Pasar Keuangan Indonesia Masih Terhambat - Surabaya, Jawa Timur

NERACA

Surabaya -Ekonom Standard Chartered Bank Indonesia, Alexander Eric Sugandi, memprediksi kondisi pasar keuangan Indonesia hingga tahun depan masih mengalami banyak hambatan dan akan berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)."Salah satu faktor yang cukup dominan adalah kekhawatiran kenaikan suku bunga yang akan diberlakukan oleh Amerika yang lebih cepat dibanding ekspektasi pasar," katanya, di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (19/11).

Menurut dia, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan masih akan mencapai di posisi Rp12 ribu per dolar AS sampai pertengahan tahun depan."Sementara pada tahun 2009-2010, banyak uang dari negara maju yang mengalir dan masuk ke 'emerging market' seperti Indonesia karena negara-negara maju tersebut mengalami krisis," ujarnya.

Kalau saat ini, jelas dia, kondisi perekonomian Amerika sudah mulai pulih. Dengan begitu ada kekhawatiran pasar Amerika akan segera menaikkan suku bunganya. Apalagi suntikan dana dari Bank Central Amerika Serikat (The Fed) juga sudah mulai dikurangi dan berakhir di November 2014.

"Hal itu akan menjadi tekanan, tidak hanya kepada rupiah tetapi juga kepada 'emerging market' yang lain," tambah Eric.Selain itu, kata dia, faktor lain yang ikut menekan nilai tukar rupiah adalah defisit transaksi berjalan Indonesia. Apalagi kebijakan Bank Indonesia tidak sangat ketat untuk mempertahankan nilai tukar rupiah di level tertentu.

"Gaya Gubernur Bank Indonesia saat ini (Agus Martowardojo) sangat berbeda dengan sebelumnya (Darmin Nasution). Dia (Agus Marto) masih bisa mentolelir pelemahan rupiah selama masih berjalan pada fundamental," kata Eric.Penyebabnya, sebut dia, dengan pelemahan rupiah maka impor akan melambat karena biaya impor semakin tinggi. Bahkan, kondisi itu juga mengakibatkan ekspor akan lebih kompetitif khususnya untuk impor nonmigas. [ardi/ant]

BERITA TERKAIT

Keuangan PLN dan Pertamina Jadi Fokus Pemerintah - HARGA MINYAK DUNIA MELAMBUNG TINGGI

NERACA Jakarta – APBN 2018 menetapkan asumsi harga minyak sebesar US$48 per barel. Akan tetapi, harga minyak dunia yang menjadi…

Presiden ke-3 RI - Sasaran Reformasi Masih Jauh

Bacharuddin Jusuf Habibie Presiden ke-3 RI  Sasaran Reformasi Masih Jauh  Jakarta - Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie mengatakan reformasi…

Sistem OSS Potong Jalur Birokrasi Izin - MASIH MENUNGGU LANDASAN HUKUM PP

Jakarta- Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai, penyederhanaan regulasi perizinan melalui online single submission (OSS) diharapkan mampu memotong jalur…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Kebutuhan Uang Tunai Lebaran Rp 188,2 Triliun

      NERACA   Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia Rosmaya Hadi memperkirakan kebutuhan uang tunai selama periode Ramadhan…

OJK : Tidak Ada Penarikan Simpanan Besar-Besaran

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak mendeteksi adanya potensi penarikan dana simpanan nasabah secara besar-besaran,…

Akuisisi Muamalat oleh BRI Tanpa Intervensi

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan bahwa pihaknya dan pemerintah selama ini tidak pernah mengintervensi…