Mengukur Keberlanjutan dan Reaksi IHSG

Dampak Kenaikan BBM

Kamis, 20/11/2014

NERACA

Jakarta – Kebijakan pemerintah non populis menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi selalu menuai pro dan kontra karena multiplayer effectnya terhadap kebutuhan pokok masyarakat. Hal inilah yang melandasi sebagian kalangan menolak kenaikan harga BBM lantaran dampaknya bakal menurunkan daya beli masyarakat hingga menambah angka kemiskinan baru. Namun pil pahit ini, perlu dilakukan dengan alasan menyelamatkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang terbebani besarnya subsidi yang dinilai tidak tepat sasaran hingga memicu defisit anggaran.

Maka alasan inilah yang menjadi pertimbangan pelaku pasar modal dengan merespon positif kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Bahkan kondisi ini menjadi euforia terhadap laju indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang langsung melesat tajam hingga menembus ke level 5.102,469 pada perdagangan saham Selasa,”Pergerakan harga saham di bursa merupakan sebuah ekspektasi. Pasca kenaikan BBM, ada ekspektasi positif dari pelaku pasar saham terhadap ekonomi Indonesia ke depan,”kata Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI, Samsul Hidayat di Jakarta, Rabu (19/11).

Menurut dia, dipangkasnya subsidi BBM yang cenderung konsumtif dan dialihkan ke sektor yang lebih produktif seperti pembangunan infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan dapat mendorong ekonomi Indonesia menjadi lebih baik. Dirinya menuturkan, secara keseluruhan dampak dari BBM itu akan baik untuk ekonomi Indonesia dan pasar modal ke depannya, meski dalam jangka pendek akan mendorong inflasi namun diperkirakan hanya jangka pendek.

Kendati demikian, Samsul Hidayat mengatakan bahwa pergerakan indeks BEI tidak terlepas dari faktor teknikal. Fluktuasi indeks BEI juga bisa dipengaruhi beberapa faktor termasuk kondisi perekonomian global,”Setelah mengalami kenaikan, namun kalau secara teknikal turun atau muncul sentimen negatif lain, ya saham juga bisa turun," katanya.

Terkait kebijakan Bank Indonesia yang menaikan tingkat suku bunga (BI rate) sebesar 25 bps menjadi 7,75%, kata Samsul, itu merupakan reaksi BI untuk menjaga inflasi pasca kenaikan BBM subsidi,”Diharapkan investor tidak melihat sepotong-sepotong terhadap kebijakan BI itu, naiknya BI rate merupakan antisipasi inflasi ke depan,”ungkapnya.

Sementara analis Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya mengatakan, masih menguatnya indeks BEI seiring dengan investor asing yang kembali mengambil posisi beli, merupakan sinyal bahwa tingkat kepercayaan investor masih cukup tinggi terhadap ekonomi dan pasar modal Indonesia.

Kenaikan BI Rate

Apalagi, lanjut dia, cukup sigapnya pemerintah merespon kenaikan BBM subsidi dengan menjaga harga bahan pokok, serta Bank Indonesia yang mengubah tingkat suku bunga acuan menjadi 7,75% untuk menjaga inflasi menambah kepercayaan pasar,”Pemerintah cukup sigap dalam menjalankan perekonomian hingga saat ini, kondisi itu membuat IHSG dalam jangka pendek masuk dalam pola tren penguatan,”paparnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Riset Woori Korindo Securities, Reza Priyambada, masih menguatnya indeks BEI pada perdagangan Rabu ditengah pasar saham Asia yang bergerak cenderung mendatar adalah sikap investor yang masih merespon positif kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi.

Dia menambahkan setelah kenaikan BBM itu, pemerintah dapat menjaga pasokan barang dan bahan makanan agar tidak terjadi lonjakan yang signifikan. Di sisi lain, alokasi dana ke beberapa sektor diantaranya infrastruktur, kesehatan, konstruksi, dan sektor-sektor produktif lainnya segera terealisasi. Kendati demikian, menurut dia, secara teknikal kenaikan indeks BEI juga menyimpan potensi untuk berbalik arah ke area negatif menyusul sebagian investor yang mulai mengambl posisi ambl untung.

Diakhir perdagangan Rabu, IHSG ditutup menguat 25,464 poin (0,50%) ke level 5.127,933. Sementara Indeks LQ45 ditutup tumbuh 4,652 poin (0,53%) ke level 881,238. Transaksi investor asing sore tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 424,214 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 239.613 kali dengan volume 5,836 miliar lembar saham senilai Rp 5,752 triliun. Sebanyak 193 saham naik, 107 turun, dan 86 saham stagnan. Rata-rata bursa di Asia menutup perdagangan dengan negatif, berbeda dengan BEI yang bertahan di zona hijau. Pasar saham Singapura yang berhasil ditutup positif. (bani)