Bisnis Kerajinan Makin Bertumbuh

Rabu, 19/11/2014

NERACA

Jakarta - Upaya membantu menghadirkan aneka produk kerajinan daerah, pusat belanja Thamrin City Jakarta terus melengkapi keberadaanya sebagai pusat perdagangan di Ibukota. Sejumlah pengusaha mengakui keberhasilan bisnisnya setelah bergabung di pusat belanja tersebut.

Adapun kemajuan usaha kerajinan mulai dirasakan oleh Subur, pelaku usaha kerajinan khas Yogyakarta. Usaha kerajinannya yang berbasis di Krebet, Bantul, Yogyakarta itu, kini semakin maju setelah empat tahun bergabung di Thamrin City.

Toko Subur Craft miliknya yang terletak di lantai dasar 1 Thamrin City, kata Subur, menjual aneka kerajinan khas untuk souvenir kantor, sekolah dan barang multifungsi. “Semua barang kerajinan diproduksi di Yogyakarta dengan bantuan tenaga pengrajin lokal, di Jakarta hanya untuk pemasaran saja,” ujarnya.

Keinginan yang bersangkutan menembus pasar Jakarta akhirnya tercapai setelah mendapatkan ajakan bergabung dari Thamrin City. Kini, kata Subur, tokonya yang berlokasi di zona Pusat Batik Nusantara, di area batik Yogyakarta pun mulai ramai oleh pengunjung yang mencari aneka kerajinan Yogyakarta . Omset penjualan pun berkisar Rp 25 juta hingga Rp 30 juta per bulan. “Kami menjual dengan harga paling murah Rp 10.000 hingga Rp 500.000 per satuan barang,” katanya.

Di tokonya, bisa dijumpai aneka produk kerajinan topeng, sepeda tembaga, becak silver, wayang kayu, gantungan kunci, canting dan klontongan bambu. “Pembelian dalam jumlah besar harus dipesan terlebih dahulu,” tandasnya.

Pengusaha lainnya yang menikmati kemajuan usaha juga dialami Moria Fatma. Pemilik usaha kerajinan Balimore yang menjual aneka aksesories etnik Bali di di Lantai 2 Blok A3 Thamrin City. Menurut dia, barang-barang aksesories seperti gelang, kalung, anting dan ikat rambut serta pernak pernik wanita yang dijual di tokonya itu semua diproduksi di Denpasar, Bali. Hargaya bervariasi antara Rp 30 ribu hingga Rp 100 ribu per satuan barang.

Dia mengakui, minat akan barang-barang aksesories etnik Bali sudah cukup tinggi di Jakarta. “Kami bisa mendapat omset Rp 30 hingga Rp 40 juta per bulan,” ungkapnya.

Menikmati hasil usaha berjualan aneka kerajinan Keris dari berbagai daerah di Indonesia juga dirasakan Febri, pemilik toko Java Antique Store di lantai Lantai 3 Blok A Thamrin City. Di toko ini bisa ditemui berbagai macam jenis Keris dari Madura, Kalimantan, Yogyakarta, Solo, Kediri, Lampung, Makasar dan lainnya. “Ada sekitar 250 jenis keris dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Febri.

Menurut Febri, aneka Keris yang dijual berharga Rp 1 juta hingga Rp 3 juta. Para pembeli yang datang berkunjung, menurut dia, umumnya para kolektor keris dan juga orang asing yang menggemari barang antik seperti keris. “Omset per bulan bisa mencapai Rp 100 juta,” katanya.

Menurut dia, Keris Madura diproduksi keluarganya secara turun temurun di Sumenep, sedangkan Keris yang lain dibeli dari para pengrajin dan kolektor di daerah. “Kemajuan usaha kami semakin berkembang sejak bergabung di Thamrin City,” ujarnya.

Menurut Lucy Ratna, Public Relations and Promotion Manager Thamrin City, hal ini merupakan bentuk komitmen pusat belanja di Jakarta, pekan ini.