BBM Naik, Penjualan Mobil Bakal Anjlok 15%

Rabu, 19/11/2014

NERACA

Jakarta – Pemerintah telah resmi menetapkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebesar Rp8.500 per liter untuk premium dan Rp7.500 untuk solar, artinya BBM mengalami kenaikan sebesar Rp2.000 per liternya. Dengan kenaikan tersebut, diperkirakan akan memberikan dampak terhadap sektor otomotif, salah satunya dengan penjualan otomotif yang diprediksi akan mengalami penurunan sebesar 15%.

Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra menjelaskan bahwa kenaikan BBM bersubsidi akan menurunkan penjualan mobil nasional sebesar 10-15%. “Naiknya harga BBM bersubsidi tentunya telah membuat pasar mobil nasional mengalami sedikit penurunan penjualan hingga 15%. Namun, efeknya baru akan terasa hanya 2 bulan sampai dengan 3 bulan,” kata Amelia, Selasa (18/11).

Pasar mobil nasional, menurut Amelia, akan kembali meningkat pada tahun depan. Daya beli masyarakat akan terus bertambah setelah melakukan penyusaian harga BBM bersubsidi. “Tahun depan pasar mobil akan sedikit naik untuk tipe-tipe mobil city car. Namun, pasar di dalam negeri diperkirakan stagnan dan menyentuh angka 1,2 juta unit,” paparnya.

Sedangkan Chief Executive Officer PT Astra International Tbk, Supranto mengatakan, kenaikan bbm bersubsidi tidak terlalu berpengaruh terhadap penjualan. Besarnya harga BBM bersubsidi, pasti dikonsumsi oleh masyarakat pengguna kendaraan roda empat. “Naiknya harga BBM bersubsidi jenis solar dan premium tidak berdampak pada penjualan. Efeknya hanya sementara dan masyarakat akan membeli BBM bersubsidi meskipun harganya melambung,” ujarnya.

General Manajer Eksekutif MMC divisi Pemasaran PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) Kosei Tamaki mengatakan Kondisi pasar mobil nasional yang tengah dilanda penumpukan stok yang besar semakin menyulitkan agen tunggal pemegang merek (ATPM) menghadapi pasar dalam beberapa bulan ke depan. “Beberapa bulan akan terganggu, prediksi pribadi saya kondisi negatif pasar akan berlangsung dalam tiga bulan, tetapi ke depan secara keseluruhan pasar (mobil nasional) akan tumbuh lagi,” jelasnya.

Tamaki menjelaskan, saat ini sejumlah pelaku bisnis di Indonesia termasuk dari otomotif masih menunggu terobosan apa yang akan diambil Presiden Joko Widodo. Tapi menggaris bawahi potensi besarnya pasar otomotif Indonesia juga tercermin dari banyaknya prinsipal dunia yang berbondong-bondong menanamkan modalnya ke dalam negeri. “Saya bukan cuma bilang prinsipal Jepang, tetapi Eropa, dan Amerika Serikat juga mulai menanamkan modalnya di Indonesia, saya yakin dalam jangka menengah pasar (Indonesia) harus tumbuh,” beber Tamaki.

Berdasarkan data lembaga riset Frost and Sullivan, penjualan mobil di Indonesia tahun ini bisa mencapai 1,3 juta unit, tumbuh tipis dibanding tahun lalu sebesar 1,2 juta unit. Proyeksi pertumbuhan tersebut diperkirakan terdorong oleh sejumlah faktor seperti pertumbuhan ekonomi antara 5,5% hingga 6% yang diharapkan berdampak pada peningkatan daya beli dalam negeri khususnya penduduk kelas menengah serta maraknya pemasaran produk mobil murah dan ramah lingkungan atau Low Cost and Green Car (LCGC).

Jangka Pendek

Sementara itu, Associate Director Fitch Ratings, Rufina Tam memperkirakan, penurunan penjualan mobil hanya jangka pendek, dan penjualan cenderung untuk pulih bersamaan dengan perekonomian Indonesia. “Semakin cepat pemerintah mampu menggeser penghematan dalam tagihan subsidi kepada sektor riil, semakin cepat itu akan membantu mendorong ekonomi,” ujarnya.

Ia menjelaskan kenaikan harga BBM bersubsidi akan mendorong inflasi dan mempertahankan suku bunga tinggi untuk setidaknya 12 bulan ke depan. Hal ini akan mengganggu daya beli konsumen dan memperlambat permintaan untuk pembelian mobil dan sepeda motor. Dengan sekitar dua per tiga dari pembelian mobil di Indonesia yang didanai oleh pembiayaan, maka biaya pinjaman yang lebih tinggi akan menyebabkan pembelian mobil ditunda.

Pada 2005, ketika pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar 88%, penjualan mobil turun lebih besar dari penjualan sepeda motor. Dalam 12 bulan setelah harga BBM bersubsidi dinaikkan, penjualan mobil turun 43% dari 12 bulan sebelumnya, sedangkan penjualan sepeda motor hanya turun 12%.

Sementara pada 2013 ketika pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar 44%, penjualan motor dan mobil tidak berdampak besar. Dalam hal ini, penjualan mobil berhasil tumbuh sebesar 7% dalam 12 bulan setelah kenaikan dari tahun sebelumnya, sedangkan penjualan sepeda motor naik 11%. Pertumbuhan penjualan selama periode ini mencerminkan peluncuran low cost green cars pada 2013 dan potongan harga oleh pemain otomotif.

Fitch berekspektasi bahwa kenaikan harga BBM memiliki dampak yang lebih besar pada penjualan mobil pada 2013, karena pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat. Fitch memperkirakan penurunan penjualan mobil lebih besar daripada penjualan sepeda motor. Konsumen cenderung menunda pembelian mobil, dan memilih sepeda motor yang harganya lebih terjangkau. Mengingat kurangnya infrastruktur publik, sepeda motor akan cenderung tetap menjadi sarana transportasi yang lebih populer.