Prospek Pengawasan Shadow Banking

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Jumat, 21/11/2014

Penelitian terbaru telah meningkatkan pemahaman masyarakat tentang peran yang dimainkan oleh unsur-unsur dari sistem perbankan bayangan. Pozsar et al. (2010) memberikan gambaran dari sistem perbankan bayangan, Pozsar (2011) memberikan informasi mengenai kumpulan uang tunai investor, dan Ricks (2011) meneliti pertumbuhan klaim uang pribadi. Yang lainnya telah melakukan penelitian tentang instrumen tertentu yang digunakan dalam perbankan bayangan, seperti perjanjian pembelian kembali (Gorton dan Metrick, 2010), surat berharga yang dilandasi oleh aset (Covitz, Liang, dan Suarez, 2009 dan Acharya, Schnabl, dan Suarez, 2011), sekuritas lelang dan surat berharga permintaan dengan tingkat suku bunga varibel (Han dan Li, 2010), dan reksadana pasar uang (McCabe, 2010).

Kualitas pinjaman riil estat menurun secara cepat dalam periode gelembung riil estat di Amerika Serikat (AS). Antara lain ini karena meningkatnya kompetisi pendanaan rill estat, yang mewujudkan diri dalam pembentukan banyak pemodal hipotek yang tidak terikat peraturan perbankan normal. Pada waktu yang sama bank-bank investasi Wall Street memastikan pendanaan ulang perusahaan-perusahaan ini melalui penempatan sekuritas berjaminan hipotek dan obligasi hutang yang dikolateralisasi.

Karena model risiko spesifik dan prinsip akuntansi yang disebut di atas, ekspansi kredit menggelembung dengan pesat. Tentunya terdapat peranan penting dari kepercayaan dominan selama gelembung aset itu, yakni bahwa harga riil estat akan terus meningkat selama jangka waktu yang panjang bahkan selamanya.

Pinjaman riil estat juga dibuat lebih menggiurkan bagi rumah tangga Amerika dengan pengadaan berbagai insentif, termasuk dengan suku bunga awal yang rendah atau penundaan pembayaran sampai pada waktu tertentu. Modal sendiri dan keamanan diabaikan. Tentunya ada permasalahan bahaya moral di sini, karena mereka yang pada awalnya mengeluarkan pinjaman riil estat tidak memperhatikan kualitas pinjaman karena tidak pernah mengalami permasalahan dalam menjualnya.

Krisis subprima terjadi pada musim panas tahun 2007, sekitar satu tahun setelah harga riil estat berhenti meningkat. Akhir gelombang riil estat dipicu oleh naiknya suku bunga di Amerika Serikat dan perubahan ekspektasi sehubungan dengan perkembangan harga riil estat di masa depan. Fed menetapkan suku bunga yang lebih tinggi karena mengkhawatirkan inflasi di pasar barang. Ekspektasi berubah antara lain karena ledakan konstruksi telah meningkatkan pasokan riil estat.

Krisis meletus ketika badan-badan pemeringkat menurunkan nilai sekuritas berjaminan hipotek, suatu langkah yang mengejutkan banyak pihak di pasar. Dampak langsung dari penurunan peringkat ini adalah hilangnya kemungkinan bagi kendaraan-kendaraan bertujuan khusus (special-purpose vehicles) untuk melakukan pendanaan ulang. Investor institusional dan pemodal agresif seperti perusahaan hedge funds menghentikan pembelian sekuritas dengan jaminan hipotek dan sekuritisasi dengan komponen pinjaman riil estat serta surat obligasi jangka pendek tanpa jaminan yang dikeluarkan oleh kendaraan-kendaraan bertujuan khusus tersebut.

Akibat pertama yang brutal adalah bank harus mengambil alih kendaraan-kendaraan bertujuan khusus mereka yang kemudian memerosokkan bank kedalam permasalahan likuiditas dan bahkan solvensi (kesanggupan melunaskan hutang). Pada titik ini fakta bahwa kendaraan-kendaraan bertujuan khusus itu tidak memiliki modal ekuitas mulai menyebabkan konsekuensi yang mengerikan dan terkadang memicu transformasi maturitas yang ekstrim.

Ditambah lagi, faktor-faktor tersebut menempatkan lembaga-lembaga keuangan yang telah mengadakan kendaraan-kendaraan bertujuan khusus itu dibawah tekanan yang cukup tinggi. Karena tidak ada transparansi berkenaan dengan bank apa yang harus menanggung kendaraan khusus yang mana, dan bank yang mana yang memiliki sekuritas yang terhambat risiko dalam neraca keuangannya, pasar keuangan antar bank runtuh. Bank sentral di seluruh dunia terpaksa mengalokasikan sumber daya yang sangat besar untuk menjamin likuiditas sistem keuangan.

Seiring dengan berjalannya krisis, pasar keuangan sulit untuk direvitalisasi akibat kurangnya kepercayaan antar bank yang terlalu tinggi. Bukan hanya itu, kepercayaan antara bank investasi dan lembaga-lembaga lain di dalam sistem perbankan bayangan (shadow banking) juga runtuh. Faktor penentunya adalah mekanisme umpan balik negatif dari krisis subprima, yang mempengaruhi sistem keuangan yang pada umumnya tidak stabil. Lembaga-lembaga keuangan dilanda kekurangan modal ekuitas yang terjadi karena sumber daya mereka terkuras saat berusaha untuk mendukung kendaraan-kendaraan bertujuan khusus mereka.

Misalnya, sebagai hasil dari rasio modal bank komersil yang rendah, mereka tidak dapat lagi memenuhi tingkat cadangan modal ekuitas yang disarankan dan harus mengurangi pinjaman mereka. Ekspektasi negatif ditransmisikan ke bursa saham dan harga saham juga mulai jatuh. Menurunnya harga aset pertama-tama memperkecil aset dari lembaga-lembaga keuangan, yang modal ekuitas dan kapasitas peminjamannya telah terlebih dahulu dilanda kredit macet serta untuk menyelamatkan kendaraan bertujuan khusus.

Beberapa hedge fund rontok dan membuat system keuangan semakin berdarah. Lembaga-lembaga keuangan yang kekurangan likuiditas harus melakukan penjualan darurat untuk mendapatkan aset-aset yang likuid sehingga semakin menurunkan harga aset. Peminjam swasta dan perusahaan yang terikat banyak hutang terpaksa melakukan tindakan yang sama pula.

Hasilnya adalah terjadinya deflasi pada pasar aset yang memiliki mekanisme penguatan endogen yang kuat (lihat artikel klasik Irving Fisher dari tahun 1933). Ancaman ini masih nyata hingga hari ini karena itu upaya Bank Sentral Eropa untuk menciptakan pengawasan perbankan tunggal yang tidak disetujui oleh Jerman akan menjadi ancaman serius akibat ketidakmampuan sistem perbankan mengendus permasalahan Shadow Banking.***