Waspadai Musibah Demografi

Kamis, 20/11/2014

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Industri dan Perdagangan

Mendidik dan melatih kepada mereka yang berbakat adalah suatu investasi jangka panjang yang perlu dilakukan oleh negara bila ingin bebannya diringankan. Negara perlu mencetak sebanyak mungkin para warga negaranya yang berusia muda untuk menjadi majikan penggerak kegiatan ekonomi produktif di berbagai bidang sesuai dengan bakat dan minatnya. Progam ini menjadi amat krusial manakala Indonesia akan mendapatkan bonus demografi.

Oleh sebab itu, bonus demografi harus dimanfaatkan dengan tepat. Bonus demografi harus difahami sebagai suatu kondisi dimana pemerintah mendapatkan suatu anugrah, tetapi bila anugrah tersebut tidak diurus dengan baik akan berpotensi menjadi "bencana", karena berarti bangsa ini tidak akan naik kelas dan tetap terbelenggu dalam kelompok berpenghasilan menengah. Bencana ini kita sebut sebagai musibah demografi.

Ada sejumlah agenda prioritas pemerintah yang secara umum kita nilai baik untuk mencegah terjadinya "musibah" demografi. Antara lain adalah "meningkatkan kualitas hidup manusia", meningkatkan produktifitas rakyat dan daya saing internasional", dan "melakukan revolosi karakter bangsa". Dalam kaitan ini, maka nampaknya pemerintah harus punya fokus kebijakan dan progam yang tepat untuk menciptakan golongan kelas menengah baru sebagai majikan-majikan baru yang merupakan hasil penyelenggaraan progam pendidikan dan pelatihan kewirausahaan.

Bangsa ini jika ditemu kenali bakat dan minatnya dan proses penjaringannya dilakukan dengan tepat. Kita akan memperoleh bibit-bibit unggul calon-calon majikan masa depan untuk menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi di masa depan. Majikan yang seharusnya kita cetak, meskipun kita tidak menafikan untuk mencetak pula calon-calon karyawan yang kompeten dan profesional agar secara bipatrit dapat bekerjasama dengan para majikan memproduksi barang dan jasa yang berkualitas dan berdaya saing untuk mencukupi kebutuhan masyarakat, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Konsep-konsep pembangunan ekonomi yang berorientasi pada penguatan kedaulatan dan kemandarian dengan demikian harus difahami dalam satu konstruksi tatanan yang secara inklusif membuka akses yang luas untuk mencetak kelas menengah baru sebagai pelaku utama kegiatan bisnis di negeri ini. Upaya ini adalah hal yang bersifat strategis untuk dilakukan oleh sebuah negara yang mempunyai jumlah penduduk besar, dan pada saat yang sama mendapatkan anugrah bonus demografi.

Mendorong kawula muda untuk tidak akan pernah masuk ke pasar tenaga kerja guna mencari pekerjaan dari siapapun; dan mendorong mereka menjadi penyedia pekerjaan adalah merupakan bagian dari revolosi karakter bangsa yang harus dilakukan oleh pemerintah bersama dengan DPR di masa depan.

Konsep kedaulatan dan kemandirian ekonomi, arus utama kebijakannya adalah terletak pada penguatan pada sisi subyek (saya, kami, kita), bukan terletak pada faktor obyeknya (batubara, sawit, karet, singkong, jagung, dsb). Jadi revolusi karakter ada pada posisi penguatan subyek yang harus diberikan stimulasi fiskal dan moneter agar mereka mampu mengkapitalisasi nilai tambah pada obyeknya.