Penurunan Harga Minyak Dunia Harus Dimanfaatkan

Pro Kontra Kenaikan BBM Subsidi

Kamis, 20/11/2014

NERACA

Jakarta-Pro-kontra kenaikan harga BBM di tengah turunnya harga minyak dunia, mandapat tanggapan dari periset bidang energi Network of Market Investor (NMI) Franky Rivan. Menurutnya saat ini memang menjadi momentum yang tepat untuk menaikkan harga BBM. “Pemerintah harus segera memanfaatkan hal ini. Kalau tidak, momentum langka harga minyak yang sedang terjun payung sekarang bisa terlewati," ujar dia sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis yang dikutip Neraca, Rabu (19/11).

Franky melanjutkan, di Indonesia harga Pertamax yang mengikuti harga minyak dunia masih dijual dengan harga kira-kira Rp 11.000 per liter. Dan harga premium bersubsidi dijual diharga Rp 6.500 per liter. "Jika mengikuti logika diatas, maka pencabutan total subsidi BBM akan sangat mudah dilakukan. Tidak perlu pelan-pelan mengurangi subsidi, pemerintah harus mencabut subsidi BBM hingga nol rupiah dan segera alokasikan untuk bidang infrastruktur," jelasnya.

Franky membeberkan logika sangatlah tidak logis apabila harga minyak mentah dunia yang anjlok saat ini namun pemerintah tetap mensubsidi harga BBM. Jika harga minyak berlanjut turun hingga 30USD/barrel seperti yang diprediksi Raoul Pal dari Global Macro Investor, maka pemerintahan Jokowi sekarang tidak perlu takut untuk menjadi tidak populer.

Periset bidang energi Network of Market Investor (NMI) ini mengilustrasikan, jika pemerintah menaikkan harga sebesar Rp 1.500 per liter, dana subsidi yang diberikan pada 2015 mencapai Rp 75 triliun. Ditambahkannya, saat ini sudah sedikit sekali negara yang memberikan subsidi kepada fossil fuelnya. Kalaupun ada, subsidi tersebut terbukti tidak efektif dalam memberikan kemakmuran. Misalnya Iran, beban subsidi BBM mereka sudah berkisar US$ 80 miliar atau sekitar Rp 880 triliun.

Koefisien gini atau tingkat pemerataan Iran adalah sebesar 44,5 yang artinya sangat tidak merata, hampir mendekati Zimbabwe dengan koefisien gini sebesar 50,1. Lalu Rusia dengan beban subsidi BBM yang berkisar US$ 39,3 miliar atau sekitar Rp 432,3 trilliun. Koefisien gini mereka sebesar 42,0 yang juga artinya sangat tidak merata.

Bagaimana dengan Indonesia? Dengan beban subsidi BBM sebesar Rp 210,735 trilliun, koefisien gini nasional kita di angka 36,8. Disinilah muncul persoalan serius, subsidi yang ditujukan agar ’membantu’ golongan kurang mampu, malah menjadi bumerang yang membuat si kaya bertambah kaya.

Franky Rivan memberikan ilustrasi harga BBM ritel di Amerika saat ini sekitar 2,9 - 3,1 USD per gallon termasuk 13% pajak. Apabila unsur 13% pajak tersebut dihilangkan, anggap harganya di 2,7 USD/gallon. Dengan asumsi 1 USD = 12.000 IDR dan 1 gallon = 3,8 liter, maka harganya setara dengan Rp 8526/liter. Harga Rp 8526/liter tersebut sudah termasuk keuntungan pemilik POM bensin yang bersangkutan, dan bahkan biasanya sudah termasuk kupon diskon beli makanan ringan di supermarket POM bensin tersebut.

"Sudah jelas kita ketahui bahwa biaya gaji pegawai, biaya sewa, biaya logistik, dan biaya-biaya lainnya di Amerika jauh lebih mahal daripada di Indonesia. Dengan biaya-biaya tersebut saja, Amerika bisa menjual BBMnya dengan harga Rp 8526/liter," tambahnya.