BBM Naik, Kinerja Astra Otoparts Masih Solid

Rabu, 19/11/2014

NERACA

Bogor – Kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mendapatkan pro dan kontra dari masyarakat lantaran dampak dari multiplayer effectnya terhadap kenaikan harga barang dan termasuk cost produksi. Namun kebijakan ini, direspon dingin PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) lantaran dampaknya tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja perseroan.

Direktur PT Astra Otoparts Tbk Djangkep Budi Santoso mengatakan, karena perseroan sudah tidak lagi menggunakan BBM bersubsidi, melainkan menggunakan BBM untuk industri. Maka kenaikan BBM tidak memberikan dampak yang berarti,”BBM secara umum pabrik tidak pakai BBM subsisdi. Kita sudah pakai BBM industri. Dampak langsung tidak besar,”ujarnya di Bogor, kemarin.

Lebih lanjut, Djangkep menuturkan biaya produksi perseroan lebih besar dipengaruhi oleh biaya impor komponen serta kenaikan upah minimum pekerja (UMP)."Kenaikan harga BBM, dari pengalaman kami selama ini, kinerja kami lebih banyak dipengaruhi masalah impor komponen yang memakan 60-70% biaya produksi dan kenaikan signifikan UMP. BBM ada pengaruhnya, tapi kecil," jelasnya.

Seperti diketahui, pemerintah baru saja memutuskan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 2.000 per liter sehingga harga BBM bersubsidi jenis premium menjadi sebesar Rp 8.500 per liter dari Rp 6.500 per liter. Sedangkan, BBM bersubsidi jenis solar menjadi Rp 7.500 per liter dari Rp 5.500 per liter.

Asal tahu saja, perseroan tengah membangun pabrik baru guna memperbesar kapasitas produksi. Disebutkan, perseroan memperkirakan pabrik baru di Subang, Jawa Barat akan mulai beroperasi pertengahan tahun 2015. Direktur Otoparts Robby Sani pernah bilang, saat ini pembangunan pabrik yang berlokasi di Subang masih berlangsung.

Perseroan memang saat ini tengah menyelesaikan pembangunan beberapa pabrik yang diresmikan pada 2013. Salah satunya yang bekerja sama dengan perusahaan asal Italia, PT Evoluzione Tyres,”Kebetulan minggu lalu baru dapat kunjungan dari Italia. Pembangunan pabrik masih berlangsung dan sesuai jadwal, pertengahan 2015 mass production akan dimulai,”ujarnya.

Menurutnya, selain pabrik di Subang tersebut, Otoparts telah selesai melakukan pembangunan pabrik dari PT GS Battery di Semarang. Uji coba produksi telah dilakukan pada Juni 2014. Selain itu pembangunan pabrik ketiga PT Denso Indonesia telah selesai pada Maret. Sejak April 2014, pabrik ketiga milik Denso ini telah beroperasi dan rencananya akan diresmikan pada 2015.

Kemudian dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja PT Astra Otoparts Tbk. Pasalnya, dampak melemahnya rupiah, laba perseroan pun tercatat mengalami penurunan di tahun 2013 sebesar 6,7%. Dimana perolehan laba tersebut menjadi Rp1,058 triliun dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,135 triliun. Kendati laba turun, namun pendapatan bersih perseroan masih naik menjadi Rp10,701 triliun pada periode Desember 2013 dibandingkan dengan periode sama tahun 2012 sebesar Rp8,277 triliun. (sahlan)