SDM Handal Jadi Tantangan Pasar Modal

Hadapi Pasar Bebas MEA

Selasa, 18/11/2014

NERACA

Jakarta – Menyambut integerasi pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), daya saing menjadi tuntutan agar tidak tergilas dengan negara lain. Begitu juga halnya dalam industri pasar modal, dimana tuntutan efisiensi dan pembenahan sumber daya manusia (SDM) menjadi tantangan besar guna meningkatkan daya saing.

Country Head dan Chief Country Officer (COO) Citi Indonesia, Tigor M Siahaan mengungkapkan, pembenahan sumber daya manusia di industri pasar modal masih menjadi salah satu "pekerjaan rumah" menyambut integrasi pasar modal ASEAN pada 2015,”Pengelola investasi di luar negeri cukup maju, namun bukan berarti kita tidak maju tetapi banyak pekerjaan rumah yang kita mesti benahi salah satunya SDM, kita harus mempunyai SDM yang handal,"ungkapnya di Jakarta, Senin (17/11).

Dia menambahkan bahwa regulasi juga harus mendapatkan perhatian lebih dalam menyambut pasar bebas di tahun depan. Maka dengan begitu investor domestik yang akan melakukan investasi ke luar negeri akan merasa nyaman karena ada peraturan yang melindunginya,”Investasi asing yang masuk ke Indonesia atau kita yang keluar rambunya harus jelas. Bila nantinya ada sedikit penyimpangan, penanganannya seperti apa," katanya.

Untuk infrastruktur, lanjut dia, pasar modal Indonesia saat ini cukup gencar membangun infrastruktur agar konektifitas secara "on line" dan "real time" bisa lebih baik sehingga tidak kalah dengan bursa di kawasan regional. Sementara Direktur Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Heri Sunaryadi menambahkan bahwa pihaknya memiliki beberapa inisiatif untuk pengembangan infrastruktur pasar modal, salah satunya sinergi dengan perbankan sehingga akses masyarakat berinvestasi menjadi mudah,”Sinergi infrastruktur diperlukan agar pelaku pasar secara efisien dapat mengembangkan produk dan layanan jasa. Di sisi lain, tersedianya fasilitas perbankan melalui layanan perbankan diharapkan dapat menarik minat masyarakat dalam berinvestasi sehingga jumlah investor lokal meningkat," ujarnya.

Menurut dia, layanan perbankan sudah umum di masyarakat dan infrastruktur perbankan juga mudah digunakan sehingga dapat menunjang aktivitas di pasar modal dalam negeri. Masih dalam mengoptimalkan infrastruktur pasar modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan meluncurkan indeks harga surat utang atau "Bonds Index" yang dapat dijadikan acuan informasi bagi investor mengenai pasar obligasi negara maupun korporasi."Pasar obligasi kita kan kurang likuid, diharapkan dengan adanya 'bond index' menambah likuiditas, paling lambat awal Desember diluncurkan, sehingga dapat dijadikan acuan bagi investor," ujar Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal I OJK, Sardjito.

Dia menjelaskan, Bond Index itu layaknya pergerakan harga efek di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Untuk mewujudkan Bond Index, OJK bekerjasama dengan regulator lain, diantaranya Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan, Badan Kebijakan Fiskal (BKF), dan Dirjen Pajak."Tinggal finalisasi, yang dikaji cukup banyak. Diharapkan pasar obligasi bisa atraktif seperti halnya saham," ucapnya. (bani)