agresif. Pasalnya, saat ini peta persaingan dalam bisnis tv berbayar di Indonesia semakin ketat. Hal ini ditandai dengan jumlah operator tv berbayar yang telah mencapai 16 perusahaan dimana mereka makin agresif dalam menawarkan program-program promosi. (bani)