BBM Naik, Harga-harga Barang Ikut Terkerek

Antisipasi Pemerintah Kurang Baik

Sabtu, 22/11/2014

NERACA

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) memang merupakan momok bagi Pemerintahan Joko Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla (MJK), karena dengan adanya keputusan untuk menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) akan melahirkan permasalahan yang komplek bagi semua bidang. Dan hal ini tidak bisa dihindari, berbagai bentuk penolakan timbul dengan berbagai cara.

Tidak hanya itu kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akan mengakibatkan kenaikan harga-harga kebutuhan pangan dan non pangan. Seharusnya Pemerintah bisa menggunakan alternative yang lain dengan meningkatkan efisiensi Pertamina. Alasan Pemerintah yang menjanjikan akan penyaluran dana kompensasi Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk kepentingan umum ternyata tidak memiliki kejelasan sasarannya.

Mau tidak mau kenaikkan harga BBM pasti akan diikuti dengan kenaikan harga barang lainya, seperti harga sembako (sembilan bahan pokok) di sejumlah pasar tradisional, mengalami lonjakan imbas kenaikan BBM pada hari pertama, Selasa (18/11/2014). Beberapa jenis sembako yang mengalami kenaikan harga, seperti beras, cabai rawit, cabai merah dan tomat.

Sementara harga daging sapi dan bawang merah hingga kini masih stabil. Namun demikian, para pedagang menilai harga kedua komoditas itu pun dipastikan akan ikut melonjak dalam sepekan ke depan. Lonjakan harganya, dipicu kenaikan ongkos transportasi dari produsen terpengaruh kenaikan harga BBM.

“Dari beberapa jenis beras yang saya jual, baru beras lokal yang harganya sudah naik pada hari pertama kenaikan BBM. Dari asalnya Rp 8.200 per kg, sekarang naik menjadi Rp 8.400 per kg. Kenaikannya baru tadi siang sekitar jam sebelasan,” kata salah satu pedangan yang tidak mau disebutkan namanya.

Menurut dia, kenaikan harga beras lokal Sumedang tersebut, kemungkinan besar akan diikuti beras jenis lainnya pasokan dari luar daerah. Lonjakan harganya, dampak kenaikan ongkos transpor dari para penyalur.

“Kalau sekarang, kenaikan BBM-nya belum terasa karena baru hari pertama. Biasanya, pengaruh kenaikan BBM terhadap harga sembako termasuk beras, akan terasa dua sampai tiga hari ke depan,” ujarnya.

Seangkan untuk pedagang sayuran di Pasar Inpres mengatakan, harga sayuran yang mengalami kenaikan imbas kenaikan BBM pada hari pertama, yakni cabai rawit, cabai merah dan tomat. Bahkan harga cabai rawit, kini harganya meroket.

Dari harga cabai rawit Senin (17/11/2014) Rp 50.000 per kg, kini naik menjadi Rp 60.000 per kg. Bahkan sebelum BBM naik, harga cabai rawit diakui sudah mengalami lonjakan dari harga sebelumnya Rp 40.000 per kg.

Kondisi serupa, kata dia, terjadi pada harga cabai merah. Dari harga Rp 40.000 per kg, kini naik menjadi Rp 50.000 per kg. Harga tomat dari Rp 25.000 per kg, melonjak menjadi Rp 35.000 per kg.

“Lonjakan harga cabai rawit, cabai merah dan tomat, memang akibat pengaruh kenaikan BBM. Sebab, kenaikannya langsung pada hari pertama kenaikan BBM oleh pemerintah. Kalau pasokannya barangnya, lumayan banyak. Para petani dari Wado dan Kadipaten Majalengka, langsung menjual ke pasar,” katanya.

Kenaikkan harga BBM membuat semua barang mengikuti kenaikan, seharusnya pemerintah bisa mengantisipasi dengan kebijakan yang dikeluarkan itu akan banyak menimbulkan masalah di masyarakat.

Apa lagi diikuti dengan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acauan BI (BI Rate) 25 bps menjadi 7,75% untuk memperkuat bauran kebijakan dalam merespon kebijakan reformasi subsidi BBM yang ditempuh pemerintah.

Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo mengungkapkan BI juga menaikan suku bunga Lending Facility naik sebesar 50 bps menjadi 8% dan suku bunga Deposit Facility tetap pada level 5,75% berlaku efektif sejak 19 November 2014.

"Kenaikan BI Rate ditempuh untuk menjangkar ekspektasi inflasi dan memastikan bahwa tekanan inflasi pasca kenaikan harga BBM bersubsidi tetap terkendali, temporer, dan dapat segera kembali pada lintasan sasaran yaitu 4 plus 1% pada tahun 2015," ungkapnya, Selasa (18/11/2014).

Agus mengungkapkan kebijakan tersebut juga konsisten dengan kemajuan dalam mengelola defisit transaksi berjalan ke arah yang lebih sehat. Selain itu, pelebaran koridor suku bunga operasi moneter dimaksudkan untuk menjaga kecukupan likuiditas dan mendorong pendalaman pasar keuangan.