BBM Naik, Harga-harga Barang Ikut Terkerek - Antisipasi Pemerintah Kurang Baik

NERACA

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) memang merupakan momok bagi Pemerintahan Joko Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla (MJK), karena dengan adanya keputusan untuk menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) akan melahirkan permasalahan yang komplek bagi semua bidang. Dan hal ini tidak bisa dihindari, berbagai bentuk penolakan timbul dengan berbagai cara.

Tidak hanya itu kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akan mengakibatkan kenaikan harga-harga kebutuhan pangan dan non pangan. Seharusnya Pemerintah bisa menggunakan alternative yang lain dengan meningkatkan efisiensi Pertamina. Alasan Pemerintah yang menjanjikan akan penyaluran dana kompensasi Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk kepentingan umum ternyata tidak memiliki kejelasan sasarannya.

Mau tidak mau kenaikkan harga BBM pasti akan diikuti dengan kenaikan harga barang lainya, seperti harga sembako (sembilan bahan pokok) di sejumlah pasar tradisional, mengalami lonjakan imbas kenaikan BBM pada hari pertama, Selasa (18/11/2014). Beberapa jenis sembako yang mengalami kenaikan harga, seperti beras, cabai rawit, cabai merah dan tomat.

Sementara harga daging sapi dan bawang merah hingga kini masih stabil. Namun demikian, para pedagang menilai harga kedua komoditas itu pun dipastikan akan ikut melonjak dalam sepekan ke depan. Lonjakan harganya, dipicu kenaikan ongkos transportasi dari produsen terpengaruh kenaikan harga BBM.

“Dari beberapa jenis beras yang saya jual, baru beras lokal yang harganya sudah naik pada hari pertama kenaikan BBM. Dari asalnya Rp 8.200 per kg, sekarang naik menjadi Rp 8.400 per kg. Kenaikannya baru tadi siang sekitar jam sebelasan,” kata salah satu pedangan yang tidak mau disebutkan namanya.

Menurut dia, kenaikan harga beras lokal Sumedang tersebut, kemungkinan besar akan diikuti beras jenis lainnya pasokan dari luar daerah. Lonjakan harganya, dampak kenaikan ongkos transpor dari para penyalur.

“Kalau sekarang, kenaikan BBM-nya belum terasa karena baru hari pertama. Biasanya, pengaruh kenaikan BBM terhadap harga sembako termasuk beras, akan terasa dua sampai tiga hari ke depan,” ujarnya.

Seangkan untuk pedagang sayuran di Pasar Inpres mengatakan, harga sayuran yang mengalami kenaikan imbas kenaikan BBM pada hari pertama, yakni cabai rawit, cabai merah dan tomat. Bahkan harga cabai rawit, kini harganya meroket.

Dari harga cabai rawit Senin (17/11/2014) Rp 50.000 per kg, kini naik menjadi Rp 60.000 per kg. Bahkan sebelum BBM naik, harga cabai rawit diakui sudah mengalami lonjakan dari harga sebelumnya Rp 40.000 per kg.

Kondisi serupa, kata dia, terjadi pada harga cabai merah. Dari harga Rp 40.000 per kg, kini naik menjadi Rp 50.000 per kg. Harga tomat dari Rp 25.000 per kg, melonjak menjadi Rp 35.000 per kg.

“Lonjakan harga cabai rawit, cabai merah dan tomat, memang akibat pengaruh kenaikan BBM. Sebab, kenaikannya langsung pada hari pertama kenaikan BBM oleh pemerintah. Kalau pasokannya barangnya, lumayan banyak. Para petani dari Wado dan Kadipaten Majalengka, langsung menjual ke pasar,” katanya.

Kenaikkan harga BBM membuat semua barang mengikuti kenaikan, seharusnya pemerintah bisa mengantisipasi dengan kebijakan yang dikeluarkan itu akan banyak menimbulkan masalah di masyarakat.

Apa lagi diikuti dengan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acauan BI (BI Rate) 25 bps menjadi 7,75% untuk memperkuat bauran kebijakan dalam merespon kebijakan reformasi subsidi BBM yang ditempuh pemerintah.

Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo mengungkapkan BI juga menaikan suku bunga Lending Facility naik sebesar 50 bps menjadi 8% dan suku bunga Deposit Facility tetap pada level 5,75% berlaku efektif sejak 19 November 2014.

"Kenaikan BI Rate ditempuh untuk menjangkar ekspektasi inflasi dan memastikan bahwa tekanan inflasi pasca kenaikan harga BBM bersubsidi tetap terkendali, temporer, dan dapat segera kembali pada lintasan sasaran yaitu 4 plus 1% pada tahun 2015," ungkapnya, Selasa (18/11/2014).

Agus mengungkapkan kebijakan tersebut juga konsisten dengan kemajuan dalam mengelola defisit transaksi berjalan ke arah yang lebih sehat. Selain itu, pelebaran koridor suku bunga operasi moneter dimaksudkan untuk menjaga kecukupan likuiditas dan mendorong pendalaman pasar keuangan.

BERITA TERKAIT

38 Titik Telah Terapkan BBM Satu Harga

  NERACA   Jakarta - PT Pertamina (Persero) telah mencapai titik ke 38 dari program bahan bakar minyak (BBM) satu…

Kemenkeu Kejar Utang 22 Obligor BLBI - GLOBAL BOND JAGA ARUS KAS PEMERINTAH

Jakarta-Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kemenkeu terus mengejar 22 obligor penerima Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang hingga kini belum…

NH Korindo Rekomendasi Beli Saham PPRO - Harga Wajar Rp 260 Persaham

NERACA Jakarta - Nilai wajar harga saham PT PP Properti Tbk (PPRO) mencapai Rp260 per unit, lebih tinggi sekitar 32%…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Hidup di Negeri 1001 Bencana

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNP) menyebutkan, data sementara kejadian bencana alam sejak 1 Januari hingga 20 November, ada 2.057 bencana…

Mengukur Dampak Siklon Cempaka dan Dahlia

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan Siklon Tropis Cempaka dan Dahlia yang melanda sebagian wilayah Jawa belum lama ini merupakan…

Bencana Alam Jadi “Magnet” Menarik Wisatawan?

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, masyarakat di seluruh dunia tertarik untuk menyaksikan erupsi Gunung…