Ribuan Cerita Rakyat Belum Tercatat

Sabtu, 22/11/2014

NERACA

Indonesia memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang melimpah ruah. Salah satu budaya dan tradisi yang tak pernah lepas dari kebiasaan masyarakat Indonesia adalah mendongengkan cerita rakyat. Tiap daerah di Indonesia memiliki cerita rakyatnya masing-masing.

Cerita rakyat yang pada mulanya dilisankan selain berfungsi untuk menghibur, juga dapat memberikan pendidikan moral. Bagi orang tua, cerita rakyat dapat menjadi bahan untuk mengajarkan nilai-nilai budaya kepada anak. Sedangkan bagi generasi muda, cerita rakyat dapat menjadi bahan mengenal jati diri mereka.

Sayangnya, ribuan cerita rakyat sebagai bagian dari nilai moral sosial budaya yang dapat dijadikan sebagai pendidikan budi pekerti, seperti filosofi, nilai, norma, perilaku masyarakat di berbagai daerah belum teridentifikasi dan tercatat oleh pemerintah

Menurut Direktur Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Diah Harianti, usaha untuk mencatat cerita rakyat itu sangat penting agar bisa terdokumentasi dengan baik. Jika tidak dicatat, ada kemungkinan cerita rakyat itu akan terlupakan dan hilang dari peradaban.

“Saat ini Kemdikbud telah berhasil mencatat sekitar 4.000 cerita rakyat dari berbagai daerah.Semua cerita rakyat yang telah tercatat itu kami masukkan ke dalam website Kemdikbud dan bisa diakses oleh semua masyarakat,” ujar dia

Ke depan, sambung Diah, akan dicoba untuk membuka ruang bagi masyarakat untuk ikut mengirimkan naskah cerita rakyat di daerahnya untuk disimpan dan dipamerkan dalam website tersebut.

"Melestarikan cerita rakyat yang menyimpan nilai-nilai budaya ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua," kata Diah.

Salah satu usaha pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mendorong masyarakat untuk melestarikan kekayaan budaya bangsa adalah dengan menggelar pameran kekayaan budaya tersebut.

Tahun ini, Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Kemdikbud, menurut Diah, telah melakukan tiga kali pameran, masing-masing di Jakarta, Makasar dan Padang.

"Di Padang kami gelar hampir satu minggu mulai 18-23 November di Museum Adityawarman, Padang," imbuh dia