BI Rate Tertinggi di Dunia

Keterlaluan! Banyak pihak menuding langkah Bank Indonesia yang sangat reaktif menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) 25 basis poin menjadi 7,75% hanya selang sehari setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi Rp 2.000 menjadi Rp 8.500 per liter (premium), sebagai cerminan BI tidak bersikap friendly merespon kebijakan pemerintah tersebut. Pasalnya, BI hanya bermain persepsi dan ekspektasi masyarakat yang belum tentu dengan kondisi riil laju inflasi pasca kenaikan harga BBM. Lain halnya jika masa transmisi kebijakan pemerintah itu sudah berjalan 2-3 bulan, itu baru rasional kebijakan menaikkan BI Rate yang selama ini dianggap momok menakutkan pengusaha di negeri ini.

Bagaimanapun, sangat jelas sekali bahwa menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) dari 7,5% menjadi 7,75% setidaknya akan memancing reaksi keras dari sebagian besar pengusaha dan ekonom. Karena mereka menilai BI secara sengaja memulai langkah pengetatan moneter, dengan imbasnya akan terjadi perlambatan ekonomi semakin cepat, yang diiringi dengan kenaikan suku bunga bank.

Kenaikan BI Rate ini cukup signifikan dalam 13 bulan terakhir sejak Agus Martowardojo menjabat Gubernur BI, bahkan tingkat bunga saat ini yang tertinggi sejak 2009. Seperti biasanya Gubernur BI selalu berdalih, kebijakan penaikan suku bunga acuan ini bertujuan untuk mengerem inflasi, menahan derasnya depresiasi rupiah serta untuk mengerem laju impor agar lebih terkendali.

Jadi, tujuan mulia bank sentral menaikkan BI Rate sangat baik secara teori moneter. Sasaran yang hendak dicapai pun positif. Hanya saja, dampak berantai yang ditimbulkan ternyata tidak semulia tujuan yang hendak dicapai. Memang benar secara konservatif, kenaikan suku bunga masih dianggap cara ampuh untuk mengerem laju inflasi dalam jangka pendek.

Tetapi di balik itu, kenaikan suku bunga acuan dapat menjadi bumerang saat tidak dilakukan dalam takaran yang terukur dan di tengah ekspektasi yang memburuk terhadap perekonomian. Ini yang menjadi kekhawatiran lantaran kenaikan BI Rate terjadi saat ekspektasi terhadap perekonomian tengah memburuk serta sentimen regional dan global yang tidak kondusif.

Tidak hanya itu. Lembaga Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin kondisi suku bunga tinggi seperti itu tentu berdampak pada likuiditas ketat yang tidak mendukung adanya pertumbuhan. Seakan-akan memang diredam. Tingkat bunga BI Rate yang dipatok 7,75% itu merupakan acuan bank sentral paling tinggi se-dunia, bahkan otoritas moneter negara di G-20, tidak ada yang menetapkan suku bunga setinggi seperti di Indonesia.

"Sampai kapan BI menaikkan terus. Jangan sampai mengorbankan sektor riil. (BI Rate) mendekati 8% itu tertinggi di muka bumi,” ujar Prof Dr Didiek J. Rachbini, Ketua LP3E Kadin, di Jakarta beberapa waktu lalu.

BI tampaknya lebih mengutamakan stabilitas ekonomi ketimbang mendorong laju pertumbuhan. Padahal, di saat ekonomi Indonesia terkena turbulensi akibat memburuknya neraca perdagangan justru akan menjadi bumerang jika jalan keluarnya menaikkan suku bunga BI Rate.

Karena itu, tidak heran bila pemilik dana besar akan mengerem investasi dan mengalihkan ke simpanan deposito berbunga tinggi yang lebih menguntungkan. Akibatnya, kinerja perekonomian nasional semakin terpuruk karena akibat investasi sektor riil kian menurun dan dampak selanjutnya akan menghambat laju konsumsi dan penurunan daya beli masyarakat.

Related posts