Perlu Fokus Untuk Rajai Fasyen Muslim Dunia

Rabu, 19/11/2014

NERACA

Jakarta - Indonesia memiliki potensi untuk merajai ekspor fesyen muslim dunia. Ini bisa dilihat dari menjamurnya desainer busana Muslim di Indonesia berikut variasi produk-produknya. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) AAGN Puspayoga menuturkan, Indonesia bisa menjadi raja ekspor busana Muslim dengan satu syarat. "Business follow the people," katanya di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Artinya, produk fesyen Muslim harus serius menyasar negara-negara yang memiliki penduduk Muslim. Puspayoga menambahkan selama ini belum ada negara yang menjadi pionir dalam ekspor busana Muslim. Oleh karenanya ini merupakan kesempatan yang baik bagi Indonesia untuk mengambil peluang pasar yang belum banyak digarap.

Lebih lanjut ia mengatakan koperasi dan UKM memiliki peranan yang strategis dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ketahanan ekonomi negara tecermin dari kuat tidaknya sektor koperasi dan UKM. "Kalau ketahanan ekonomi lemah maka koperasi dan UKM tidak akan berjalan dengan baik," tambahnya.

Ia mencontohkan pada periode 1992-2000 presiden Bill Clinton membuat program yang bernama Small Business Administration. Program itu merupakan bantuan dan pendampingan kepada UKM di AS. Hasilnya, melalui program ini perekonomian AS tumbuh dengan baik. Bahkan sejarah mencatat masa itu menjadi masa di mana pertumbuhan ekonomi AS mencapai titik tertinggi.

Perekonomian Indonesia memiliki peluang besar untuk tumbuh karena jumlah UKM yang sangat besar mencapai 57 juta UKM. Ironisnya, jurang pemisah antara golongan kaya dan miskin makin lebar. "Inilah tanggung jawab kita bersama bagaimana agar koperasi dan UKM dapat berperan besar dalam pembangunan nasional sehingga mampu memberikan pemerataan pembangunan dan pendapatan," pungkasnya.

Kiblat Fesyen

Indonesia digadang-gadang bakal menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada 2020 sehingga perlu memiliki merek terkenal yang berjual tinggi di mata internasional. "Pelaku fesyen muslim harus belajar membuat merek yang punya daya jual tinggi," kata Direktur Pengembangan Produk Ekspor Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Sulistyawati.

Dikatakan, Kementerian Perdagangan berharap fesyen muslim Indonesia segera memiliki berbagai brand terkenal yang bernilai jual tinggi demi mewujudkan target menjadi kiblat fesyen muslim global pada 2020. Dikatakan kontribusi dari bidang fesyen pada 2013 mencapai nilai Rp183 triliun serta menciptakan lapangan tenaga kerja untuk 3,8 juta orang.

Salah satu upaya menciptakan ekosistem fesyen yang kondusif adalah melalui "Fashionlink" yang dibuat oleh salah satu grup media dan didukung Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. "Ini merupakan penghubung para perancang busana, pengecer dan konsumen di lingkup lokal dan internasional. Di sini mereka dapat terhubung dengan pihak-pihak dari perusahaan tekstil, pakaian jadi dan manufaktur sehingga tercipta jaringan yang kuat," katanya.

Bahkan salah satu desainer yang ikut terjun langsung di industri fesyen dan founder www.hijup.com Diajeng Lestari menyatakan bahwa target Indonesia menjadi kiblat tren busana Muslim dunia pada 2020 sepertinya terbuka lebar. Hal ini terlihat dari banyaknya desainer muda yang bertumbuhan. "Bibit baru menambah semarak dunia fesyen Indonesia," katanya.

Naiknya angka desainer muda yang bermunculan terlihat dari jumlah tenan di online shopping tersebut. Bakat dan talenta para desainer muda dalam negeri juga mendukung kedudukan Indonesia bersaing dengan bangsa lain. Sebut saja Ria Miranda yang selalu menghadirkan koleksi baru tiap tahun.

Atau nama lain seperti Dian Pelangi yang sering melenggang di kancah peragaan busana luar negeri. Kemampuan para seniman busana ini tidak kalah dengan desainer internasional lainnya. Diterimanya karya mereka oleh dunia membuat Indonesia semakin kuat.

Kuatnya tren busana Muslim di Indonesia berkat dukungan pemeluk Islam sebagai penduduk mayoritas. Fenomena hijab yang sudah mulai menjamur di masyarakat menjadi bukti kuat. Mereka selalu mencari model baru dalam membeli baju. "Konsumen Indonesia juga tergolong mampu dalam belanja busana," lanjut Diajeng.

Pasar yang besar membuat negara lain, terutama Asia, melirik Indonesia. Mereka beberapa kali hadir dalam pekan mode yang diselenggarakan Indonesia. Agar tidak kecolongan, kata dia, sebaiknya Indonesia harus terus berbenah diri. Perkembangan mode sangat cepat berganti. Mempersiapkan para desainer dan membimbing untuk terus membawa nama Indonesia dalam dunia mode dunia. Sebab ancaman perebutan gelar 'kiblat mode' busana Muslim dunia mulai menjadi kompetisi.

Sebut saja Dubai yang mulai peduli dengan fesyen Muslim di negaranya yang mulai berkembang. "Pemerintah harus segera ambil andil dalam urusan ini. Jika tidak, negara lain akan segera menyusul Indonesia," jelas Diajeng.

Salah satu contoh berkembangnya industri fesyen muslim di dunia adalah di Australia. Saat ini, permintaan busana Muslimah di Australia terus meningkat. Tak heran, bila bisnis busana Muslim mengeliat. Hijab House merupakan salah satu label busana Muslim mendapatkan momentum itu. Mereka kini menjadi label populer yang mendapatkan pengakuan nasional dan internasional.