2015, Defisit APBN Diproyeksikan 2,2%

Kenaikan BBM Subsidi

Rabu, 19/11/2014

NERACA

Jakarta - Menteri Keuangan Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menjelaskan, desifit dalam APBN di tahun 2015 bisa lebih rendah dari target sekarang ini. "Defisit APBN 2015 bisa diturunkan dari yang awalnya 2,2 persen. Diharapkan bisa mencapai di bawah 2,2 persen," jelas dia , di Jakarta, Senin (17/11).

Presiden Jokowi telah menaikanharga BBMsebesar Rp2.000 per liter. Alhasil,harga BBMjenis premium mencapai Rp8.500 per liter dari awalnya Rp6.500. Sementara harga solar menjadi Rp7.500 per liter dari awalnya Rp5.500.

Kenaikanharga BBM subsidiresmi berlaku mulai pukul 00.00 WIB, Selasa 18 November 2014. Dia juga menjelaskan, pemerintah menghemat anggaran sebesar Rp120 triliun dari kenaikan harga BBM subsidi. "Untuk tahun 2014 ini, kita mendapat dana untuk dialokasikan ke sektor produktif sebesar Rp120 triliun. Itu untuk tahun ini saja," jelas Bambang .

Dana ini, kata dia, akan dialokasikan untuk mewujudkan visi misi Presiden Jokowi. Dia menjelaskan, penetapan besaran penurunan harga BBM ini juga memperhatikan dua hal.

Sebelumnya Chatib Basri yang juga mantan Menteri Keuangan era kepemimpinan SBY juga memprediksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2015 berada di bawah angka 2,5 persen. Ia mengatakan besaran defisit anggaran ini akan tergantung pada kebijakan yang diambil oleh pemerintahan baru, terutama terkait dengan subsidi bahan bakar minyak. "Saya hanya bisa mengasumsikan bahwa pemerintah baru denganbase line.Kalaubase lineitu padarange1,7-2,5 persen," kata Chatib.

Dia mengatakan kebijakan yang dipilih pemerintah baru, terutama ihwal BBM bersubsidi, akan mempengaruhi jumlah defisit APBN 2015. "Tapi bila pemerintah baru mengambil kebijakan dengan menurunkan subsidi BBM, defisitnya bisa di bawah 1,7 persen. Bahkan bisa di bawah 1,5 persen," katanya.

Tahun ini, pemerintah memproyeksikan defisit APBN 2014 akan berada pada angka 2,6 persen. Chatib mengatakan, dengan kembali berjalannya ekspor mineral Indonesia, defisit APBN diprediksi bisa jauh lebih kecil menjadi 2,4 persen.

Namun begitu, menurutnya penyebab defisit tersebut karena penurunan target pendapatan negara yang tidak sebanding dengan kenaikan beban belanja negara. Hal ini termasuk termasuk tambahan alokasi untuk anggaran pendidikan.

Menurut Menteri Keuangan, Chatib Basri, defisit APBN tahun 2014 yang semula ditargetkan sebesar 1,69% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB),berpotensi membengkakmenjadi lebih dari 3,0% terhadap PDB.

Hal tersebut berarti melebihi ambang batas maksimum defisit sebesar 3,0% dari PDB, sebagaimana tercantum pada Pasal 12 Ayat (3) UU no. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

"Untuk itu, perlu dilakukan langkah-langkah pengendalian dan pengamanan pelaksanaan APBN, dengan menjaga defisit dalam batas yang aman," katanya. [agus]