Menko Akui Ekonomi Tengah Terpuruk

Kamis, 20/11/2014

NERACA

Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan saat ini bukan waktu yang tepat menjadi seorang menteri ekonomi. Sebab, kondisi perekonomian dunia khususnya Indonesia tidak terlalu baik. Sehingga akan banyak tantangan dalam menghadapi permasalahan tersebut.

"Pertama saya ingin ceritakan saat ini bukan waktu yang tepat untuk jadi menteri ekonomi apalagi menko perekonomian," ucap Sofyan Djalil, di Jakarta, Rabu (19/11).

Sofyan menambahkan saat ini kondisi eksternal tidak terlalu baik. Pertumbuhan ekonomi China juga tidak sebagaimana yang di ekspektasi banyak orang. Kemudian harga komoditi tidak sesuai ekspektasi."Di dalam negeri banyak masalah yang pemerintah harus atasi karena akan ada defisit, twin defisit dan current account," ungkap Sofyan.

Sofyan menjelaskan bahwa sudah beberapa kuartal perekonomian Indonesia mengalami defisit dan belum kembali normal. Salah satu penyebabnya terlalu besar spend untuk subsidi minyak.

Seperti diketahui, tahun 2014 ini memang pertumbuhan ekonomi internal sedang menurun, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2014 sebesar 5,01 persen dibanding periode sama tahun lalu.Angka ini lebih rendah dari pertumbuhan kuartal II yang mencapai 5,12 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi kuartal III dibanding kuartal II tahun ini (q2q) tumbuh 2,96 persen.

“Secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia dari kuartal I-2014 ke kuartal III-2014 tumbuh 5,11 persen,” kata Kepala BPS Suryamin.

Ia menyampaikan, nilai produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada kuartal III-2014 mencapai Rp 2.619,9 triliun. Sementara itu, PDB atas dasar harga konstan (tahun 2000) Rp 745,6 triliun.

Untuk diketahui BPS melaporkan PDB atas dasar harga berlaku pada kuartal III-2014 sebesar Rp 2.483,8 triliun, dan PDB atas dasar harga konstan (2000) sebesar Rp 724,1 triliun.

Suryamin menjelaskan, ada tiga sektor ekonomi yang tumbuh tinggi pada kuartal III-2014, yakni pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan; sektor jasa-jasa; serta,sektor konstruksi. Secara Q2Q, sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan tumbuh 6,74 persen.

Suryamin menyebut, salah satu penyebabnya adalah berakhirnya musim hujan, sehingga mendorong produksi tanaman bahan makanan seperti jagung, ketela pohon dan kedelai. Di sektor perikanan, upaya pemerintah merevitalisasi tambak juga mendorong pertumbuhan sektor ini. Adapun subsektor peternakan juga tumbuh didorong masa-masa Lebaran sehingga mendorong produksi.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sektor jasa-jasa tumbuh 3,71 persen disebabkan adanya pengeluaran pemerintah untuk gaji ke-13 yang diberikan pada periode kuartal III-2014. Selain itu, tahun ajaran baru, puasa, dan Lebaran menyebabkan ramainya tempat hiburan, dan mendorong pertumbuhan sektor jasa-jasa. “Konstruksi tumbuh 3,27 persen, karena adanya pembangunan infrastruktur, pertokoan,dan sebagainya,” imbuh dia.

Suryamin menuturkan, pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal III-2014 tidak lepas dari pengaruh perekonomian global, di mana Tiongkok dan Jepang, dua negara mitra dagang utama RI mengalami perlambatan ekonomi. [agus]